Memuliakan Ilmu

Jumat, 11 Feb 2022, 11:12 WIB
Memuliakan Ilmu
Ijazah Sanadan Kitab Ihya Ulumuddin dan Asmaul Husna Ya Hayyu Ya Qoyyum oleh Al-Mukarrom KH. Ahmad Arif Yahya (Dok. 2019)

Dalam memuntut ilmu, sebagai thalib (seorang pencari ilmu) diwajibkan menjunjung tinggi sesuatu yang berhubungan dengan ilmu, tak terkecuali dalam proses belajar. Seorang santri dilarang memegang kitab kecuali dalam kedadaan suci, terhindar dari hadast kecil maupun besar. Begitu mulianya ilmu di hadapan seorang thalib. Imam Syamsul A’immah al-Halwani pernah berkata: “aku mendapatkan ilmu ini bukan lain karena aku menghormatinya. Aku tak pernah menggambilnya kecuali dalam keadaan suci”

Diceritakan bahwa Imam Sarkhasi pernah sakit perut, akan tetapi beliau tetap selalu mengulang-ngulang belajarnya, dan wudhunya, hingga tujuh belas kali dalam satu malam tersebut. Disebabkan prinsip beliau, yakni tidak mau belajar kecuali dalam keadaan suci. Di sisi lain, ilmu merupakan cahaya, dan wudhu juga termasuk cahaya, maka cahaya ilmu tidak akan bertambah kecuali dengan berwudhu. Oleh karena itu, kenapa perilaku ustadz, murabbi, maupun kiai ketika mau mbalang (mengajar) selalu berwudhu terlebih dahulu, di lain sisi memuliakan ilmu, juga menambah cahaya ilmu tersebut.

Terlepas dari semua itu, seorang thalib juga harus mengetahui adab memuliakan kitab. Adapun memuliakan kitab yakni larangan untuk meletakkan kitab di dekat kakinya ketika duduk bersila. Di samping itu, meletakkan kitab sesuai dengan jenis kitabnya, misalnya meletakkan kitab suci al-Qur’an maupun kitab tafsir di atas kitab-kitab lainnya, dan tidak meletakkan sesuatu di atas kitab. Pernah diceritakan, ketika ada seorang ahli fiqih meletakkan wadah tinta di atas kitab, lalu Syekh Burhanuddin al-Zarnuji -pengarang Kitab Ta’lim Muta’allim- berkata kepada ahli fiqih tersebut, “anda tidak akan memperoleh manfaat dari ilmu”. Akan tetapi Imam Qadhikhan berkata lain bahwa, “perbuatan tersebut (meletakkan sesuatu di atas kitab) tidak bermaksud meremehkan isi kitab tersebut, maka tidak apa-apa, tetapi sebaiknya diletakkan di tempat lain”. Begitu berhati-hatinya ulama dahulu, menjaga tingkah maupun laku dalam mencari ilmu.

Mudah-mudahan kita bisa senantiasa meneladani kisah-kisah ulama’ terdahulu. Dan tak lupa, semoga kita selalu dicurahkan kemudahan, diluaskan pikiran, dan selalu diberi keistiqomahan dalam mencari ilmu. Wallahu a’lam Bishowab

 

 

*) Disarikan dari pengajian Kitab Ta’lim Mutaallim oleh Gus Yasin Fuadi bin Abdurrachim Yahya

Thalabul ilmi  Pondok Gading  Kitab Taklim Muta'allim  Gus Fuad Abdurrochim Yahya 
Tim Redaksi

Tim redaksi website PPMH

Bagikan