Senin, 16 Ags 2021, 08:45 WIB

KH. Muhammad Yahya, Ulama yang Berjuang dan Merebut Kemerdekaan

Bagikan

KH. Muhammad Yahya, Ulama yang Berjuang dan Merebut Kemerdekaan
Garuda Pancasila, Lambang Negara Indonesia

Masa perjuangan pra-kemerdekaan Republik Indonesia telah diinisiasi oleh masyarakat pribumi. Tidak hanya kalangan elit, namun seluruh lapisan masyarakat. Termasuk Almaghfurlah KH Muhammad Yahya, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda (PPHM) periode keempat, ikut berjuang melawan penjajahan.


Pengasuh Pondok PPHM Gading Kota Malang, KH Ahmad Muhammad Arif Yahya mengungkapkan, pada zaman perang gerilya perhatian Belanda sangat intens kepada pondok-pondok pesantren. Karena menjadi basis markas menyiapkan strategi, pondok-pondok menjadi sasaran target operasi. "Sampai dibom tujuh kali, tapi tidak ada yang meletus. (Kejadian) di luar Malang, beliau tidak pernah memberitakan. Di Surabaya, Kalimantan, Sulawesi ada. (Kiai Yahya) memimpin, diminta membawa rajah campur hizib," kata KH Ahmad Muhammad Arif Yahya, ditemui di kediaman beliau, Ahad (14/8/2021).

Di sisi lain, KH Muhammad Yahya terjun langsung menurut kesaksian para pejuang tentara yang berada di lapangan. Tetapi berbeda dengan kesaksian istri beliau yang diungkapkan oleh putranya. "Abahmu gak nangdi-nangdi. Gak tau rono-rono, nek omah mulang, bengi mesti turu karo aku (Abahmu tidak kemana-mana, di rumah mengajar, dan kalau malam tidur bersama saya)," ujar kiai kharismatik sambil menirukan almarumah ibundanya.

Sementara, Wakil Kepala Madrasah Diniyah Salafiyah Matholi’ul Huda - PPMH, Ustadz M Qusyairi menjelaskan, KH Muhammad Yahya adalah pengasuh yang sangat berjasa untuk membuat pondok lebih besar bahkan pesat, dari sejumlah santri yang tinggal menjadi sangat banyak. Beliau mengungkapkan, santri Kiai Yahya tidak hanya yang muda, tetapi juga kalangan orang tua. Dalam membina masyarakat tidak hanya tauhid, fikih, tapi juga tasawuf. Termasuk Mursyid Thariqah Qodiriyah Wa Naqsabandiyah di Kota Malang pada masa itu. "Santri beliau tidak hanya di Malang Raya tapi juga Jawa Timur bahkan se-Indonesia," ungkap Ustadz Qusyairi.

Selain berjuang agama, juga berjuang di pemerintahan dalam arti membantu pemerintah terutama pada masa penjajahan. Berjuang bersama almarhum Jendral Sumitro dan Brigjen Sulam Samsun menjadikan Pondok Gading sebagai markas. "Beliau dikenal masyarakat tidak hanya berjuang dari kejauhan, tetapi banyak saksi bahwa beliau juga berada di medan laga," beber ustadz yang juga Dosen Universitas Negeri Malang tersebut.

Menurutnya, salah satu keistimewaan beliau manakala generasi berikutnya bisa melanjutkan dengan sebaik mungkin. Hal ini juga ditunjukkan oleh Romo KH Muhammad Yahya yang telah menyiapkan saat saat sepeninggal beliau. Putra-putri beliau telah disiapkan demikian untuk melanjutkan perjuangan. Pondok Gading tetap eksis ditengah hingar bingar Kota Malang dengan sistem salafiyahnya. Mulai pengajian kitab kuning, maupun thariqah bagi orang tua tetap berjalan berseiringan.

Pihaknya menambahkan, pesan yang tetap dijaga yaitu para santri tetap mengaji atau kalau sudah lulus bisa mengajar. Keistiqamahan beliau juga patut ditiru para santri atau muhibbin. "Beliau katakan dengan Bahasa Jawa yang lugas, mudah dikenal oleh para santri. Ungkapan beliau 'ojo nganti ono Santri Gading sing ora mulang' (jangan sampai ada Santri Gading yang tidak mengajar, red)," kata  Ustadz Qusyairi.

Ustadz Qusyairi menambahkan, selain semangat luar biasa dalam membela dan mempertahankan kemerdekaan Kiai Yahya juga menguasai ilmu agama. Harapannya bisa dilanjutkan gagasan dan pengaruh Kiai Yahya oleh santri baik keilmuan agama maupun ilmu pengetahuan. "Lebih dari 85 persen adalah para mahasiswa, maka mereka kami yakini bisa mampu berjuang lebih luas lagi. Mampu berjuang lebih baik lagi untuk kebaikan bangsa dan negara ini," pungkas pengampu ilmu nahwu Al-Fiyah Ibnu Aqil di madrasah diniyah tersebut.

Ustadz H. M. Qusyairi  KH. Muhammad Yahya  Kemerdekaan Indonesia