Rabu, 15 Sep 2021, 18:38 WIB

Kedua Tangan Pedagang Yang Meminta Keikhlasan

Bagikan

Kedua Tangan Pedagang Yang Meminta Keikhlasan
Foto oleh Pixabay dari Pexels

Ada kisah tentang seorang pedagang yang hidup pada zaman khalifah Umar ra. Pedagang tersebut sudah berkeluarga dan hidup bersama dengan istrinya. Dia berangkat berjualan di pasar setiap hari sedangkan sang istri tinggal di rumah.

Setiap hari, ibu si pedagang mendatanginya di pasar untuk memberitahukan kesulitan hidupnya. Si pedagang kemudian selalu memberikan entah itu makanan atau beberapa uang untuk membantu ibunya bertahan hidup. Sepulang dari berjualan di pasar, si pedagang menceritakan kejadian itu kepada istrinya. Sang istri menunjukkan ketidak sukaannya. Kemudian dia selalu membujuk bahwa hasil dari berjualan di pasar seharusnya menjadi hak mereka sendiri. Dia mengatakan kepada suaminya bahwa sang ibu sejak awal memang berniat hanya untuk menggantungkan kehidupannya kepada keluarga mereka.

Sang ibu setiap hari masih mendatangi si pedagang di pasar. Teringat kata-kata istrinya di rumah, si pedagang kemudian selalu merasa ragu setiap akan memberikan sesuatu kepada ibunya. Walaupun pada akhirnya dia tetap memberikan makanan atau uang. Namun ada perasaan tidak tenang setiap kali ibunya membawa pergi uang atau makanan yang diberikannya.

Pada suatu hari yang nahas, sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Ketika si pedagang tengah dalam perjalanan ke pasar, dia dihardik oleh sekumpulan perampok. Gerombolan itu kemudian merampas semua harta dan barang dagangan yang bisa mereka ambil. Tidak hanya itu, mereka juga memukuli dan memotong kedua tangan si pedagang, lalu meninggalkannya begitu saja.

Beberapa saat setelahnya, beberapa kenalan si pedagang lewat dan menemukan di di tengah jalan. Mereka kemudian membantunya dan mengantarkannya pulang ke rumah.

Kepada saudara dan kerabatnya yang datang menjenguk, si pedagang selalu mengatakan bahwa dia pantas mendapatkan musibah seperti itu. Dia merasa bahwa itu semua adalah pembalasan atas apa yang dia lakukan kepada ibunya. Selama ini dia selalu memberikan makanan dan uang kepada ibunya, namun dengan perasaan berat hati. Dia merasa hal itu memalukan karena dia tidak bisa melakukannya secara ikhlas. Oleh karena ittu dia merasa musibah yang menimpanya adalah balasan yang setimpal.

Mendengar kabar musibah yang menimpa anaknya, sang ibu datang menjenguk. Dia menangis, mengatakan bahwa hatinya hancur mendengar anaknya dipukuli dan dipotong kedua tangannya.

Dalam pertemuan berurai air mata tersebut, si pedagang akhirnya mengatakan bahwa selama ini pemberiannya kepada sang ibu dilakukannya dengan berat hati. Dia meminta maaf dan keikhlasan hati ibunya atas semua yang diperbuatnya. Sang ibu pun kemudian memberikan maaf dan manyatakan keikhlasannya. Dan dengan itu, maka kedua tangan si pedagang kembali.

*) Disarikan dari pengajian kitab Durratun Nasihin oleh KH. Baidhowi Muslich

Kitab Durratun Nashihin  KH. Baidlowi Muslich 
Bagikan