Keberkahan Waktu Imam Nawawi

Sabtu, 16 Jul 2022, 18:06 WIB
Keberkahan Waktu Imam Nawawi
time

Keberkahan Waktu Imam Nawawi

Imam Nawawi lahir pada awal atau pertengahan bulan Muharram tahun 631 H atau 1233 M. Nama lengkap beliau adalah Yahya bin Syaraf bin Murriy bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizam An-Nawawi.  Nama kunyah atau panggilan beliau adalah Abu Zakaria. Namun demikan, Zakaria bukanlah nama anaknya, karena beliau termasuk dalam salah satu ulama’ yang tidak menikah sampai akhir hayatnya.. Sementara Imam Nawawi sendiri berpendapat bahwa memiliki nama kunyah itu sunnah, dan nama kunyah tidak mesti diambil dari nama anak, bisa juga menggunakan nama hewan dan lainnya seperti Abu Hurairah (pemilik kucing) dan lain sebagainya. Sedangkan nama laqob (gelar) beliau adalah Muhyiddin yang artinya “orang-orang yang menghidupkan’’. Adapun beliau masyhur dikenal dengan nama Imam An-Nawawi yang mana An-Nawawi merupakan nisbat kepada tanah kelahiranya di Nawa, yakni sebuah perkampungan di daerah Hauran yang berada di Damaskus, Syiria.

Lahir di tengah keluarga yang saleh, sejak kecil Imam Nawawi telah membiasakan diri untuk menuntut ilmu. Dikisahkan pada usia 7 tahun, Imam Nawawi kecil terjaga pada malam  ke-27 Ramadhan. Pada malam itu ia melihat seberkas cahaya yang menerangi rumahnya. Imam Nawawi yang saat itu masih kecil terkejut dan segera melaporkan kepada orang tuanya. Sang Ayah memehami bahwa ini merupakan tanda dari Allah terhadap sang anak. Mereka pun berdoa agar Allah memberkahi putranya itu. Maka sejak kejadian inilah, sang ayah memberikan perhatian khusus kepada Imam Nawawi.

Saat berumur 10 tahun, sang ayah memasukkan Imam Nawawi ke madrasah untuk menghafal Al-Qur’an dan mempelajari ilmu fikih kepada beberapa ulama’ di sana. Imam Nawawi kecil sangat antusias untuk menghafalkan Al-Qur’an. Dikisahkan pada beliau diajak bermain oleh teman-temannya, tetapi beliau menolak dan lebih memilih untuk membaca Al-Qur’an. Namun, teman-temannya tetap saja memaksa hingga akhirnya pun beliau berlari sambil menangis. Kejadian ini dilihat oleh Syaikh Yasin bin Yusuf al-Marakisyi yang kebetulan lewat. Kemudian Syaikh Yasin mendatangi kedua orang tuanya dan memberikan nasehat agar mengkhususkan Imam Nawawi untuk menuntut ilmu.

Perjalanan Dalam Menuntut Ilmu

Pada usia 19 tahun, sang ayah membawa Imam Nawawi muda ke Madrasah Ar-Rawahiyyah di pojok timur Masjid Al-Jami’ al-Umawi di Damaskus. Ketika itu, Damaskus merupakan salah satu daerah yang menjadi pusat kajian ilmu. Selama dua tahun di sana, Imam Nawawi sangat tekun belajar. Siang dan malam beliau habiskan untuk mendalami ilmu dan menghafal berbagai kitab, sampai-sampai beliau tidak tidur kecuali karena ketiduran ketika belajar.

Imam Nawawi menceritakan tentang dirinya sendiri ketika menuntut ilmu: “Ketika usiaku telah mencapai 19 tahun, ayahku membawaku pindah ke Damaskus, pada saat beliau (ayahnya) berusia 49 tahun. Di sana aku belajar di Madrasah Rawahiyyah. Selama kurang lebih 2 tahun di sana, aku jarang tidur nyenyak. Penyebabnya tidak lain adalah karena aku sangat ingin mendalami semua pelajaran yang diberikan di madarasah tersbut. Aku pun berhasil menghafal At-Tanbih (red : At-Tanbih fii Furuu’isy-Syafi’iyyah, karya Abu Ishaw Asy-Syirazi) kurang lebih selama 4,5 bulan. Selanjutnya, aku berhasil menghafal 144 Ibadat (sekitar seperempat) dari kitab Al-Muhadzdzab (red : Al-Muhadzdzab fil Furuu’) di sisa bulan berikutnya dalam tahun tersebut. Aku juga banyak memberikan komentar dan masukan kepada syaikh kami, Syaikh Isa Al-Maghribi. Beliau pun merasa tertarik kepadaku ketika melihatku begitu menyibukkan diri dalam semua aktifitas dan tidak pernah bercengkrama dengan kebanyakan orang. Beliau pun sangat senang kepadaku dan akhirnya mengangkatku menjadi asisten dalam halaqahnya, mengingat jama’ah yang diasuh begitu banyak”.

Kesungguhan Imam Nawawi dalam menuntut ilmu tidak perlu diragukan lagi. Setiap hari beliau mempelajari 12 pelajaran baik syarahnya maupun tashhihnya kepada para Syaikh beliau. Dua belas pelajaran tersebut tediri dari dua pelajaran pengantar, satu pelajaran Muhadzdzab (sopan santun), satu pelajaran gabungan dari dua ktiab shahih (Bukhari dan Muslim), satu pelajaran tentang Shahih Muslim, satu pelajaran kitab Al-Lamu’ oleh Ibnu Jinni dalam pelajaran nahwu, satu pelajaran dalam Ishlahul Mantiq oleh Ibnu As-Sikiit, satu pelajaran sharaf, satu pelajaran ushul fiqh, dan kadang kitab Al-Lam’u oleh Abi Ishaq, dan kadang Al-Muntakhab oleh Fakhur Rozi, dan satu pelajaran tentang Asma’u Rijal, satu pelajaran Ushuluddin, dan beliau senantiasa menulis semua hal yang bersangkutan dengan semua pelajaran ini, baik mengenai penjelasan kemusykilannya maupun penjelasan istilah serta detail bahasanya.

Selama sekitar 20 tahun dalam perjalanan menuntut ilmunya, Imam Nawawi sangat tekun dan telaten dalam mudzakarah dan belajar siang-malam. Beliau rajin sekali dalam belajar dan menghafal banyak hal sehingga mengungguli teman-temannya yang lain. Allah telah memberikan berkah kepadanya dalam pemanfaatan waktu. Imam Nawawi menuliskan dalam sebuah kitabnya: “Dan aku menulis segala yang berhubungan dengannya, baik penjelasan kalimat yang sulit maupun pemberian harakat pada kata-kata. Dan Allah telah memberikan barakah dalam waktuku”.

Pengabdian Imam Nawawi dalam Menyebarkan Ilmu

Ketika menginjak usia 30 tahun, beliau mulai aktif menulis. Imam Nawawi menuangkan pikiran-pikirannya dalam berbagai buku dan karya ilmiah lain yang sangat mengagumkan. Beliau menulis dengan bahasa yang mudah, argumentasi yang kuat, pemikiran yang jelas, serta objektif dalam memaparkan berbagai pendapat para ahli fikih. Kemudian pada tahun 665 H., beliau diberi tugas untuk menjadi guru di Darul Hadits Al-Syarifiyyah. Saat itu, usianya baru menginjak 34 tahun dan mengajar di sana hingga beliau wafat. Gaji yang diberikan Madrasah Darul Hadits Al-Syarifiyyah sangat besar, namun Imam Nawawi tidak pernah mengambilnya. Beliau mengumpulkannya pada kepala madrasah dan apabila telah sampai satu tahun, uang tersebut digunakan untuk membeli aset dan mewakafkannya untuk Darul Hadits tempat beliau mengajar atau digunakan untuk membeli kitab dan mewakafkannya untuk perpustakaan madrasah.

Guru-Guru Imam Nawawi

Di balik kecermelangan sosok Imam Nawawi, tentu terdapat guru-guru yang senantiasa mencurahkan ilmunya kepada beliau. Diantara sekian banyak guru-guru beliau adalah:

  1. Guru dalam bidang Fikih dan Ushul Fikih
  • Syaikh Ishaq bin Ahmad bin Ustman al-Maghribi Al-Maqdisi
  • Syaikh Abdurrahman bin Nuh bin Muhammad al-Maqdisi’
  • Syaikh Sallar bin al-Hasan al-Irbali al-Halabi ad-Dimasyqi
  • Syaikh Umar bin Bandar bin Umar at-Taflisi asy-Syafi’i
  • Syaikh Abdurrahman bin Ibrahim bin Dhiya’ al-Fazari
  1. Guru dalam bidang Ilmu Hadits
  • Syaikh Abdurrahman bin Salim bin Yahya al-Anbari
  • Syaikh Abdul Aziz bn Muhammad bin Abdul Muhsin al-Anshari
  • Syaikh Khalid bin Yusuf an-Nablusi
  • Syaikh Ibrahim bin Isa al-Muradi
  • Syaikh Ismai’il bin Abi Ishaq at-Tanukhi
  • Syaikh Abdurrahman bin Abi Umar al-Maqdisi
  1. Guru dalam bidang Ilmu Nahwu dan Bahasa
  • Syaikh Ahmad bin Salim al-Mishri
  • Syaikh Al-‘Izz al-Maliki

Murid-murid Imam Nawawi

Selama berkhidmah untuk agama dalam wujud mengajar, Imam Nawawi banyak melahirkan murid yang kemudian hari menjadi ulama’ besar seperti:

  • Syaikh Sulaiman bin Hilal al-Ja’fari
  • Syaikh Ahmad Ibnu Farah al-Isybili
  • Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Sa’dullah bin Jama’ah
  • Syaikh ‘Alauddin Ali Ibnu Ibrahim (an-Nawawi junior)
  • Syaikh Syamsuddin bin an-Naqib
  • Syaikh Saymsuddin bin Ja’wan, dan masih banyak yang lainnya.

Kitab-kitab Imam Nawawi

Selama masa hidupnya yang bisa dikatakan wafat dalam usia relatif muda, beliau telah menghasilkan sangat banyak karya dalam berbagai bidang keilmuan diantaranya:

  1. Dalam bidang Fikih
  • Al-Majmu’ Syarah Muhadzdzab
  • Raudhatuth Thalibin
  • Al- Minhaj
  • Al-Fatawa
  1. Dalam bidang Hadits
  • Syarah Shahih Bukhari
  • Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim
  • Syarah Sunan Abu Dawud
  • Arba’in An-Nawawi
  • Riyadhus Shalihin
  • At-Taqrib wa At-Taysir fi Ma’rifat Sunan Al-Basyirin Nadzir
  1. Dalam bidang Manaqib dan Bahasa Arab
  • Tahdzibul Asma’ wal Lughot
  • Thabiqat Asy-Syafi’iyyah
  • Manaqib As-Syafi’i
  1. Dalam bidang Akhlaq
  • At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an
  • Bustanul Arifin
  • Al-Adzkar, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Akhlaq dan Sifat Mulia Imam Nawawi

Imam Nawawi adalah seorang zuhud yang sejati. Beliau tidak terlena dengan kenikmatan dunia. Beliau menuliskan dalam muqadimah Kitab Syarah Muhadzdzab yang kini telah menjadi nasehat emas bagi para penuntut ilmu: “Ketahuilah, apa-apa yang kami sebutkan terkait dengan keutamaan menimba ilmu, sesungguhnya itu semua diperuntukkan bagi orang yang mempelajarinya karena menginginkan wajah Allah ta’ala (ikhlas), buka karena motivasi duniawi. Barangsiapa yang belajar karena dorongan seperti; harta, kepemimpinan, jabatan, kedudukan, atau mengalahkan lawan debat serta tujuan semacamnya, maka hal itu adalah tercela.”

Selain itu, yang menarik perhatian adalah bahwa Imam Nawawi pindah dari sebuah perkampungan desa menuju Kota Damaskus yang penuh dengan kesenangan dan kenikmatan, sedangkan ketika itu usia beliau masih sangat muda dan dalam kondisi fisik yang masih kuat. Meskipun demikian, beliau tidak pernah berpaling untuk memperhatikan semua kesenangan dan syahwat tersebut. Beliau justru menenggelamkan diri dalam kesungguhan belajar dan kehidupan yang sederhana.

Imam Nawawi juga terkenal dengan sifat wara’nya. Akhlak tersebut tercermin dari ketetapan beliau tidak mau memakan sayuran yang berasal dari Damaskus. Ketika ditanya tentang hal tersebut, beliau menjawab “karena di sana banyak tanah wakaf  yang dikelola oleh orang yang seharusnya dilarang melakukan pengelolaan”. Sedangkan untuk kasus itu, tanah tersebut tidak boleh dikelola kecuali untuk kemaslahatan umum, dan kerja sama yang ada harus dalam bentuk kontrak kerja sama dengan system masaqat. Sedangkan dalam hal ini pula banyak ulama’ berbeda pendapat. Oleh karena sifat wara’nya, beliau tidak mau memakan sayuran tersebut. Adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan tentangnya, “Beliau adalah sosok manusia yang berpola hidup sangat sederhana dan anti kemewahan. Beliau adalah sosok manusia yang bertaqwa, qana’ah, wara’, yang memiliki muroqobatullah baik tatkala saat sepi maupun ramai. Beliau tidak menyukai kesenangan pribadi seperti berpakain mewah, makan-minum lezat, dan tampil mentereng. Makanan beliau adalah roti dengan lauk seadanya. Pakaian beliau hanyalah pakaian seadanya, dan hamparan beliau hanyalah kulit yang disamak.”

Imam Nawawi juga merupakan seorang yang sangat menghargai waktu. Ibnu Athtar rahimahullah mengatakan “Guru kami An-Nawawi menceritakan kepadaku bahwa beliau tidak pernah sekalipun menyia-nyiakan waktu, baik ketika malam atau siang, bahkan sampai di jalan pun beliau terus dalam aktifitas menelaah dan menghafal”. Sifat tersebut diamini oleh Rasyid bin Mu’allim rahimahullah yang mengatakan, “Syaikh Muhyiddin An-Nawawi sangat jarang masuk kamar kecil, sangat sedikit makan dan minumnya, sangat takut mendapatkan penyakit yang dapat menghalangi kesibukannya, sangat menghindari buah-buahan dan mentimun karena takut membasahkan jasadnya dan membawa tidur, beliau sehari semalam makan sekali dan minum seteguk air pada  waktu sahur”.

Selain zuhud, wara’ disiplin, dan alim, dalam diri Imam Nawawi juga tertanam sifat ramah memberi nasihat. Selain itu, beliau juga seorang pemberani yang tidak takut atas celaan dan ancaman selagi di jalan Allah.

Wafatnya Imam Nawawi

Pada tahun 676 H. beliau kembali  ke kampung halamanya di Nawa. Beliau mengawali perjalanan dengan berziarah ke makam orang tuanya, ke Baitul Maqdis, dan ke makam Nabi Ibrahim A.S. Selepas itu barulah beliau melanjutkan perjalanannya ke Nawa. Di sanalah beliau lalu jatuh sakit dan akhirnya wafat pada malam Rabu tanggal 23 Rajab 676 H dalam usia 45 tahun. Ketika kabar wafat beliau terdengar sampai Damaskus, seantero kota itu dan wilayah sekitarnya benar-benar menangisi kepergian beliau. Kaum muslimin benar-benar merasa kehilangan sosok Muhyiddin itu.

Semoga Allah selalu mencurahkan rahmatnya kepada Imam Nawawi dan kita semua bisa meneladani serta mengikuti jejak beliau, Imam Nawawi rahimahullah. Allahumaj’alna minhum. Aaaamiiin.

Santri Gading  Pondok Gading  Kisah Ulama  Biografi Ulama 
Bagikan