Jumat, 06 Sep 2019, 16:35 WIB

Bulan Muharram; Hikmah Perjalanan Hijrah Rasulullah

Bagikan

Bulan Muharram; Hikmah Perjalanan Hijrah Rasulullah
Keistimewaan dan Amalan di Bulan Muharram

Tahun baru islam berbeda dengan tahun baru masehi dari segi historis. Dalam tahun masehi penetapan awal diambil dari lahirnya Nabi Isa As. Namun mengapa dalam islam patokan hijriyah tidak di ambil dari lahirnya Nabi Muhammad SAW?

Karena sudah ada Maulid Nabi, di bulan lahirnya pemimpin ummat. Disinilah banyak hikmah yang bisa kita ambil kenapa diambil dari hijrahnya Rasulullah. Yang dapat kita petik hikmah yaitu perjalanan panjang Rasulullah berhijrah dari Makkah ke Madinah.

Awal-awal nabi di utus menjadi utusan Allah SWT hanya istri beliau Sayyidah Siti Khadijah yang yakin dan masuk islam. Kemudian disusul oleh golongan tua, sahabat Abu Bakar As-Shidiq, golongan muda yang ikut masuk islam yakni Sahabat Ali karamallahuwajhah. Berangsur-angsur sebagian orang awam yang meyakini bahwa beliau adalah utusan Allah, langsung di baiat oleh nabi.

Pamannya Abu Tholib sangat sayang kepada beliau, selalu menjaga Nabi Muhammad SAW. Namun sepeninggal Abu Tholib wafat, oarang-orang kafir semakin berani menghina bahkan menciderai nabi dengan terang-terangan.

Mengetahui ihwal kedatangan sang utusan Allah, pembesar orang-orang kafir mengadakan pertemuan untuk membahas masalah serius agar tidak menyebarkan agama islam di kota Makkah.

Dimana yang memimpin pertemuan tersebut adalah Abu Jahal. Banyak pendapat, masukan dan usulan untuk menghalau nabi, namun semua di tolak. Pendapat terakhirlah yang diterima dan disepakati, yaitu Muhammad harus dihabisi.

Langsung malam harinya semua bersiap, dengan masing-masing membawa pedang. Berkumpul di pintu agar kalau sewaktu-waktu nabi keluar bisa langsung dihabisi. Dengan wahyu Allah, nabi diperintahkan untuk tidak tidur di rumah. Maka mengajaklah Abu Bakar as-Shidiq untuk pergi ke Madinah. Dan disuruhlah Sayyidina Ali untuk tidur di tempat tidurnya nabi. “Wahai Ali. . . tidurlah ditempatku! Kau tetap aman” pesan Rasulullah SAW.

Beliau bersama Sayyidina Abu Bakar lewat pintu belakang bergegas meninggalkan rumah untuk pergi ke luar kota. “Biar aku saja yang di depan Rasulullah, kalau ada apa-apa saya yang dahulu akan menghadapi” pinta sahabat Abu Bakar as-Shidiq.

Sampailah pada sebuah gua Tsur ada dua lubang masuk, Rasulullah terlihat letih karena perjalanan jauh. Dengan melihat seperti itu kepekaan sahabat Abu Bakar menawarkan kepada nabi untuk tidur di pangkuannya. Ketika sudah lelap, sayyidina Abu Bakar di gigit ular. Beliau tidak bergerak karena tidak ingin Rasulullah SAW terbangun. Namun saking sakitnya beliau meneteskan air mata, air mata tersebut mengenai Rasulullah sehingga bangun.

Kondisi di rumah yang di tempati Rasulullah ramai oleh orang kafir. Orang kafir yang menunggu di depan pintu terlelap kemudian di bangunkan oleh seseorang yang mengatakan “mengapa kalian tidur disitu, yang kamu cari sudah tidak ada”. Kemudian langsung masuk rumah, ternyata bukan Rasulullah SAW yang ada, melainkan Sahabat Ali. “Wahai Ali. Dimana Muhammad?” tanya orang kafir. Sahabat menimpali “Wawllahi, Saya tidak tahu”. Sahabat Ali di seret oleh orang kafir dan dipukuli.  

Bergerak menuju rumah sahabat Abu Bakar As-Shidiq untuk mencari Muhammad. Tak menemui seseorang kecuali putri beliau. Asma’ binti Abu Bakar. “Dimana Muhammad dan Abu Bakar?” tanya orang kafir. “Wawllahi saya tidak mengetahui.” Ungkap putri Abu Bakar. Hingga orang kafir emosi dan menempeleng Asma’ binti Abu Bakar.

Kemudian ketika beliau mengetahui ada orang kafir berada di depan gua beliau menangis, kemudian di Tanya oleh Rasulullah. “Kenapa engkau menangis, Wahai Abu Bakar?”. “Kalau yang di bunuh saya, saya adalah orang biasa, namun kalau yang dibunuh engkau Rasulullah, ummat akan rusak bila tidak ada engkau” jawab Sayyidina Abu Bakar. Kemudian Rasululloh menenangkan dengan  لا تحزن إن الله معنا”, jangan bersedih Allah bersama kita. Dengan izin Allah SWT gua Tsur tersebut di lubang masuknya terdapat sarang laba-laba dan sarang burung yang sedang menetas, sehingga orang kafir yang ingin menghabisi Rasululloh tidak jadi masuk. Itulah salah satu mu’jizat Nabi Muhammad SAW.

Setiap keluar masuk goa, Abu Bakar selalu berjalan jinjit agar tidak tertinggal jejak jika di cari oleh pelacak orang kafir. Selama tiga hari tiga malam setia menemani Rasulullah SAW berada di goa Tsur.

Setelah kondisi berangsur-angsur aman. Beliau melanjutkan perjalan panjang membeli 2 unta dengan menyewa seseorang ahli penunjuk jalan. Karena jalan yang akan ditempu tidak seperti jalan pada umumnya. Melewati pesisir dan pegunungan yang sepi, jarang dilalui orang.

Bekal yang dibawakan oleh Asma’ binti Abu Bakar lupa tidak ada tali. Akhirnya beliau menyobek sabuknya untuk mengikat bekalnya.

Dalam perjalanan yang melelahkan tersebut ada lima peristiwa penting yang dapat kita pelajari. Bagaimana kegigihan dan contoh tauladan kepada kita semua.

Pertama, semalaman menempuh perjalana yang melelahkan. Hingga siangnya sampai pada sebuah tempat, batu besar yang digunakan untuk berteduh. Sahabat Abu Bakar mnggelar surbannya untuk mempersilahkan Rasulullah. Datanglah penggembala kambing yang juga ikut berteduh ke balik batu tersebut. Menawarkan untuk memerah susu, akhirnya susu keluar dan memberikan ke Nabi Muhammad SAW.

Kedua, di tengah perjalanan, ada seseorang yang bertanya kepada Sahabat Abu Bakar, “siapa orang yang menyertaimu?”. Abu Bakrar dengan kecerdikannya menjawab “Beliaulah orang penunjuk jalan”. Orang tersebut mengira, bahwa orang yang menyertai di belakang adalah penunjuk jalan menuju Madinah. Padahal yang dimaksud Abu Bakar adalah Beliau (Nabi Muhammad SAW) penunjuk ummat jalan kebaikan.

Ketiga, ada orang kafir, Suroqoh bin Walid. Orang kafir yang berambisi mendapatkan hadiah sayebara. Bila mana mampu menghabisi Muhammad SAW akan dihadiahi oleh 100 unta. Tergiur akan hadiah itu, ketika mendengar kabar ada beberapa orang melewati jalan pesisir yang sepi, Suroqoh sudah yakin bahwa itulah yang di maksud Muhammad. Langsun membawa pedang dan kuda. Di belakang Rasulullah ketika akan menghunus pedang, tiba-tiba kaki depan kuda yang di tungganginya terjerembab ke pasir. Di ulangi sampai beberapa kali. Sampai tiga kali. Akhirnya Suroqoh mendatangi Nabi Muhammad SAW untuk meminta maaf dan menawarkan bekal untuk mereka berdua. Namun Rasulullah dengan kelembutan sikap mengucapkan terimakasih atas tawarannya. Kemudian Suroqoh meminta jaminan keselamatan dari Rasulullah.

Keempat, bertemu Ummu Ma’bad. Di tegah perjalanan menemui banyak sekeliling kambing. Ternyata iu milik Ummu Ma’bad. Ketika berdialog Rasulullah meminta izin satu kambing tua yang mandul untuk di ambil susunya. “Silahkan tuan ambil susunya” tutur Ummu Ma’bad. Dengan membaca bismillah Nabi Muhammad memegang kambing yang akan di perah, tiba-tiba sudah menggelembung dan di ambil susunya. Ketika penuh, di kasihkan Ummu Ma’bad sampai kenyang, di perah lagi di kasihkan sahabat Abu Bakar sampai habis. Ketiga diminum sendiri oleh Rasulullah. Terakhir memeras susu kembali sampai wadah bejana penuh, dan di berikan kepada Ummu Ma’bad. Setelah itu berpamitan untuk melanjutkan perjalanan kembali.

Ketika suami Ummu Ma’bad pulang dan mengetahui kejadian aneh terjadi. Orang tersebut yakin bahwa inilah yang dikatan sebagai utusan Allah pembawa agama baru, kalau tadi saya tahu, saya pasti ikut.

Kelimabertemu kepala suku, Abu Buraidah namanya. Memiliki kaum 70 orang pengikut. Mendengar bahwa orang yang dicari-cari orang kafir untuk dihabisi Abu Buraidah juga berambisi mendapatkan hadiah yang berupa 100 unta. Ingin membunuh Nabi Muhammad SAW, namun ketika berdialog tidak jadi membunuh bahkan masuk islam bersama 70 pengikutnya.

Ketika hampir masuk kota Madinah, beliau bertemu dengan Az-Zubair, menghadiahkan dua buah pakaian putih. Satu untuk Rasulullah satunya lagi untuk Abu Bakar as-Shidiq. Sehingga sampai di Madinah beliau mengenakan pakaian putih. Di Quba’ hingga Rasulullah membangun masjid pertama kali disana. Mulai hari senin selasa rabu, pada hari Jum’at beliau bertemu dengan Bani Najar. Beliau sholat jum’at pertama kali di lembah Bani Salim sebanyak 100 jamaah.

Hikmah yang dapat kita ambil yaitu meneladani perjuangan Nabi Muhammad SAW pantang menyerah dengan segala cobaan. Implementasi zaman sekarang, kita harus gigih bisa melalui masyarakat menjadi pelayan ummat dan dakwah biil lisan kalau tidak mempunyai kapasitas cukup dengan bil khal, karena dengan perbuatan sudah mencerminkan dan membekan contoh tauladan yang baik bagi orang lain.

Hikmah selanjutnya adalah kesetiaan dan kecintaan sahabat Abu Bakar As-Shidiq Ra. Menemani Rasulullah dari awal sampai akhir hayat. Senada dalam Al-Qur’an. Menyitir sebuah Surah Ali ‘Imron ayat 31:

قل إن كنتم تحبون الله فالتبعوني يحببكم اللهويغفرلكم ذنوبكم والله غفور رحيم

Artinya : Katakanlah : “jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ayat yang mulia tersebut memeberikan penjelasan bahwa siapa saja yang mengaku cinta kepada Allah, juga harus mencintai NabiNya. Kecintaan tersebutlah yang akan membuat ketentraman didunia sampai akhirat. Lalu saat ini, sejauh mana kecintaan kita kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW?

Begitulah sejarang singkat hijrahnya Nabi Muhammad SAW panutan dan penuntun ummat. Semoga kita dapat mengambil hikmah, bertambahnya mahabbah, dan di akui menjadi ummat Rasulullah serta syafaat fi yaumil qiyamah . Wawllahu a’lam bishowab. (Red/Jaz)

 

*) Disarikan dari Mauidhoh Hasanah Almukarrom KH. M. Baidhowi Mushlich dalam pelantikan Pengurus PP. Miftahul Huda Gading Malang | Kamis, 05 September 201

Nabi Muhammad SAW  KH. Baidlowi Muslich  Bulan Muharram