Puisi-puisi Arif Rahman: Malam Pertiwi

Ahad, 03 Sep 2023, 13:46 WIB
Puisi-puisi Arif Rahman: Malam Pertiwi
Malam Pertiwi

Malam Pertiwi

 

Ibu

Kini tak ada anakmu

berahim gembur melainkan terus

ditanami gedung-gedung.

 

Ibu

Tak ada anakmu berarteri, dengan arus ganas

dari puncak perigi, melainkan ia

menjerit anemia dan dehidrasi.

 

Ibu

Tak ada anakmu berkulit zamrud lagi,

melainkan kanker-kanker lekas meragut

keji, klorofil telah hitam jelaga dan melayang—menari.

 

Ibu

Tak ada paru-paru anakmu membelai

wangi petrikor subuh pagi, melainkan telah asma;

dijejali karbon-karbon neraka dan emisi.

 

Dan ibu telah pergi,

Dirajam hari-hari hingga lebur, remuk: hancur.

Lalu Bumi berganti sisi ibu dengan hitam-legam abadi.

Gerhana Bumi untuk seluruh urat nadi.

 

 

Eigendom

 

Kembalikan unta-unta itu!

 

Hanya kalimat itu yang selalu diingat

menjadi ayat-ayat gugatan

di seluruh memoar telinga-telinga kota.

Sebelum akhirnya terup-terup

bergading yang berdatangan

dari negeri seberang runtuh-berlubang,

seperti reptil-reptil yang membusuk

ditusuk batu-batu langit

dari atap Cretaceous[1] yang terbakar.

 

Mereka pasukan berlubang,

laskar yang tumbang dari sijjil

yang dihujankan Ababil.

 

***

 

Bagi Abrahah,

ia tak melihat penaklukan Himyar

sebagai piala.

Belum.

Sebelum kemegahan Sana’a

menaklukkan Mekkah.

Sebelum al-Qullays mengungguli kakbah,

atau sebelum tentarannya menginjaknya remuk

menyisakan tangisan-tangisan debu.

 

Dan hari-hari itu ia masih saja membeku.

Tak ada piala.

Tak ada hari-hari Sana’a dan Qullays

berhasil memegang trofi sebagai tanah berbintang.

 

Maka hanya ada satu jalan yang terbesit

di pikiran Sang Raja,

naluri yang bercokol

nisan-nisan zulmat:

Kakbah yang berdiri di atas tanah,

harus pula menemui tidurnya di remukan tanah.

 

Lalu setelah ia tiba

di bibir kota,

dengan berbondong-bondong pasukan,

pikiran Sang Raja tetap lah

seperti pada umumnya adat yang ada:

sebuah penaklukan hanya akan menjadi sup hambar

jika tak ada bumbu penjarahan yang mewarnainya. 

 

Maka tak salah jika di hari itu juga,

sebuah kota berjantung bangunan kakbah

dilucuti dari segala ternak yang ada

seperti tanpa dosa.

 

Kemudian datang lah seorang pria,

dengan ikat imamah dan jubah lusuhnya

yang sesekali disibak debu sahara.

Seorang paruh baya

dengan membawa wibawa seorang tetua kota.

Ia temui Sang Raja,

dan menggugatnya tuk mengembalikan

ternak-ternak hasil rampasan

 

Tapi Sang Raja hanya perih-tertawa,

sembari berkelakar kepada Sang Tetua:

Ini hanya ternak, mengapa kau tak hadapkan saja

kekhawatiran itu kepada bangunan

dengan sejarahnya yang megah di sana:

Kakbah tua yang hendak kujadikan sampah?

 

Dan Abdul Muthalib membalasnya ringan:

Aku hanya pemilik unta-unta yang kini kaubawa,

Sedang kakbah bukan milikku, Tuhan telah memilikinya.

Sekali lagi, kembalikan ternakku!

 

 

 

 

 


[1] Zaman Kapur (era Mesozoikum).

Sastra pesantren  Sastra  Puisi Santri  #puisi #gadingpesantren38 #sastra #sajak 
M. Arif Rahman Hakim

Penulis adalah manusia seperti pada umumnya.

Bagikan