Ahad, 20 Jun 2021, 19:58 WIB

Tanda Orang Bertakwa: Menahan Amarah dan Memaafkan Kesalahan

Bagikan

Tanda Orang Bertakwa: Menahan Amarah dan Memaafkan Kesalahan
Kegiatan PP. Miftahul Huda Gading Malang (Dok.PPMH)

Dalam beribadah, kita memang boleh mengharapkan imbalan, walaupun ada yang lebih baik, yaitu jika hanya semata mengharap ridha Allah Swt. Walaupun begitu, tasawuf mengajarkan kita untuk beribadah semata hanya mengharap ridha-Nya. Tentang surga, kalau orang beribadah masih mengharapkan imbalan misalnya pahala atau surga, maka ia seperti halnya pedagang. Pamrih dalam beribadah itu tidak dilarang, didukung dengan fakta bahwa dalam Al-Quran banyak disebutkan kata surga sebagai imbalan. Tetapi terkadang kita justru terkecoh dengan apa yang nampak di dunia, dan lupa dengan akhirat yang begitu luas.

Pertanyaanya, untuk siapakah surga yang sangat luas itu disediakan? Jawabannya adalah untuk orang-orang yang bertakwa. Definisi orang bertakwa juga telah banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an. Dalam ayat 134 surat Ali Imran, misalnya, disebutkan orang-orang yang bertaqwa memiliki ciri sebagai berikut:

1. Orang yang mudah menafkahkan hartanya di kala suka maupun duka.

2. Mampu menahan amarah. Salah satu hikmah dari puasa bulan Ramadan yang telah kita lalui dua bulan lalu adalah untuk melatih diri kita dalam mengendalikan amarah. Puasa adalah menahan; di samping menahan rasa haus dan lapar kita juga harus dapat mengendalikan nafsu dan amarah.

3. Ciri yang ke tiga dari orang yang bertaqwa adalah mudah memaafkan. Baik diminta maupun tidak diminta.

Dikisahkan dalam kitab Ihya’ Ulumuddin Juz 2 hal. 197, kala itu Rasulullah Saw. tertawa cukup lebar dan tidak biasanya baginda Nabi Saw. tertawa selebar itu. Lalu, sahabat Umar ra. penasaran dan bertanya mengapa beliau tertawa selebar itu. Ternyata kala itu Rasulullah Saw. ditampakkan suatu fragmen dua orang yang sedang mengadu dan bersimpuh di hadapan Allah Swt. Salah seorang diantaranya mengadukan tentang perbuatan aniaya oleh temannya. Kala itu, orang yang menganiaya; kebaikan khasanahnya sudah habis. Sementara mekanismenya, jika ada orang yang menganiaya saudaranya, dan saudaranya itu menuntut, maka kebaikan penganiaya harus diberikan kepada yang dianiaya sebagai tebusannya.

Allah Swt. Maha Pengasih dan Penyayang. Maka kala itu, ditampakkan kepada penuntut tadi itu suatu bangunan istana yang sangat megah. Lalu penuntut itu pun merasa takjub dan bertanya kepada Allah Swt., "itu untuk siapa Ya Allah?" Allah menjawab, "ini untuk siapa saja yang mampu membelinya."

"Siapa yang mampu membelinya?"

"Kamu juga mampu membelinya."

"Dengan apa aku mampu membelinya?"

"Dengan cara engkau mau memaafkan saudaramu."

Begitu murahnya kasih sayang Allah, sampai-sampai imbalan sebesar itu bisa didapatkan hanya dengan kita mau memaafkan saudara kita. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memiliki rasa empati yang besar, saling kasih sayang, dan saling memaafkan. Harapannya, nanti ketika kita keluar dari dunia menuju ke akhirat, bisa tercapai keadaan “kayaumi waladatna ummuna” (seperti keadaan bayi ketika dilahirkan ibunya; dalam keadaan suci dan bersih).

    Ustadz H. M. Qusyairi