Jumat, 04 Sep 2020, 09:39 WIB

Rahasia Dibalik Utawi Iki Iku

Bagikan

Rahasia Dibalik Utawi Iki Iku
Rahasia Dibalik Utawi Iki Iku

Rahasia dibalik utawi iki iku??

tahukah kalian dengan judul diatas? Bagi santri salaf gaya lama mungkin serentak menjawab enteng "cuma itu," karena memang itulah keseharian mereka. Sedang selain santri salaf akan bingung dan bergumam" maksute opo,?" (maksudnya apa?). 

Agar tak ada kesenjangan sosial ini akan saya coba jelaskan fenomena utawi iki iku yang telah berlangsung sangat lama. Yang kontribusinya luar biasa dalam pendidikan pesantren. Tentu tulisan ini tidaklah bisa menjelaskan dengan detail apa itu utawi iki iku. Namun setidaknya bisalah ini menjadi pengantar agar sedikit memberitahu bagaimana kontribusi dan bentuk pengajarannya.

Utawi iki iku adalah sebuah metode yang muncul ditengah pesantren salaf sebagai sarana untuk mempelajari kitab-kitab agama islam. Metodenya berupa rumus-rumus yang dijawakan yang memiliki arti masing-masing sebagai penanda kedudukan suatu kata.

semisal utawi sebagai penanda kedudukan mubtada' (subjek). Atau iku sebagai penanda khobar (predikat). Atau ing sebagai penanda maful bih (objyek). Bukan cuma ini semua, ada lebih banyak lagi rumus-rumus lain yang digunakan menadai suatu kedudukan. Penggunaan rumus-rumus itu sudah menjadi keseharian santri salaf dalam belajar kitab gundul. Menjadi bagian yang wajib dipelajari dalam memahami suatu kitab. 

Kyai disini menjadi pemateri utama. Oleh karena itu para masyayikh pondok salaf selalu menekankan santri untuk handal dalam ilmu alat. Karena santri adalah calon kyai sehingga bekal ilmu alat membuatnya tidak memberi materi yang salah pada murid. Dawuh para masyayikh "kyai gak pati kyai nek durung iso sorof nahwu," (kyai tidak terlalu kyai jika tidak bisa shorof nahwu). Syarat yang diajukan ini menjadikan pesantren salaf selalu beratmosfer 'nahwuis'. Perkata harus tahu kedudukannya. Tahu rumusnya apa. Jika tidak keahliannya masih diragukan. 

Inilah standar nahwu yang terjaga dengan metode utawi iki iku. Jika dipondok modern mengatakan mereka unggul dengan biah lugowiyyah (lingkungan kalam). Kamipun punya sesuatu yang nggak kalah yaitu biah nahwiyyah, karena semua kitab yang kami pelajari kata perkata harus tahu kedudukan nahwunya. Pembacaan kitab bisa dengan metode bandongan yang mana ustadz membacakan santri memaknai. Atau sorogan santri yang membaca didepan guru. 

Standar nahwu ini punya arti penting dalam pemahaman suatu teks keagamaan. Tanpanya seringkali orang yang membaca akan salah kaprah dengan arti yang dia ambil. 

Semisal seperti لم تر دما. Kata ini jika dibaca orang yang tidak tahu nahwu shorof bisa jadi dia membacanya lam tardiman. Jika dibaca seperti itu mau sampai subuh bolak balik kamuspun tidak akan dia mampu mengartikan kata itu. Yang benar harusnya lam taro daman. Yang artinya kamu/dia perempuan tidak melihat darah. Kesalahan ini rawan terjadi jika mengartikan bahasa tidak dengan nahwu. Oleh karena itulah nahwu dinamakan ilmu alat. Karena dengannyalah ilmu dari berbagai fan yang berbahasa arab bisa dibuka. 

Dengan standar ini pesantren salaf memiliki dalih keilmuan dalam menyampaikan makna yang dia pahami. Pertanggung jawabannya nyata. Dan mampu memastikan makna-makna kata yang dia baca dengan ilmiah. 

Alumnus dari metode ini tumbuh menjadi para penjaga dalil-dalil agama yang dinamai kyai. Di Indonesia sendiri seringkali pesantren dengan metodenya melahirkan ulama terkenal yang bukan saja menjadi panutan di indonesia, namun juga menjadi ulama terkemuka diseluruh dunia. 

Konon utawi iki iku juga pernah di gunakan oleh Syekh Makhfud Termas ketika membacakan kitab di Masjidil Harom. Bukan cuma beliau ada Syekh-syekh lain yang lahir dari metode utawi iki iku. Contohnya Kyai Abdulloh Faqih, Kyai Zubair, Kyai Fadhol, Kyai Ihsan Jampes dan banyak kyai lain dengan karyanya yang luar biasa. Di Yaman santri dari Indonesia banyak juga yang dijuluki nuhat (ahli nahwu). Karena memang santri dari indonesia pada fan yang satu ini lebih unggul dari negara lain. Wohhh hebatkan utawi iki iku.

Segala yang sudah saya ungkapkan sedikit banyak telah menggambarkan bagaimana peran dari utawi iki iku dalam menjaga pernahwuan khususnya di indonesia. Khazanah yang baik ini haruslah dijaga dan dilestarikan. bukannya menganggapnya kuno dan tak pd dengan khazanahnya sendiri. 

Menjaga bukan berarti kaku. Jika memang perlu perubahan kenapa tidak? asalkan tidak merubah nilai utama saya kira tidaklah perlu dipermasalahkan.
koridornya yang terpenting almuhafadotu alal qodiimissholih wal akhdu bil jadidil aslah. Menjaga yang dulunya baik dan mengambil yang baru yang lebih baik. Semoga utawi iki iku selalu lestari sampai seterusnya. Amin.