Senin, 17 Ags 2020, 15:28 WIB

Pendidikan Islam sebagai Fondasi Kuat yang Membangun Peradaban Bangsa

Bagikan

Pendidikan Islam sebagai Fondasi Kuat yang Membangun Peradaban Bangsa
Pendidikan Islam sebagai Fondasi Kuat yang Membangun Peradaban Bangsa

Indonesia adalah satu-satunya negara tebesar di Asia Tenggara, akan tetapi tingkat peradaban Indonesia masih tertinggal dari bangsa-bagsa Eropa. “Bangunlah jiwanya bangunlah badanya untuk Indonesia Raya”. Coba perhatikan kembali penggalan lagu ini yang sebenarnya mengajarkan kepada bangsa Indonesia sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu, yakni jika bangsa Indonesia ingin maju negaranya, maju orangnya, maju ekonominya, dan maju peradabannya maka kita harus bangun! Kata “Bangun” di sini dimaknai dengan bangkit (mendirikan) jiwa dan badan. Menariknya, penggalan lagu Indonesia Raya yang berbunyi “bangunlah jiwanya” diletakkan lebih dulu daripada penggalan yang berbunyi “bangunlah badanya” . Artinya, untuk membangun peradaban Indonesia yang lebih baik, jiwa harus di bangun terlebih dahulu, baru badannya yang dibangun.

Lantas, bagaimana cara membangun jiwa? Jiwa maupun badan adalah dua perkara yang membutuhkan adanya pendidikan. Dalam membangun jiwa, pendidikan keruhanian/kejiwaan adalah kebutuhan yang utama. Adalah pendidikan Islam yang mampu menjawab kerisauan tentang bagaimana cara membangun jiwa. Nilai-nilai moral, etika, dan dasar agama yang kuat harus tertanam pada diri seseorang. Agama merupakan sistem yang mengatur keyakinan kita terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa di muka bumi ini. Seperti pepatah mengatakan “Ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh”. Agama adalah ketetapan-ketetapan ilahi yang diwahyukan kepada Nabi untuk menjadi pedoman hidup manusia (Quraish Shihab).

Sedikit melirik model kurikulum 2013 silam, sebenarnya mempunyai benang merah dengan pendidikan Islam, yakni sama-sama menjalankan misi untuk membangun peradaban bangsa melalui pendidikan karakter. Alih-alih ekspektasi untuk mewujudkan pribadi bangsa yang beradab, realita justru masih banyak kasus yang telah mencoreng nama pendidikan dan nilai-nilai moral. Berbagai kasus kriminal, kenakalan remaja, pemerkosaan, penyerangan terhadap orang tua maupun guru adalah sederet bukti per-adab-an yang belum mapan. Mirisnya lagi, sebagian pelakunya masih berstatus sebagai pelajar. Kenyataan ini sangat ironi padahal mereka adalah kaum terpelajar. Lantas dimana peran pendidikan? 

Menuai kasus-kasus yang terjadi, pendidikan Islam tampil untuk memperbaiki nilai moral melalui ajaran akidah akhlaq dari Nabi Muhammad SAW dengan tauhid yang kuat. Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibany mendefinisikan pendidikan Islam sebagai proses mengubah tingkah laku yang terjadi pada diri individu maupun masyarakat. Dengan demikian, pendidikan merupakan sebuah proses yang panjang, bukan aktivitas yang bersifat instant.

 Jika jiwa bangsa ini sudah dibangun dengan mapan, maka untuk membangun badan (read: dua kecerdasan) manusia lainnya (IQ dan EQ) dan pembangunan fisik material akan lebih mudah dilaksanakan. Namun tidak hanya kecerdasan/intelegence semata, akan tetapi akhlaq/karakter juga sama pentingnya untuk dibangun. Dr. Martin Luther King pernah berkata: “Intelligence plus character….that is the goal of true education. Dalam dunia pendidikan Islam, keberadaan lembaga pendidikan Islam seperti Pondok Pesantren, Madrasah Diniyyah, Sekolah Tinggi Islam, sampai Perguruan Tinggi Islam telah tersedia banyak di Nusantara. Bahkan saat ini, lembaga pendidikan Islam seperti Pondok Pesantren sudah memperbarui diri menjadi ponpes modern demi menghadapi tantangan global sehingga stereotip orang tentang lulusan ponpes yang kuno dan kolot semakin tergerus hilang. Dengan merawat tradisi dan merespon modernisasi, sistem pendidikan Islam dapat menghasilkan generasi dengan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual yang seimbang.

Untuk merealisasikan pendidikan Islam sebagai penyongsong perdaban bangsa, diperlukan usaha dan kerjasama dari berbagai pihak. Usaha ini dapat dilakukan dengan dua pendekatan. Pertama, Pendekatan sistemik dalam bidang pendidikan, yaitu diperlukannya keputusan politik, misalnya sistem politik nasional, sistem ekonomi nasional, sistem demokrasi nasional, juga sistem pendidikan nasional. Di antara keputusan politik dalam pendekatan ini adalah masuknya pendidikan Islam dalam subsistem pendidikan nasional sehingga pendidikan Islam memiliki ruang dan siap mendidik bangsa dalam rangka membangun peradaban yang lebih maju.

Kedua, pendekatan sedari dini oleh orang tua. Yakni dengan mengajarkan anak untuk selalu berdo’a sebelum melakukan setiap pekerjaan, dan mengganti tontonan kartun anak dengan kartun yang bernafaskan teladan Rasulullah SAW. Karena pada dasarnya pelajaran tercepat yang ditangkap oleh anak adalah pelajaran contoh dan teladan. Apapun label pendidikan sekolah anak tidak menjadi masalah, karena subsistem pendidikan nasional sudah dimasukkan dalam pendidikan Islam, termasuk include pelaksanaanya (sesuai dengan pendekatan pertama). Adapun bagi siswa non-muslim, mereka hanya mendapatkan pelajaran nilai-nilai amaliah dan budipekerti luhur Islam dengan tidak memasukkan ajaran yang bermaksud memaksa untuk menjadi seorang muslim. Karena agama bukanlah suatu paksaan, “La iqrooha fiddin”. Jika kedua pendekatan ini dijalankan dengan baik, maka akan tercipta fondasi kuat yang siap membangun peradaban Indonesia. Semangat berpendidikan, berilmu, dan berperadaban harus tetap terjaga meski sekarang, kita sedang dalam suasana pandemi. Wabah Covid-19 yang menjadi pandemi jangan lantas membuat semangat keilmuan kita menjadi terkebiri.