Jumat, 20 Ags 2021, 23:24 WIB

Merdeka! Pasca Itu Apa?

Bagikan

Merdeka! Pasca Itu Apa?
Upacara Kemerdekaan ke-76 PP. Miftahul Huda Gading Malang (Dok.PPMH)

Pada bulan Agustus ini Bangsa Indonesia dihadapkan pada peringatan hari kemerdekaan yang ke-76. Semangat kemerdekaan hendaknya terus kita gelorakan dengan menanamkan nilai-nilai cinta tanah air. Islam mengajarkan bahwa cinta tanah air merupakan salah satu implementasi keimanan seorang hamba. Kiai Muhammad Said dalam kitab Ad-Difa’ ani Al Wathan min Ahammi al-Wajibati ala Kulli Wahidin Minna halaman 3 menjelaskan bahwa umat Islam wajib menjaga persatuan dan kesatuan negara dalam hal ini adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Nilai tersebut sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW, yaitu dengan cara memupuk persaudaraan dan persatuan di kalangan sahabat Muhajirin dan Ansor, serta mengakomodasi kepentingan umat Islam, umat Yahudi, dan segenap penduduk Kota Madinah Al-Munawarah.  Teladan tersebut merupakan ekspresi cinta Nabi Muhammad SAW atas Kota Makkah dan Madinah karena dua tempat mulia tersebut merupakan tanah air beliau.  Dengan demikian, mMencintai tanah air adalah bagian tak terpisahkan dari keimanan seorang hamba karena tanah air merupakan sarana primer untuk melaksanakan perintah agama. Tanpa tanah air, seseorang akan menjadi tunawisma. Tanpa tanah air, agama seseorang kurang sempurna, dan tanpa tanah air, seseorang akan menjadi terhina. Hal tersebut melatarbelakangi Syekh Muhammad Ali dalam kitab Dalilul Falihin halaman 37 mengujarkan bahwa “Cinta tanah air bagian dari iman.”

Terkait anjuran untuk mencintai tanah air, Nabi memberikan sebuah contoh teladan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari juz 3 halaman 23.

Ketika Rasulullah hendak datang dari bepergian, beliau mempercepat jalannya kendaraan yang ditunggangi setelah melihat dinding kota Madinah. Bahkan beliau sampai menggerak-gerakan binatang yang dikendarainya tersebut. Semua itu dilakukan sebagai bentuk kecintaan beliau terhadap tanah airnya. " (HR Bukhari). Al-Hafidh Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari juz 3, hal.705 menjelaskan bahwa hadits tersebut menunjukan keutamaan Madinah dan dianjurkannya mencintai tanah air serta merindukannya. Sehingga dalam konteks Indonesia, menjaga kemerdekaan RI, melestarikan nilai-nilai Pancasila, meneguhkan semboyan Bhineka Tunggal Ika, dan melaksanakan amanat Undang-Undang 1945 adalah bagian dari iman dan agama. 

Syekh Muhammad Amin As-Syinqithi sebagaimana dikutip Muhammad Said dalam kitab Al-Difa’ ani Al-Wathan min Ahammi Al-Wajibati ala Kulli Wahidin Minna halaman 24-25 mengatakan bahwa Al-Qur’an telah memposisikan umat Islam pada posisi yang merdeka, mulia, terhormat, maju, dan mandiri. Ketika umat Islam dalam posisi terbelakang, miskin, atau dalam kondisi yang mundur, lebih disebabkan oleh kecerobohan umat Islam sendiri, yaitu meninggalkan kewajiban dalam mengelola kehidupan duniawi. Imam An-Nawawi menyatakan dalam pendahuluan kitab al-Majmu’ bahwa wajib hukumnya bagi umat Islam untuk bekerja, mandiri, dan produktif dalam segala kebutuhan, walaupun hanya memproduksi sebuah jarum maupun garam. Umat Islam tidak boleh tergantung pada umat lain. Sebab tolok ukur kekuatan umat Islam tergantung terhadap kemandiriannya dalam mencukupi kebutuhan. Dengan demikian sebagai seorang muslim Indonesia, semangat kemerdekaan dapat diwujudkan dengan pengoptimalan produktivitas sesuai profesi masing-masing. Jika menjadi pejabat, jadilah pejabat yang baik, amanah, jujur, dan tidak korupsi. Jika menjadi pendidik, jadilah pendidik yang baik, produktif dalam karya ilmiah, jujur, dan mengabdi di masyarakat. Jika menjadi pelajar, jadilah pelajar yang rajin menuntut ilmu di bidang masing-masing sebab kelak. Kompetensi keilmuan yang kini dipelajari pasti dibutuhkan oleh bangsa dan umat.

Eksistensi tanah air yang merdeka menjadi  penting untuk diperjuangkan. Al-Qur’an bahkan secara tersirat menyejajarkan posisi agama dan tanah air dalam Surat al-Mumtahanan ayat 8:

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Al-Mumtahanah: 8).  

Seorang pakar ilmu tafsir, KH Quraish Shihab menjelaskan bahwa ayat tersebut memberi pesan bahwa Islam menyejajarkan antara agama dan tanah air. Oleh Al-Qur’an keduanya dijadikan alasan untuk tetap berbuat baik dan berlaku adil. Al-Qur’an memberi jaminan kebebasan beragama sekaligus jaminan bertempat tinggal secara merdeka. Dengan demikian tidak aneh bila sejumlah ulama memunculkan jargon Hubbul Wathan Minal Iman (cinta tanah air sebagian dari iman). Langkah yang bisa dilakukan untuk menggelorakan semangat kemerdekaan adalah dengan mensyukuri secara sungguh-sungguh dan sepenuh hati atas anugerah keamanan kehidupan  beragama dan bernegara di Indonesia dari belenggu penjajahan dan konflik-konflik sosial yang menyengsarakan. Sebab, nikmat agung setelah iman adalah aman (a’dhamun ni‘ami ba‘dal îmân billâh ni‘matul aman).

Pada momentum 76 tahun merdeka, semoga Indonesia menjadi negara yang maju, aman, damai, sejahtera, dicintai rakyatnya, dan menjadi baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga Indonesia beserta umat muslim di dalamnya dari malapetaka hingga bisa diwariskan ke generasi-generasi berikutnya. Wallâhu a‘lam.

HUT RI 76  Dakwah Santri