Hari Ibu dalam Pandangan Islam: Islamku Memuliakan Ibuku

Jumat, 23 Des 2022, 14:11 WIB
Hari Ibu dalam Pandangan Islam: Islamku Memuliakan Ibuku
Hari Ibu

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu”. (QS Luqmân: 14).

 

Perintah Allah untuk berbuat baik kepada ibu datang segera setelah perintah untuk bertauhid dan menyembah-Nya. Islam menjadikan berbakti kepada ibu sebagai salah satu pangkal pokok kebaikan sekaligus menghadiahkan hak ibu lebih besar ketimbang bapak. Hak ibu lebih besar dibanding bapak karena ibu menanggung beban berat saat mengandung, melahirkan, menyusui dan mendidik anak. Hal ini ditegaskan di dalam al-Qur`an ayat di atas dan berulang pada lebih dari satu surat agar para anak memperhatikan dan menanamkannya di jiwa dan hati mereka. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan” (QS al-Ahqâf: 15). Ditambah lagi, sebuah hadits juga mengisahkan: Seorang laki-laki datang menemui Nabi Saw. dan bertanya: “Ya Rasulullah, siapakah yang paling berhak mendapat perlakuan baikku? Nabi menjawab: Ibumu. Ia bertanya lagi:Lalu siapa? Nabi menjawab: Ibumu. Ia bertanya lagi:Lalu siapa? Nabi menjawab: Ibumu. Ia bertanya lagi:Lalu siapa? Beliau menjawab: Bapakmu (HR Bukhârî).

 

Wujud mengabdi pada ibu adalah dengan berakhlak baik, menghormati, merendahkan diri di hadapannya, menaati perintah selain dalam maksiat, dan meminta ridla darinya dalam segala urusan. Bahkan dalam berjihad, jika jihadnya fardu kifayah, haruslah atas seizin ibu. Maka tak dapat ditampik bahwa berbakti pada ibu juga merupakan salah satu bentuk jihad. Dalam hadist diceritakan: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw. dan berkata:Ya Rasulullah, aku ingin berperang. Aku datang untuk meminta nasihatmu. Beliau bertanya: Kamu masih punya ibu? Ia menjawab: Ya. Beliau bersabda: Berbaktilah kepadanya. Sesungguhnya surga berada di kedua kakinya (HR. al-Nasâ`î).

 

Apabila menilik sejarah, beberapa ajaran pra-Islam cenderung mengabaikan posisi dan kemuliaan ibu. Selanjutnya Islam datang dengan seperangkat ajaran yang memuliakan serta menjunjung tinggi martabat dan kedudukan ibu. Bukan hanya ibu, melainkan juga bibi. Baik bibi dari pihak ayah maupun dari pihak ibu pun dimuliakan Islam begitu rupa. Seorang laki-laki mendatangi Nabi Saw. dan berkata:Aku telah melakukan dosa besar. Adakah kesempatan bagiku bertobat? Nabi Saw. bersabda: Apakah kamu masih punya ibu? Ia menjawab:Tidak. Nabi bertanya lagi: Apakah kamu masih punya khâlah (bibi dari pihak ibu)? Ia menjawab: Ya. Nabi bersabda: Maka berbuat baiklah kepadanya (HR. Tirmidzî). Dalam hal ini, di antara ajaran Islam paling mengagumkan adalah bahwa Islam tetap menyuruh berbuat baik kepada ibu walaupun ia seorang musyrik. Asmâ` bint Abi Bakr bertanya kepada Nabi Saw. tentang bagaimana ia berhubungan dengan ibunya yang musyrik. Nabi Saw. berkata padanya:Ya, tetaplah berhubungan dengan ibumu(HR Muslim).

 

Di antara perhatian serta penghargaan Islam terhadap ibu dan hak-haknya adalah bahwa ia menjadikan ibu lebih berhak atas pengasuhan anak-anaknya daripada ayah. Seorang perempuan berkata kepada Rasulullah Saw.:Ya Rasulullah, sesungguhnya anakku ini, dulu di perutku ia hidup, dari payudaraku ia menetek, dan di punggungku ia kugendong. Kemudian bapaknya menceraikanku dan bermaksud merebutnya dariku. Nabi Saw. berkata padanya: Kamu lebih berhak atas anakmu itu selama kamu belum menikah(HR Abû Dâwud). Masih dalam kaitannya dengan hak mengasuh anak, kekerabatan ibu lebih dekat dan lebih utama dibanding kekerabatan pihak ayah dalam hal kepengasuhan anak. Diriwayatkan, suatu ketika Sayyidina Umar dan istri yang diceraikannya mengadu kepada Sayyidina Abû Bakar tentang anak mereka yakniÂshim. Abû Bakar pun memutuskan bahwa Âshim jatuh ke tangan ibunya. Kepada Umar, Abû Bakar berujar: Aroma mantan isterimu, penciumannya, dan kata-katanya lebih baik untuk anakmu dibanding kamu.

 

Al-Qur`an mengabadikan beberapa nama ibu salehah sebagai pelajaran dan arahan bagi kaum Mukmin. Bagi pembinaan iman, kisah mereka memiliki pengaruh yang cukup signifikan. Ada ibunda Nabi Mûsâ yang memenuhi petunjuk Allah lewat ilham untuk menghanyutkan anaknya, belahan jiwanya, ke sungai Nil. Ia yakin seutuhnya akan janji Tuhan yang akan mengembalikan anaknya. Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa: Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul (QS al-Qashash: 7).

 

Ada Ibunda Siti Maryam yang menazarkan janin dirahimnya untuk Allah. Dia berdoa setulus hati kepada Allah supaya Dia menerima nazarnya:Terimalah (nazar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS Âli Imrân: 35). Ketika bayi yang lahir ternyata perempuantidak seperti yang dia angankanibunda Maryam tetap menunaikan nazarnya seraya memohon kepada Allah untuk menjaga anaknya (Maryam) dari segala keburukan:Aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada setan yang terkutuk (QS Âli Imrân: 36).

 

Kemudian Maryam putri Imrân, ibunda NabiÎsâ al-Masîh. Al-Qur`an menjadikannya lambang kesucian, pengabdian kepada Allah dan keyakinan terhadap ayat-ayat-Nya: “Dan Maryam puteri Imrân yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat” (QS al-Tahrîm: 12).

 

Islam tidak mengkhususkan tanggal tertentu untuk merayakan hari ibu, sebab Islam memuliakan ibu sepanjang hayatnya, bahkan setelah kematiannya. Adalah kewajiban para anak untuk memuliakan, berbuat baik, dan menjaga ibu mereka setiap saat, setiap waktu. Ibulah yang mengandung, melahirkan, mengasuh, mendidik, berjuang, berkorban, dan menanggung banyak beban demi kebahagiaan anak-anaknya. Ibu selalu menjaga nikmat yang dianugerahkan Allah, yakni nikmat umûmah (keibuan), membimbing dan meluruskan anak-anaknya agar mereka tumbuh menjadi generasi yang unggul berbekal iman, kasih-sayang, kebaikan, kemurahan hati, dan kesetiaan yang total terhadap kebenaran. Seorang ibu begitu berharga dan mulia, selamanya. Tidak ada pilihan selain memuliakan dan berbuat baik kepadanya, setiap saat baik selagi ia masih hidup maupun setelah meninggal.

Santri Pesantren Gading Malang  Santri Gading  Dakwah Santri 
Nahrowi Ihsan S.Sos

Penulis merupakan seorang akademisi yang bermukim di Kota Malang

Bagikan