Enggan Berdzikir Karena Belum Bisa Khusuk?

Jumat, 16 Sep 2022, 18:43 WIB
Enggan Berdzikir Karena Belum Bisa Khusuk?
KH. Ahmad Arif Yahya dalam rangkaian Acara Haul dan Manaqib Kubra Syekh Abdul Qodir Al-Jailani RA. (Dok. PPMH)

Dalam bab permasalahan dzikir, Rasulullah SAW menyamakan kedudukan orang yang senantiasa mendawamkan dzikir sebagaimana orang yang tabah (melawan musuh) ketika pasukan lainnya melarikan diri. Sebaliknya, terhadap orang-orang yang tak mau berdzikir, ataupun majlis-majlis yang di dalamnya tidak dilakukan dzikir, Rasulullah mengatakan mereka selayaknya berbau bangkai khimar, mereka akan merugi.

Dalam riwayah lain, Rasulullah saw  mengatakan, dalam diri hati manusia terdapat dua buah bilik, satu bilik untuk tempat malaikat, satu bilik lainnya ditempati syetan. Ketika seseorang berdzikir kepada Allah, syetan berlari keluar. Sebaliknya, etika seorang insan lupa akan Allah, syetan pun nyaman menguasai hati manusia dan mengusilinya.

Dalam beberapa hadist, banyak disebutkan mengenai hal berdzikir. Menurut Imam Izzuddin bin Abdus Salam, hadist-hadist tersebut biasa disamakan dengan kata “perintah”. Sebab, perbuatan baik, atau setiap perbuatan yang dijanjikan akan diberi kebaikan dunia akhirat, maka itu diperintahkan. Akan tetapi, kata perintah tak selalu menunjukkan makna wajib. Bisa tergolong kewajiban, jika ada beberapa dalil yang mendukung atau menunjukkan kewajiban secara jelas. Akan tetapi sebagai seorang hamba selayaknya kita berusaha terus berdzikir untuk semakin mendekatkan diri kepada Sang Maha Esa.

Sepaham dengan itu, Ibnu Athoillah berkata, sesorang hendaknya terus membiasakan berdzikir. Jangan sampai tidak mau berdzikir dikarenakan belum bisa khusyuk. Karena, meninggalkan dzikir lebih parah daripada dzikir yang belum khusyuk. Dari ala-ala bentuk dzikir yang tidak khusyuk tersebut, lambat laun akan naik menjadi dzikir yang disertai dengan kesadaran hati. Dari tahap itu, kemudian naik lagi menjadi dzikir yang benar-benar khusyuk kepada Allah.

Oleh karena itu, sebagai hamba yang mengharap penghambaan kepada Allah, seyogyanya kita terus dituntut untuk selalu berikhtiar mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Toh, semua itu juga butuh beberapa langkah untuk bisa dikatakan kamil, bukan hanya urusan lahiriyah saja, tapi urusan batiniah juga butuh yang namanya proses. Teruslah berusaha menapaki langkah menuju-Nya. Semoga kita tergolong orang yang mutqin dalam mencapai ridho-Nya.  Wallahu a'lam bishawab.

 

 

*) Disarikan dari pengajian KH. Ahmad Arif Yahya

KH. Ahmad Arif Yahya  Faidah Berdzikir 
Tim Redaksi

Tim redaksi website PPMH

Bagikan