Tabarruk Sahabat Nabi SAW (Bagian 2)

Rabu, 29 Jun 2022, 19:43 WIB
Tabarruk Sahabat Nabi SAW (Bagian 2)
Ngaji (Dok. PPMH)

Sudah menjadi sunnatullah jika terjadinya musabab terlahir karena adanya sebab. Dalam hal ini Allah SWT menjadikan beberapa hal sebagai sumber berkah agar menjadi sebab sebuah tujuan yang dikehendakiNya. Allah SWT menginginkan agar manusia mengetahui terhadap benda-benda, tempat-tempat, waktu-waktu, dan pribadi-pribadi yang mempunyai kedudukan khusus di sisi-Nya. Akhirnya, ia menjadi sarana Allah SWT untuk memberkati orang yang ingin mencapai kesembuhan dari penyakit, pengkabulan doa, pengampunan dosa, dan lain sebagainya.

Dalam catatan sejarah Islam, tabarruk juga pernah dilakukan oleh sahabat Nabi SAW. Diceritakan dari Ja’far bin ’Abdillah bin al-Hakam, suatu ketika Khalid bin Walid, seorang panglima tentara Islam, kehilangan kopyahnya ketika Perang Yarmu’.  Saat itu Khalid minta tolong kepada orang-orang untuk mencarinya. Setelah dicari kesana kemari, kopyah itu belum juga ditemukan. Khalid terus memaksa para sahabat mencarinya kembali. Setelah ditemukan, sahabat terheran-heran karena ternyata barang yang dicari tak lain hanyalah kopyah yang sudah kusam. Lalu Khalid bercerita, ketika Rasulullah SAW umrah, ia mencukur rambut beliau saat tahallul. Saat itu orang-orang berdesak-desakan hendak berebut mengambil sisa potongan rambut beliau. Kemudian aku bergegas mengambil rambut beliau pada bagian ubun-ubun dan aku letakkan di dalam kopyah ini. “Belum pernah aku berperang sambil memakai kopyah ini kecuali selalu diberi kemenangan.” (H.R. Thabrani dan Abu Ya’la)

Dalam riwayat Imam Muslim juga diceritakan dari sahabat Anas bin Malik, saat Nabi SAW melaksanakan lempar jumrah, beliau pergi ke tempat beliau di Mina dan menyembelih kurban. Lalu beliau berkata kepada tukang cukur, “Ambil.” Sambil mengatakan demikian beliau berisyarat ke bagian kanan kemudian bagian kiri. Kemudian beliau membagikan potongan rambutnya kepada orang-orang Islam. (H.R. Muslim). Menurut Imam Nawawi, hadits ini mengandung banyak faedah, antara lain hukum sunnahnya memulai dari sisi kanan saat mencukur, sucinya rambut anak Adam yang telah lepas, hukum bolehnya pengambilan rambut Nabi SAW dengan alasan mengambil berkah, serta kesamaan hak antar sahabat Nabi SAW dalam hal pemberian hadiah.

Dalil yang lain adalah mengenai cerita tokoh kafir Quraisy bernama Urwah bin Mas’ud. Setelah memperhatikan hal ihwal Nabi SAW dan para sahabatnya ia bercerita kepada kawan-kawannya, “Wahai kaum Quraisy, Demi Allah aku sering menjadi delegasi kepada Raja Kisra, Kaisar dari Raja Najasyi. Demi Allah belum pernah aku temui raja-raja itu diagungkan oleh pengikut mereka, seperti cara para sahabat dalam hal mengagungkan Muhammad. Demi Allah jika ia meludah pasti jatuh pada tangan seseorang dari mereka lalu ia usapkan pada wajah dan kulitnya. Jika ia memerintahkan sesuatu, maka mereka bergegas menjalankannya. Jika ia berwudhu maka mereka berebut sampai saling bertengkar untuk mendapatkan air sisa wudhunya. Jika ia berbicara, mereka tidak berani mengeraskan suara, mereka tidak berani menatap lama karena sangatnya rasa hormat. Telah datang pada kalian pengamatan yang cermat, maka kalian terimalah.” (H.R. Ibnu Hibban).

Hadits lain dari sahabat Anas bin Malik menceritakan, suatu ketika Nabi SAW masuk ke rumah Ummu Sulaim lalu tidur di atas tikar. Saat itu, Ummu Sulaim sedang tidak ada di rumahnya. Di hari yang lain, Nabi Muhammad SAW datang lagi ke rumahnya dan tidur di tempat yang sama. Ketika itu ada orang yang memberitahukan Ummu Sulaim bahwa Nabi SAW tidur di rumahnya. Lalu ketika Nabi SAW masih dalam posisi tidur, Ummu Sulaim datang dan mendapati keringat Nabi SAW mengenang di permukaan tikar. Maka Ummu Sulaim membuka kotak kecilnya lalu mengelap keringat Nabi SAW dan memerasnya kedalam botol. Tiba-tiba Nabi SAW terbangun dan berkata, “Apa yang kamu lakukan wahai Ummu Sulaim?” Ummu Sulaim menjawab, ”Wahai Rasulullah, aku mengharap barokahmu untuk anak-anak kami.” Rasulullah berkata, “Kamu benar”. (H.R. Muslim)

Dan masih banyak lagi dalil-dalil tabarruk yang dilakukan oleh sahabat Nabi SAW. Imam Bukhari dan Muslim sama-sama meriwayatkan perihal Asma’ bin abu Bakar yang menunjukkan jubah Rasulullah SAW kepada Abdillah bin Kaisan, sahayanya, dan berkata, ”Ini adalah jubah Rasulullah SAW yang dulunya disimpan oleh Aisyah hingga Aisyah wafat. Sekarang aku yang menyimpannya. Kami mencucinya (dan airnya kami berikan) kepada orang yang sakit untuk penyembuhan.”

Menilik hadits dan kisah sahabat-sahabat di atas kita temukan hikmah dalam hal tabarruk. Tentunya kita tidak bisa mencap syirik kepada Asma’ binti Abi Bakar yang mencari keberkahan dengan meminum air perasan dari jubah Rasulullah SAW. Begitu juga Ummu Sulaim yang mengumpulkan keringat Nabi SAW yang tujuannya mengambil berkah untuk anak-anaknya. Apalagi pengambilan berkah ini mendapat restu dari Rasulullah SAW. Bahkan dalam riwayat yang sudah disinggung pernah beliau sendiri yang memberikan rambutnya kepada para sahabat.

Hal ini mengindikasikan bahwa tabarruk diperbolehkan oleh agama selama tidak melanggar syariat Islam. Artinya, orang yang bertabarruk tidak memiliki keyakinan bahwa benda atau perbuatan itulah yang bisa mendatangkan manfaat, melainkan Allah SWT. Jika sampai meyakini barang-barang tersebut yang memberi manfaat, maka hukumnya haram karena termasuk perbuatan syirik. Untuk itu perlu kita pahami bahwa segala bentuk tabarruk hanyalah dijadikan fasilitas atau jalan (wasilah) untuk mencapai sesuatu dan keberhasilannya adalah semata-mata atas pertolongan Allah SWT dengan perantara hal-hal yang berkaitan dengan kekasih atau sesuatu yang dicintai-Nya.


Bagikan