Sabtu, 16 Okt 2021, 10:14 WIB

Psikologi Surat Al-fatihah: Menggali Tafsir Psikologi dan Tipe Kepribadian dalam Surat Al-fatihah

Bagikan

Psikologi Surat Al-fatihah: Menggali Tafsir Psikologi dan Tipe Kepribadian dalam Surat Al-fatihah
Surat Al-fatihah

Surat Al-Fatihah merupakan surat yang pertama atau sebagai pembuka dalam kitab suci Alquran, surat Al-Fatihah merupakan surat yang dibaca tiap kali melaksanakan sholat. Surat ini terdiri dari 7 ayat. Yaitu surat yang disebut sab’ul matsani (tujuh yang diulang-ulang) sehingga surat ini sudah tidak asing lagi di kalangan kaum muslimin. Surat ini (sebagaimana surat lain dalam Al Quran) banyak mengandung hikmah dan makna di dalamnya. Diantara makna yang terkandung di sana adalah makna sifat keTuhanan, makna motivasi, etika, tasawuf dan tipe kepribadian. Makna sifat keTuhanan terdapat dalam ayat pertama sampai ayat keempat. Ayat pertama (yang berupa bacaan basmalah) memberikan motivasi bagi kita sebagai umat muslim untuk tetap semangat dalam melakukan kebaikan dan ibadah, tidak takut apapun kecuali hanya kepadaNya, karena dalam melakukan sesuatu kita selalu dibimbing, diarahkan dan selalu “dibarengi” oleh Allah sambil mengucapkan kalimat basmalah Bismillahirrohmanirohim” tadi (yang memiliki arti “dengan menyebut nama Allah”). Sebagai contoh, seorang anak kecil tidak akan merasa sendirian atau takut karena di sisinya selalu ada keluarganya dengan mengatakan “saya berani melakukan ini karena (dengan) “dibarengi” orang tua atau keluarga saya dan sebagainya”. Oleh karena itu, agar kita menjadi orang yang selalu percaya diri dan termotivasi dalam melakukan kebaikan, maka hendaknya selalu mengawali dengan bacaan basmalah atau selalu disandarkan kepada Allah SWT, karena Allah dalam memulai kitab suciNya saja juga dengan bacaan basmalah.

Di dalam ayat-ayat tersebut juga dijelaskan tentang sifat-sifat Allah yang terpuji dan Allah Yang Maha Terpuji. Tidak ada yang pantas untuk dipuji kecuali Allah SWT. Meskipun seorang makhluk (baik dari golongan malaikat, manusia dan jin) bisa melakukan sesuatu yang luar biasa atau bahkan memiliki sesuatu yang luar biasa pula, maka mereka pun masih tetap tidak layak untuk dipuji karena kehebatan ataupun sesuatu yang mereka miliki tadi itu semuanya atas izin Allah, sehingga tanpa kehendakNya, mereka pun tidak akan bisa atau memiliki apa-apa, oleh karena itu, dalam salah satu kitab tafsir dijelaskan bahwa yang berhak untuk dipuji hanyalah Allah SWT sebagai sang kholiq (pencipta). Di dalam ayat tersebut juga disebutkan tentang sifat Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Hal ini menunjukkan betapa luasnya rohmat Allah untuk mahluk dan hambaNya. Bahkan seberapa banyak dosa yang sudah diperbuat oleh seorang hamba (selama ia mau bertaubat), maka Allah akan menghapus dan mengampuni semua dosa yang ada, sehingga ayat tadi juga mengajarkan pada kita untuk selalu optimis dalam melakukan kebaikan demi mendapatkan rahmat tadi. Selain itu, untuk memahami keagungan Allah, diantaranya bisa dipelajari melalui sifat-sifatnya yang mulia, jangan (hanya) bertanya tentang Allah dengan pertanyaan dimana, bagaimana dan lain sebagainya, karena pertanyaan-pertanyan (5 W dan 1 H / What (apa), Who (siapa), When (kapan), Where (di mana), Why (kenapa), dan How (bagaimana)) itu adalah pertanyaan  untuk makhluk. Yang kedua, pertanyaan apapun "tentang" sifat dan keEsaan Allah jangan pernah (sekedar) ditanyakan dengan menggunakan analisa kemampuan otak (logika) saja (kecuali kemampuan logika tersebut bisa digunakan untuk semakin meningkatkan keimanan dan ketakwaan), tapi cukup lakukan saja semua perintah Allah, lakukan amal sholeh, maka jawaban atas pertanyaan-pertanyan yang ada di otak tadi akan terjawab dengan sendirinya. Oleh karena itu, mari kita tingkatkan olah kemampuan hati dengan memperbanyak amal ibadah atau amal kebaikan, daripada hanya sekedar mengandalkan kemampuan analisa atau pertanyaan yang bersumber dari logika saja, sehingga dengan demikian, akan semakin banyak ditemukan sirr (rahasia) dan semakin mengetahui kemuliaan dan keagungan Allah SWT sebagai satu-satunya Dzat yang patut disembah, satu-satunya tujuan hidup dan mati semua mahlukNya. Selain itu, dengan adanya penyebutan sifat-sifat Allah di atas seperti arrohman, arrohim, dan lain sebagainya adalah dalam rangka untuk bisa kita teladani. Bagaimana sifat Allah? Allah Maha Pengasih, bagaimana sifat Allah? Allah Maha Penyayang dan seterusnya, sehingga dalam menjalankan perintahNya juga apakah kita sudah menerapkan kasih sayang antar sesama atau belum? Apakah kita sudah saling mengasihi atau sebaliknya? Dan seterusnya. Oleh karena itu, sifat-sifat Allah tadi harus kita teladani kapanpun dan dimanapun karena Allah pemilik segalanya, Allah yang menguasai hari pembalasan karena hanya Allah yang akan membalas semua amal perbuatan hambaNya, sehingga dengan demikian kita sebagai manusia biasa, jangan pernah memiliki keangkuhan atau perasaan congkak atas apapun, karena yang Maha kuasa hanyalah Allah SWT.

Makna lain yang terkandung dalam surat Al-Fatihah adalah makna tasawuf dan atau etika. Hal ini bisa diketahui dari ayat kelima yang berbunyi إياك نعبد وإياك نستعين (Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan). Jika dilihat urutan kalimat yang tertera di atas adalah lafadh نعبد (menyembah) lebih dahulu, baru disusul dengan lafadh نستعين (meminta pertolongan), bukan “meminta pertolongan” dulu, baru “menyembah”, sehingga dari adanya “urutan” tata letak lafadh ini diantaranya kita bisa mengambil pelajaran etika bahwa sebelum meminta, seharusnya kita menyembah dahulu, jangan hanya sekedar menuntut saja, tapi lakukanlah kewajiban terlebih dahulu sebelum menuntut haknya. Hal seperti ini dalam konsep psikologi organisasi dijelaskan dengan adanya perilaku manusia yang sangat berhubungan dengan perannya sebagai seorang induvidu maupun kelompok. Seorang individu tidak akan mendapatkan haknya tatkala banyak kewajiban yang diabaikan. Jika kewajiban sudah dilaksanakan dengan baik, maka hak akan diberikan sebagaimana mestinya, sehingga keseimbangan dalam sebuah organisasi pun akan berjalan dengan baik karena hak dan kewajiban ditunaikan sebaik-baiknya pula (bukan hanya sekedar menuntut haknya saja). Selain itu, dalam konsep نستعين  (meminta tolong), Allah SWT memang sangat senang ketika mendengar hambanya meminta kepadaNya, bahkan Allah pun sudah berjanji untuk mengabulkan permintaan seorang hamba yang meminta kepadaNya, meskipun demikian, kita sebagai seorang hamba harus tau diri dengan memiliki etika. Dalam meminta pertolongan kepada Allah hendaknya dengan lebih banyak mendekatkant diri kepadaNya terlebih dahulu, memperbanyak amal ibadah, menjalankan apa yang diperintahkan dan mejauhi yang dilarangNya, setelah itu (secara etika) kita bisa meminta pertolongan yang banyak pula kepadaNya. Jangan sampai terbalik dengan hanya banyak meminta atau menuntut saja tetapi lalai dengan menyembahNya, lalai dengan semua anjuranNya, lalai mejalankan ibadah kepadaNya dan seterusnya, Naúdzubillah. Adanya posisi letak lafadh نعبد (na’budu/menyembah/ibadah) lebih dulu daripada lafadh نستعين (nasta’in/pertolongan) ini juga menunjukkan bahwa ketika kita beribadah, ketika sujud kepada Allah, itu hakekatnya adalah karena pertolongan Allah SWT, kita tidak akan bisa melakukan apapun (termasuk dalam hal ibadah) kecuali atas ijin dan pertolonganNya, sehingga dari ayat ini kita diajari etika yang baik, tidak sombong dengan menganggap semua karena diri kita sendiri, tetapi semua kebaikan yang kita lakukan adalah atas kasih sayang dan kehendakNya. Selain itu, ayat kelima surat Al Fatihah yang menggunakan lafadh إياك ini diantaranya bisa memiliki arti tahassus (تحصّص), apalagi jika dijadikan sebagai dhomir munfasil dan diletakkan di depan kalimat lain, sehingga kita juga diajari etika dalam meminta pertolongan hendaknya hanya meminta kepada Allah saja, bukan pada yang lain, termasuk juga hanya kepada Allah kita menyembah, bukan pada yang lain pula.

Pembahasan lain yang terdapat dalam lafadh  نعبد dan نستعين ini adalah adanya kata ganti atau isim dhomir yang digunakan, yakni mutakallim maál ghoir (kami). Kata “kami” menunjukkan sebuah kebersamaan, bukan individual, sehingga berdasarkan lafadh ini bisa diketahui pentingnya sebuah kebersamaan atau jamaah (dalam teori psikologi disebut dengan kohesifitas), karena kita adalah makhluk sosial atau community, bukan makhluk individual, kita tidak boleh egois dengan mementingkan kepentingan pribadi, karena Islam sangat mengajarkan tentang kebersamaan itu sendiri (namun hal tersebut dilakukan demi melakukan kebaikan), seperti ketika kita berdoa saja, hakekatnya dari lafadh نستعين (nasta’in/meminta pertolongan) ini, kita juga mendoakan orang lain, tidak hanya mendoakan diri sendiri karena yang digunakan adalah kata “kami” bukan “saya” atau “aku”, “kami meminta tolong” bukan “saya (aku) meminta tolong”, sehingga perilaku mendoakan orang lain ini juga merupakan salah satu ciri kepribadian orang yang baik, peduli pada sesama dan bebas dari sifat dengki karena tidak hanya fokus (egois) memikirkan dirinya sendiri.

Makna berikutnya yang terkandung dalam surat al-fatihah ini adalah terkait dengan tipe kepribadian. Di sana dijelaskan 3 (tiga) tipe kepribadian orang yang yang harus kita ketahui, pertama adalah kepribadian orang yang diberi nikmat (mun’am/ أَنْعَمْتَ), kepribadian ini adalah kepribadian orang-orang yang sholeh atau atau kepribadian orang yang dicintai oleh Allah SWT., kepribadian orang yang selalu menjalankan perintah Allah dan mejauhi laranganNya, kepribadian orang yang melakukan kebaikan secara vertikal (hablum minallah) dan baik secara horizontal (hablum minannas atau secara sosial), sehingga Allah meridhoi mereka karena mereka ridho pada Allah (rodhiayallohu ‘anhum wa rodhu ‘anhu). Kepribadian ini biasanya dimiliki oleh para Nabi dan orang-orang yang sholeh.

Tipe kepribadian yang kedua adalah tipe kepribadian maghdhub (مغضوب), yaitu kepribadian orang yang dibenci oleh Allah SWT. Siapakah orang yang dibenci oleh Allah tersebut? Yaitu orang-orang yang sudah tahu dan mengerti tentang sebuah kebenaran, tapi ia tidak mau mengakui atau mengikutinya, orang yang sudah tau tentang kebaikan, tapi ia tidak mau menjalankannya, termasuk juga kepribadian orang-orang yang sombong dan suka menghina orang lain serta kepribadian orang-orang yang memiliki self control rendah karena mudah sekali ia melampiaskan emosi negatifnya pada sesama. Dalam pandangan psikologi, tipe kepribadian seperti ini juga bisa jadi masuk kategori gangguan kepribadian antisosial, yakni kepribadian orang yang suka memperlakukan orang lain dengan tidak baik dan menghalalkan segala cara demi mendapatkan apa yang diinginkannya, sehingga tipe orang-orang seperti ini biasanya masih membutuhkan pendampingan dan terapi dengan harapan bisa berubah menjadi lebih baik daripada sebelumnya (taubatan nashuhah).

Tipe kepribadian terakhir yang dijelaskan dalam ayat ini adalah tipe kepribadian yang disebut dengan dholl (ضالين), yaitu kepribadian orang yang sesat (orang-orang yang menyimpang, yang tidak menempuh jalan yang benar atau jalan yang seharusnya). Kepribadian ini adalah kepribadian orang yang “bingung”, orang yang tidak memiliki arah atau tujuan yang jelas dalam hidupnya. Dalam pandangan Islam, orang seperti ini adalah orang-orang yang menyimpang dari ajaran agama karena mareka telah meninggalkan jalan yang lurus, jalan kebajikan, jalan kebenaran dengan meninggalkan petunjuk Allah SWT. Diantara tipe kepribadian dholl yang lain adalah orang-orang yang mudah putus asa dan berdusta karena mereka mengingkari akan keagungan dan keesaan Allah. Dalam padangan psikologi, orang yang sesat dan suka putus asa seperti ini biasanya dikategorikan sebagai orang yang mengalami gangguan jiwa (psikopatologi), karena dia tidak “sadar” dengan menafikan potensi yang ada pada dirinya untuk selalu mencari kebenaran atau kebaikan, sekaligus juga sebagai individu yang sudah tertipu dengan kebenaran semu karena menolak kebenaran yang hakiki dalam Islam, sehingga perilaku yang muncul biasanya adalah perilaku hedonis dan materialistis (yakni sikap berfoya-foya dan memuja harta benda saja dengan menganggap itu semua akan kekal selamanya, padahal anggapan seperti ini adalah salah, yang kekal hanyalah Allah SWT, yang nikmat adalah nikmat ukhrowi, bukan nikmat duniawi).

Inilah diantara penjelasan tafsir psikologi dari surat Al Fatihah, semoga dengan sedikit uraian di atas, bisa menambah kayakinan dan keimanan kita kepada Allah SWT, bisa memberikan motivasi diri untuk selalu berkembang lebih baik lagi, serta sebagai pedoman untuk melangkah pada semua yang diridhoi oleh ilaahi robbi. Amien Ya Robbal ‘Aalamin, Wallaahu A’alam Bish Showaab.

Tafsir Alquran  Santri Pesantren Gading Malang  Kitab Tafsir Jalalain  Alfatihah 
Bagikan