Psikologi Kenabian - Sosok Pribadi dan Keistimewaan Rasulullah SAW.

Ahad, 14 Nov 2021, 19:10 WIB
Psikologi Kenabian - Sosok Pribadi dan Keistimewaan Rasulullah SAW.
Shalawat

"Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu, (yaitu) orang yang mengharap (ridha) Allah, (kedatangan) hari akhirat dan mengingat Allah sebanyak-banyaknya..."

(QS. Al-Ahzab: 21).

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat (keimanan dan keselamatan bagimu), amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”

(QS. At-Taubah: 128).

Mendengar nama Rosulullah SAW tentunya kita akan mengingat satu sosok utusan yang luar biasa di muka bumi dan bahkan di akhirat ini, sosok yang ketika lahir sudah terkhitan dan juga sudah terputus tali pusarnya yang sekaligus tanpa dibarengi oleh darah kelahiran sehingga sosok itu adalah sosok yang sangat suci mulai dari sejak lahir hingga pada jasad beliau setelah meninggal, sosok yang sebelum diciptakannya bumi seisinya ini dengan jarak 2000 tahun telah diciptakan beliau Rosulullah dari nur ilahi (cahaya Allah SWT), sosok yang ketika membaca sholawat kepadanya menjadi sebuah “mas kawin” atau sahnya “pernikahan” Nabi Adam dengan Sayyidah Hawa’, sosok yang secara lahiriah merupakan keturunan dari Nabi Adam AS namun secara ruhaniah justru Nabi Adam AS adalah “turunan” Rosulullah (karena penciptaannya lebih dahulu Nur Muhammad daripada Nabi Adam), sosok yang adanya surga itu diciptakan karena kehadirannya sehingga surga itu pun diharamkan bagi umat manusia sebelum Rosulullah memasukinya terlebih dahulu, sosok yang diutus tidak hanya pada satu generasi, satu periode atau satu alam saja tetapi diutus untuk seluruh alam lintas generasi ila yaumil qiyamah, sosok yang benih kelahirannya telah dititipkan pada tulang rusuk Nabi Adam (yang karena benih suci tersebutlah diantaranya Nabi Adam bisa diterima taubatnya oleh Allah SWT) kemudian dititipkan pada Nabi Nuh (sehingga berkah benih Rosulullah itu juga Nabi Nuh bisa diselamatkan dari dalam perut ikan) hingga “penitipan” benih tersebut sampai pada Bapak para Nabi yaitu Nabi Ibrahim AS (sehingga Nabi Ibrahim pun bisa diselamatkan dari terbakarnya api kaumnya karena dalam diri beliau ada benih suci Rosulullah SAW), sosok itu adalah sosok yang tidak memiliki bayangan diri dan tidak bisa digambar karena tercipta dari cahaya (dan cahaya tidak bisa digambar meskipun terkadang bisa dideskripsikan), sosok suci yang terjaga silsilahnya mulai dari pendahulunya sampai ia dilahirkan, sosok mulia yang dari kecil sudah diiringi awan (sehingga tidak terasa panas) ke mana pun ia pergi, sosok yang karenanya umat muslim nantinya bisa diselamatkan dari api neraka berkat syafaatul udhmah-nya, sosok itu tidak lain adalah sosok Rosul akhir zaman yaitu Rosulullah Muhammad SAW Ibni Abdillah Rodhiallahu ‘Anhu.

Rosulullah SAW adalah seorang utusan yang tatkala dipandang wajahnya maka hilanglah semua keluh kesah dari orang yang memandangnya tersebut, hal ini dikarenakan cahaya kewibawaan dan ketampanan beliau yang selalu terpancar dari wajahnya, Rosulullah SAW juga seorang anak manusia yang digambarkan dalam sebuah hadist sebagai orang yang sangat diagungkan, mukanya bercahaya seperti bulan purnama, perawakannya lebih tinggi dari yang sedang dan lebih pendek dari yang sangat tinggi, rambutnya tersisir rapi, jalannya tegap dengan lemah lembut dan cepat, selalu menundukkan pandangannya dan lebih sering melihat ke bawah daripada ke atas, pandangan matanya tajam serta memberi salam kepada orang yang menjumpainya. Bahkan Rosulullah adalah satu-satunya utusan yang namanya diabadikan dengan disandingkan bersamaan nama Agung Allah SWT (diantaranya dalam kalimat syahadat atau kalimat tahlil), bahkan juga seorang utusan yang namanya pun diambilkan dari salah satu asma’ (nama) Allah yang mulia. Hal ini tersirat dalam sebuah hadist qudtsi yang berbunyi “ana muhammadun bila miimin wa anaa ‘arabiyun bila ‘ainin (Aku (Allah SWT) adalah Muhammad tapi tanpa huruf mim (yakni Ahmadun/Dzat yang terpuji) dan Aku (Allah SWT) adalah ‘arabiyun tanpa huruf ‘ain (yakni robbiyun/Tuhan yang Maha Esa)”. Gambaran lain dari seorang Rosul akhir zaman ini adalah sebagai orang yang sangat bijaksana (salah satunya terlihat pada saat menyelesaikan konflik peletakan hajar aswad pada tempatnya), penuh dengan kasih sayang (terlihat dari seringnya memaafkan orang-orang yang telah mendholiminya seraya mendoakan agar orang tersebut diberi petunjuk), senantiasa menunjukkan perangai yang terpuji sehingga bisa menjadi suritauladan bagi umat manusia sepanjang sejarah dunia. Rosulullah juga dikenal sebagai individu yang mempunyai kepribadian yang utuh dan bagus dengan sifat Fathanah, Amanah, Shidiq dan Tablighnya, pribadi yang ikhlas untuk beramal, baik dengan harta, kedudukan dan bahkan jiwanya sekalipun demi dakwahnya yang mulia.

Nabi Muhammad SAW 
Bagikan