Perlindungan Hak-hak Dasar Manusia dan Keberpihakan Islam pada Kelompok Mustadh’afin

Sabtu, 02 Okt 2021, 15:42 WIB
Perlindungan Hak-hak Dasar Manusia dan Keberpihakan Islam pada Kelompok Mustadh’afin
KH. Baidhowi Muslich memberikan Santunan kepada Anak Yatim (Dok.PPMH)

Islam hadir sebagai agama pembebasan dari segala macam hal yang tidak berperi-kemanusiaan dan nir-moral. Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamiin yang menjadi kekuatan revolutif terhadap kekuasan yang menindas. Dalam prosesnya, pembebasan dan gerakan revolusioner ini meniscayakan adanya tranformasi sosial, politik dan budaya dari kondisi jahiliyyah menuju kehidupan yang bermartabat. Semangat pembebasan ini sudah dirintis sejak awal turunnya ajaran Islam di Makkah 14 abad yang lalu oleh Nabi Muhammad saw sebagai pemimpin besar umat Islam. Rangkaian ajaran agama  seperti etika (akhlaq), hukum agama (fiqh) dan keimanan (tauhid) juga mencerminkan kepedulian Islam terhadap unsur-unsur kemanusiaan dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Contoh konkritnya dapat dilihat dari peranan Islam dalam membongkar praktik relasi kuasa yang timpang antara laki-laki dan perempuan, si kaya dan si miskin, penindas dan tertindas dalam kehidupan sosial. Bila dulu sebelum Islam hadir, budaya arab jahiliyyah memandang perempuan sebagai aib sehingga mengubur bayi perempuan hidup-hidup dianggap sebagai tindakan yang bisa menyelamatkan kehormatan keluarga, maka Islam menentang keras praktik keji itu dengan memberikan konsep kesetaraan derajat bagi laki-laki dan perempuan. Islam juga menolak keras budaya fanatisme kelompok, suku, kabilah atau klan yang kala itu mengakar di masyarakat arab jahiliyyah. Itu adalah sedikit contoh bagaimana ajaran Islam mensubversi budaya lama (status quo) yang tidak adil.

Dalam upaya menjaga kemanusiaan, Islam juga memberikan landasan bagi pemenuhan hak-hak dasar manusia baik secara individual ataupun kelompok, yang dalam literatur kitab-kitab fiqh klasik terdiri dari lima aspek. Pertama, hifdzu an-nafs, jaminan atas keselamatan fisik seseorang atau kelompok dari tindakan yang mencelakaan di luar ketentuan hukum. Kedua, hifdzu ad-diin, jaminan keselamatan atas hak-hak dasar untuk berkeyakinan atau memeluk agama masing-masing tanpa ada paksaan. Ketiga, hifdzu an-nasl, jaminan keselamatan atas hak berkeluarga dan berketurunan. Keempat, hifdzu al-maal, jaminan keselamatan atas hak dasar kepemilikan harta benda dari kejahatan di luar ketentuan hukum. Kelima, hifdzu al-aqli, jaminan keselamatan atas hak milik dan profesi. 

Dalam konteks kehidupan bernegara, penjaminan atas hak-hak dasar tersebut tidak hanya wajib dilakukan oleh individu atau kelompok masyarakat saja, tetapi juga menjadi tugas bagi negara. Oleh karenanya, kepastian dan penegakan hukum yang melindungi hak-hak tersebut menjadi mutlak adanya. Namun, tidak jarang tarik ulur kepentingan antar kekuasaan menyebabkan sulit terwujudnya penjaminan hak-hak dasar tersebut. Tidak hanya itu, pembangunan dan modernisasi juga memiliki dampak negatif bagi relasi sosial masyarakat dan menciptakan kesenjangan antara si kaya dan si miskin, mayoritas dan minoritas. Dalam hal ini, kelompok yang paling terdampak dan menjadi korban adalah wong cilik. Kelompok masyarakat yang terpinggirkan (marginal) oleh sistem dan struktur. Keadaan ini tentu menghambat perkembangan masyarakat ke arah kehidupan yang maju dan bermartabat. Lantas, bagaimana Islam menyikapi persoalan ini?

Keberpihakan Islam kepada Kelompok Marginal (Mustadh’afin)

Ada banyak dalil baik hadits ataupun ayat al-Qur’an yang menjelaskan sikap Islam terhadap kelompok marginal (mustadh’afin). Syaikh Muhyidin Yahya bin Sharaf al-Nawawi (w.676 H) dalam kitab beliau yang berjudul Riyadhu as-Sholihin menerangkan bagaimana sikap umat Islam terhadap kelompok ini. Dalam bab ke-33, Muallif menjelaskan tentang bagaimana seharusnya manusia bersikap lemah lembut terhadap anak yatim, anak perempuan, dan orang lemah yang lain, kaum fakir miskin, kelompok difabel dan berbuat baik, mengasihi, serta bersikap merendah diri kepada mereka. Beliau menjabarkan beberapa ayat dan hadits yang menunjukan keutamaan menghormati golongan mustadh’afin dan bagaimana posisi mereka dalam pandangan Islam.

Surat al-Ma’un ayat 1-3 yang beliau cantumkan memberikan ketegasan komitmen ajaran Islam dalam melindungi anak yatim dan fakir miskin. Berikut redaksi arti dari ayat-ayat tersebut; "Tahukah kamu (wahai Muhammad) siapa orang yang mendustakan agama? Dia adalah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang Miskin (QS. Al-Ma’un:1-3). Anak yatim berpotensi lebih besar dalam hal tidak terpenuhinya hak-hak dasar mereka daripada anak-anak lain yang unit keluarganya masih lengkap. Hak-hak dasar yang mencakup hifdzu an-nasl, Hifdu al-maal dan hifdu ad-diin berpotensi untuk tidak terpenuhi secara maksimal. Bentuk konkrit yang bisa kita lakukan untuk membantu menjamin hak-hak dasar anak yatim ini salah satunya dengan cara melakukan kegiatan santunan dalam hal pemenuhan hak-hak ekonominya dan pengajaran agama. Ayat ke-3 surat al-Ma’un menyebutkan pentingnya mengasihi fakir-miskin. Kelompok ini akan selalu ada. Akan tetapi, bukan berarti kita diperbolehkan untuk bersikap acuh tak acuh terhadap pemenuhan hak-hak dasar mereka. Tidak bisa dipungkiri, dalam menjalani kehidupan, orang kaya membutuhkan orang miskin, pun juga sebaliknya. Oleh karenanya, upaya membangun simbiosis mutualisme yang bebas dari dominasi dan eksploitasi wajib kita lakukan.

Syaikh Nawawi juga menuqil hadits Nabi yang memberikan penjelasan tentang keutamaan orang yang mencintai dan menanggung anak yatim serta berbuat baik kepada fakir miskin. Beberapa arti dari hadits tersebut adalah sebagai berikut: “Aku dan orang yang memelihara anak yatim itu di surga seperti ini.” Nabi Muhammad saw memberikan isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah dan merenggangkan antara keduanya itu.” (HR. Bukhari). Dari Abu Hurairah ra, juga mensanadkan sebagai berikut:“Pemelihara anak yatim, baik miliknya sendiri ataupun milik orang lain, saya (Nabi Muhamad saw) dan dia adalah seperti kedua jari ini di dalam surga.” Yang meriwayatkan hadits ini yakni Malik bin Anas mengisyaratkan dengan menggunakan jari telunjuk dan jari tengahnya.” (HR. Muslim). Tidak hanya itu, Islam juga memberikan perhatian khusus kepada perempuan yang lemah. Seperti disebutkan dalam hadits berikut yang artinya: “Barangsiapa yang menanggung dua anak perempuan sehingga keduanya memasuki usia baligh, maka dia datang pada hari kiamat, aku-nabi Muhammad saw- dan orang tersebut seperti dua jari ini (dan nabi Muhammad saw mengumpulkan jari-jari beliau).” (HR. Muslim). Dari beberapa dalil di atas, dapat dipahami bahwa perempuan-janda dan anak-anak-, fakir-miskin, anak yatim termasuk dalam golongan mustadh’afin yang diperhatikan oleh agama Islam. Orang-orang yang abai terhadap golongan ini juga mendapat peringatan keras dan dapat dicap sebagai pendusta agama.

Sudah jelas bagaimana posisi kelompok mustadh’afin ini dalam Islam dan bagaimana seharusnya kita sebagai umat Islam dan sesama manusia bersikap. Terlebih, bila melihat kondisi sulit saat ini, dimana pandemi covid-19 masih berdampak bagi kehidupan manusia di berbagai lini, sudah seyogyanya kita bahu membahu untuk melindungi hak-hak dasar saudara kita yang membutuhkan pertolongan. Tidak ada alasan untuk berkata tidak atau nanti saja pada hal-hal baik semacam ini. “Wa ta’aawanu ‘ala al-birri wa at-taqwa wa laa ta’aawanu ‘ala al-itsmi wa al-‘udwaani..... (Q.S al-Maidah:2)”. Wallahu a’lam.

Santri Pesantren Gading Malang  Santri Gading  Dakwah Santri 
Abdan Syakuro

Penulis adalah santri PP. Miftahul Huda, Gading Malang. Saat ini ia juga aktif sebagai asisten peneliti di Pusat Studi Pesantren Universitas Brawijaya. Bisa dihubungi melalui akun IG @abdansss atau surel abdanz01@gmail.com

Bagikan