Senin, 17 Ags 2020, 15:18 WIB

Peringatan Kemerdekaan RI ke-75; Wujud Syukur Atas Berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa

Bagikan

Peringatan Kemerdekaan RI ke-75; Wujud Syukur Atas Berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa
HUT RI KE 75 (dok. PPMH)

Dalam sambutan malam peringatan kemerdekaan RI ke-75, KH. M. Qusyairi menceritakan betapa pentingnya kita mengenal bangsa ini. Mengenal dalam arti mengetahui, memahami, dan menyadari secara utuh tentang sejarah NKRI. Sebuah pepatah mengatakan “tak kenal, maka tak sayang”. Hal ini menunjukkan semakin kita kenal maka semakin kita sayang, semakin cinta, dan semakin memiliki rasa handarbeni terhadap bangsanya sendiri. Beliau menceritakan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat besar. Besar wilayahnya, juga besar jumlah penduduknya. Terbukti jumlah penduduk kita menempati posisi terbesar ke-4 di dunia dengan jumlah penduduknya mencapai hampir 270 juta jiwa. Apalagi kalau melihat kemajemukan bangsa Indonesia yang memiliki 1.331 suku dan 651 bahasa daerah yang berbeda-beda, untuk menyatukannya tentu ini bukan perkara yang mudah.

Maka kita wajib bersyukur, atas berkat rahmat Allah SWT, bangsa kita bisa bersatu dalam satu wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Bhineka Tunggal Ika”, berbeda-beda tetap satu jua!. Kita sekarang ini sudah enak tinggal menikmatinya saja. Para pendahulu kita, mbah-mbah terdahulu lah yang berjuang luar biasa demi kemerdekaan Indonesia. Maka, sudah sepatutnya kita mensyukuri, menjaga, merawat, dan mencintai bangsa ini. Beliau juga memaparkan secara singkat dengan pendekatan historis bagaimana rasionalitas dari pernyataan bahwa kemerdekaan ini memang benar atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Menurut beliau, hal ini terbukti dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia yang bisa kita peroleh justru bukan dengan jalan peperangan. Jika kita jeli melihat sejarah, maka kita akan tahu betapa negara kita memang diberikan anugerah yang luar biasa oleh Allah SWT. Beliau juga mengatakan mungkin ini salah satu dari barokahnya para Masyayikh, para ulama kita yang berjuang full totalitas dohiron wa batinan.

Beliau melanjutkan ceritanya; dalam catatan sejarah, bangsa Indonesia pada mulanya masih terpisah-pisah kerajaan di berbagai wilayah. Kemudian datanglah penjajah bernama Belanda. Bertahun-tahun Belanda menduduki Indonesia, namun kita tak mampu mengusirnya. Peperangan demi peperangan terjadi, namun taktik Belanda selalu lebih canggih sehingga kita tak mampu mengalahkannya. Bayangkan saja, persenjataan kerajaan yang kala itu masih amat sederhana disuruh melawan Belanda yang persenjataannya sudah modern. Lagi pula Belanda juga terlalu mudah untuk mengalahkan bangsa Indonesia yang pada saat itu masih belum bersatu, masih terpisah-pisah sehingga mudah diadu domba (Devide Et Impera). Akan tetapi, ternyata Allah SWT memberikan kita pertolongan dengan cara yang lain. Maka diutuslah Jepang untuk datang ke Indonesia guna memerangi Belanda. Akhirnya Belanda pun betul-betul kalah, hengkang dari tanah air. Setelah itu, masa penjajahan digantikan oleh periode Jepang. Meskipun di satu sisi jepang memang menjajah, menguras kekayaan tanah air, namun di sisi lain Jepang juga mengajarkan militer kepada bangsa Indonesia.

Waktu demi waktu terus berjalan, bangsa Indonesia semakin terdidik terutama dalam bidang militer. Kita mulai mengenal senjata-senjata modern, senapan, laras panjang, bom dsb. Tantara-tentara dari rakyat Indonesia juga semakin berkembang hingga akhirnya memutuskan untuk angkat senjata berperang melawan Jepang. Secara logis, pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah pada saat itu Indonesia mampu melawan Jepang? Padahal Jepang lah yang mengajari kita tentang militer, tentu mereka lebih berpengalaman, lebih kuat dan memiliki senjata yang lebih lengkap. Ternyata lagi-lagi Allah SWT memberi kita pertolongan dengan cara yang lain. Cukup dengan peristiwa bom atom yang membombardir, memporak-porandakan Nagasaki dan Hirosima membuat Jepang terkalap kelabakan meninggalkan Indonesia. Pada saat itulah Indonesia mengalami masa vacuum of power. Moment yang sangat baik ini diperjuangkan betul-betul oleh para pahlawan kita, baik dari golongan muda maupun golongan tua. Terjadilah peristiwa Rengasdengklok, hingga pada akhirnya bangsa kita menyatakan Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Merdeka!

HUT RI Ke 75  17 Agustus 2020