Ahad, 21 Mar 2021, 14:11 WIB

Pentingnya Ilmu dan Mengamalkannya

Bagikan

Pentingnya Ilmu dan Mengamalkannya
KH. M. Baidlowi Muslich Memberikan Mauidhoh Hasanah pada Pembukaan Haflatul Imtihan 1442 H

KH. M. Baidlowi Muslich memberikan mauidhoh hasanah dalam acara pembukaan Haflatul Imtihan 1442 H pada tanggal 19 Maret 2020. Dalam mauidhohnya, beliau menyampaikan tentang pentingnya orang yang berilmu dan mengamalkannya. Beliau mengingatkan santri, terutama santri Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Malang, bahwa wajib mengikuti ulama salaf yaitu ulama terdahulu yang ilmunya jelas bersambung kepada Nabi Muhammad. Ulama yang dimaksud adalah tabi’it tabi’in. Mengikuti ulama salaf juga termasuk jalan agar mencapai ridho Allah SWT. Sedangkan yang dimaksud dengan ‘mengikuti’ adalah mempelajari kitab-kitab ulama salaf terdahulu sebagaimana pembelajaran di Madrasah Diniyah Matholi’ul Huda yang menggunakan referensi kitab-kitab salaf.
Namun, tidak cukup hanya dengan belajar saja, penting juga bagi santri untuk mengamalkannya. Beliau mengutip hadits Nabi Saw. yang membagi umatnya menjadi empat tingkatan. Tingkatan pertama adalah unaasun ya’lamun wa wa’malun yang berarti orang-orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya. Ini adalah tingkatan utama dari umat-umat Nabi Saw.
Tingkatan kedua adalah unaasun ya’lamun wa laa ya’malun yaitu orang-orang yang berilmu akan tetapi tidak mengamalkan ilmunya. Beliau menjelaskan bahwa golongan ini adalah orang-orang yang hanya mencari popularitas, tidak mencari ridho Allah SWT, dan hanya mencari dunia saja. Dalam hadits lain menjelaskan bahwa golongan ini nantinya di akhirat akan diseret dan perutnya akan ditusuk-tusuk. Kemudian orang ini akan ditanya oleh pengikutinya “Mengapa kamu dulu menyuruh kami berbuat baik dan meninggalkan perbuatan buruk, sedangkan kamu tidak melakukannya dan hanya ngomong doang?”. Orang ini pula nantinya akan disiksa sebelum penyembah berhala.
Tingkatan ketiga adalah unaasun ya’malun wa laa ya’lamun. Mereka adalah orang yang mengerjakan sesuatu tanpa mengetahui cara atau ilmunya. Orang-orang ini adalah orang yang rugi, amal ibadahnya sia-sia. Karena secara hukum orang ini mengerjakan ibadah tidak sesuai dengan tatacara yang diajarkan Nabi Saw. dan ulama maka tentunya amalnya ditolak.
Tingkatan keempat adalah unaasun laa ya’lamun wa laa ya’malun yaitu orang-orang yang tidak berilmu dan tidak beramal apapun. Beliau mengatakan bahwa golongan ini yang justru merusak dunia, menjadi beban dunia, dan meninggal pun tak membawa apa-apa. Ini adalah golongan terburuk dari umat Nabi Saw.
Atas empat tingkatan ini, maka orang yang berilmu menjadi orang yang dihargai oleh Allah SWT sebagaimana yang termaktub dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11. Allah SWT memberikan derajat yang tinggi kepada orang yang berilmu daripada yang tidak berilmu. Jika orang yang tidak berilmu hanya mendapat satu derajat, maka di ayat ini Allah SWT meningkatkan derajat orang yang berilmu dengan bentuk jamak. Ulama berpendapat bahwa dari bentuk jamak ini memiliki jumlah setidaknya tujuh ratus derajat.
Terakhir KH. M. Baidlowi Muslich mengingatkan kembali, setelah mencari ilmu di pondok maka pulang mengamalkan ilmunya. Orang yang mengamalkan ilmunya termasuk dalam orang-orang yang menghidupkan sunnah Nabi Saw. Karena Nabi Saw. tidak mewariskan harta atau dunia, melainkan ilmu. Di antara mengamalkan ilmu bagi santri adalah dengan cara mengajar, karena Nabi Saw. sendiri adalah muallim atau guru.   

KH. Baidlowi Muslich  HI 2021  Haflatul Imtihan  1442 H