Islam Agama Yang Mudah (Bagian 1)

Senin, 14 Feb 2022, 15:07 WIB
Islam Agama Yang Mudah (Bagian 1)
Hijrah

Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya.

(QS. Al-Mu'minun [23]: 62)

Tuduhan: Ajaran Islam Ahumanis

Saat ini, ada beberapa pihak yang mengklaim bahwa Islam, dan ajarannya, merupakan Agama yang memberatkan seseorang yang mengikutinya dengan berbagai ritual ibadah yang aneh. Menurut mereka, secara lahiriyah bingkai-bingkai Islam memang sangat kaku, dan tak memberi sedikitpun. Seolah-olah agama Islam menuntut pemeluknya tanpa ada memahami dan perduli terhadap kondisi dan keterbatasan pengikutnya. 

Kesalahan asumsi ini membuat para pengikut yang masih awam mengalami konflik batin dalam jiwa mereka. Mereka (para pengikut awam) menganut ajaran Islam dengan ikut-ikutan, karena mereka menganggap Islam adalah payung baginya. Dan ketika mereka menjalani agama yang mereka peluk (Islam), tapi dalam proses mendalami Islam, mereka diracuni dengan pemahaman bahwa Islam itu sulit dan tak mengenal kompromi. 

Sekarang ini banyak bermunculan pendapat-pendapat dan penafsiran baru mengenai syari’at maupun ajaran Islam yang lainnya. Kemunculan paham-paham baru ini dimulai dari aktivitas komunitas-komunitas kecil yang menyalahi pakem Islam. Munculnya paham ini juga dimungkinkan oleh penafsiran-penafsiran yang masih tekstual. Pada perkembangannya, kaum tekstualis berhadapan secara langsung melawan kaum kontekstualis. Pada titik inilah timbul pergulatan paham yang sengit sekali dalam hal ideologi kepercayaan.

Dari penjabaran inilah ada ketertarikan untuk menguraikan tentang tuduhan atas Islam, Islam bukanlah agama doktriner. Pada mereka yang sedang membangun keimanannya harus ditancapkan paham bahwa ajaran Islam mengajarkan syari’atyang berbasis pada kemudahan dalam hal beribadah. Islam mempunyai tiga inti makna, yakni Salama artinya selamat atau menyelamatkan, silmun artinya perdamaian, dan aslamun artinya totalitas atau pasrah. Tiga aspek inti kandungan Islam yang saling koheren inilah yang harus diterapkan dalam keseharian kita.

Landasan Al-Qur'an Tentang Kemudahan Ibadah

Dalam Al-Qur’an juga sudah dijelaskan bahwa ajaran Islam mengajak umatnya tanpa melakukan pemaksaan, artinya kemudahan bagi mereka yang menganut Islam tetap ada pada diri mereka sesuai dengan batasan dan tingkat kekuatan mereka untuk menjalankan ibadah ubudiyah. Dalam firman Allah SWT surat Al-Baqarah [2] ayat 256: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Kemudahan dalam ibadah Islam juga diperjelas dengan kajian utama dalam shalat. Nabi SAW bersabda: “Jika aku memerintahkan kamu suatu perintah, maka kerjakanlah semaksimal kemampuanmu.” 

Dari kedua landasan tersebut, didapat sebuah gambaran bahwa Islam sangat memperhatikan kemudahan bagi hamba dalam menjalankan perintah Allah, lebih-lebih dalam hal ubudiyah. Seseorang mendapat keringanan berupa diperbolehkan melakukan shalat jama’ qashar ia bepergian jauh dari daerahnya sejauh jarak yang disepakati (kurang lebih 80 km). Contoh lainnya adalah ketika seseorang meninggalkan shalat tanpa disengaja atau karena lalai, mereka masih diberikan kelongaran untuk mangqadla shalat yang ditinggalkannya.

Contoh lain dalam sabda Nabi SAW kepada Imran bin Hushain ketika ia melapor kepada Nabi, bahwa ia sakit, beliau bersabda: “Shalatlah sambil berdiri, tapi jika kamu tidak sanggup, shalatlah sambil duduk, tapi jika kamu tidak sanggup, sambil berbaring miring.” (Hadits riwayat oleh Imam Bukhari dalam shahihnya. Dan diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam shahih dan beliau menambahkan: “Jika kamu tidak sanggup, maka sambil berbaring terlentang”).

Kemudahan yang ditawarkan oleh Allah tidak hanya berupa kemudahan dalam menjalankan shalat saja, tetapi juga ibadah lain seperti puasa. Dalam QS. Al-Baqarah [2] ayat 185 diterangkan bahwa ada beberapa hari yang ditentukan (yaitu bulan Ramadhan), yang di dalamnya diturunkan permulaan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan yang bathil. Karena itu, jika kaum muslimin ada di negeri tempat tinggalnya di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa. Jika ia sakit atau dalam perjalanan, ia diperbolehkan untuk berbuka. Sebagai gantinya, ia hanya harus mengqadla sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagi kita, dan tidak menghendaki kesukaran.

Dari penjelasan-pejelasan diatas, tentunya klaim yang mengecam Islam sebagai agama keras (radikal) yang tidak kenal dengan toleransi dan sifat humanisme harus ditinggalkan. Seorang muslim sejati hendaknya mengetahui hakekat ini, karena dengan mengatahui ini –kemudahan beribadah– mereka bisa menjalani ibadah mereka dengan modal fresh yang tidak merasa terbebani untuk menjalankan perintah Allah SWT. 

Secara psikis, seseorang akan merasa berat untuk melakukan sesuatu bilamana dirinya sudah merasa terbebani sebelum melakukan. Seolah-olah akan berperang tapi sudah merasa pesimis dan yakin bahwa dirinya akan kalah. Seorang guru matematika yang mengajarkan pelajaran dengan cara keras dan memaksa siswa untuk menghafalkan postulat-postulat yang ada, akan membuat anak didiknya takut dan menganggap matematika sangat sulit.

Kita harus bisa mengilangkan belenggu tersebut agar lebih tenang dan berkonsentrasi dalam ibadah ini. Hakikatnya, ibadah harus berdampak positif pada diri kita. Secara kesehatan, ada beberapa keuntungan yang bisa kita peroleh dari beribadah shalat. Para pakar sains meneliti bahwa dalam gerakan shalat, terdapat latihan untuk memperlancar peredaran darah bagi orang tersebut. Dan peredaran darah yang baik tersebut bisa memperlancar kerja metabolisme dalam tubuh kita. 

Hikmah  Islam Ramah Lingkungan 
Bagikan