Berobat ke Dokter, Apakah Termasuk Syirik?

Rabu, 19 Feb 2020, 17:23 WIB
Berobat ke Dokter, Apakah Termasuk Syirik?
Seorang Peserta Sedang Mengambil Obat (Dok. 2019)

Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Allah Maha berkehendak atas penciptaan manusia, pembentukan semesta, laju udara, perubahan cuaca, bahkan pertukaran O2 dan CO2 dalam dada. Semua yang terjadi dalam alam raya, dari yang berskala global seperti orbit tata surya, sampai sistem metabolisme dalam tubuh manusia telah diatur oleh Dia. Kita mengimani itu semua. Urusan mati, umur, juga sakit adalah kuasa Allah. Dialah yang memberi nikmat sakit, logikanya, hanya Dia juga yang bisa menyembuhkan .Lantas, muncul pertanyaan, jika kita berobat ke dokter apakah termasuk syirik? Berobat ke dokter berarti kita meminta pertolongan kepada selain Dia, kan? Mari kita bahas lebih dalam.

Sebelum pembahasan kasus terebut, terlebih dahulu kita harus tahu apa itu syirik. Syirik secara bahasa berarti menjadikan sesuatu sebagai tandingan terhadap sesuatu yang lain. Sedangkan secara istilah, syirik berarti menjadikan sesuatu sebagai tandingan maupun sekutu bagi Allah dalam hal ibadah maupun sifat ketuhanan-Nya. Bahasa mudahnya, syirik -menurut pengertian yang telah masyhur dan tersebar dalam masyarakat- adalah menyekutukan Allah.

Semua dosa dapat diampuni oleh Allah, kecuali dosa syirik. Ngeri bukan? Tapi, apakah semua syirik tak terampuni? Cak Fuad (kakak dari Cak Nun) pernah menjelaskan dalam salah satu ceramahnya, bahwa menurut kajian para ulama’, syirik dibagi menjadi syirik besar-nyata (kabir-jaliy) dan syirik kecil-tersembunyi (shaghir-khafiy). Syirik yang tak terampuni adalah syirik besar, adapun syirik kecil masih bisa terampuni atas kemurahan Allah.

Syirik besar adalah perbuatan yang nyata-nyata dilakukan atas dasar anggapan bahwa ada Tuhan lain selain Allah dan diyakini memiliki kemampuan untuk mengubah takdir manusia, lantas menyembahnya. Adapun syirik kecil adalah suatu perkataan yang secara tersirat mengakui bahwa ada yang kuasa selain Allah, atau suatu perbuatan yang ditujukan untuk selain Allah, ataupun mengagungkan makhluk namun tidak sampai pada tataran penyembahan. Jadi, poin utama perbedaan kedua syirik ini adalah pada penyembahan. Jika sampai menyembah Tuhan lain selain Allah, maka termasuk syirik besar.

Bahasan syirik memang sangat sensitif dan juga sulit diidentifikasi. Karena syirik bersifat rohani dan juga berkaitan erat dengan niat maupun perspektif masing-masing individu. Kita tidak bisa serampangan menghukumi seseorang telah syirik, bukan wewenang kita juga melakukan hal itu.

Karena keterbatasan keilmuan penulis akan syirik, maka penulis akan cenderung membahas hal ini melalui logika dan akan cenderung subjektif. Di dalam kasus berobat ke dokter, ada beberapa kemungkinan apakah dia telah berbuat syirik atau tidak.

Kemungkinan pertama, orang yang berobat ke dokter telah melakukan syirik, jika dia meyakini bahwa kesembuhan hanya berasal dari dokter semata, jika tidak berobat ke dokter maka tidak akan sembuh. Jika ada keyakinan seperti ini, maka termasuk syirik kecil, berdasarkan pengertian syirik shaghir-khafiy yang telah diungkapkan di atas. Karena menganggap adanya kekuatan lain selain Allah yang bisa menyembuhkan suatu penyakit.

Kemungkinan kedua, seseorang berobat ke dokter hanya mencari perantara kesembuhan sebagai wujud ikhtiarnya. Orang ini yakin seyakin-yakinnya bahwa hakikatnya kesembuhan hanya berasal dari Allah semata. Dia berobat ke dokter hanya untuk mencari “sebab” kesembuhan, seperti halnya jika ingin kenyang maka harus makan. Makan dan berobat ini menjadi sebab dari kenyang dan sembuh, menurut dia. Orang yang seperti ini, belum dapat dikatakan syirik.

Itulah kemungkinan-kemungkinan yang terjadi jika seseorang berobat ke dokter. Lalu, sebaiknya sikap kita bagaimana sebagai orang yang mau tidak mau suatu hari akan sakit, juga sebagai orang yang melihat atau berbicara dengan orang yang hendak atau telah berobat ke dokter?

Sebagai orang yang suatu hari akan sakit kemudian berobat ke dokter, kita harus meluruskan niat dan selalu meyakini bahwa kesembuhan mutlak datang dari Allah, mengenai obat atau sebabnya bisa datang dari mana saja. Kemudian, sebagai orang yang melihat atau berkomunikasi dengan orang lain yang hendak atau telah berobat ke dokter, kita harus berbaik sangka, jika kita menemukan orang yang mengatakan, “Setelah berobat ke dokter Fulan saya langsung sembuh,” mari anggap itu hal biasa saja, tak perlu lah kita memikirkan ungkapan itu terlalu dalam, apalagi sampai menghakimi bahwa dia telah syirik. Karena sekali lagi, kita tidak tahu apa yang ada dalam hati seseorang.

Anggap saja ungkapan tersebut sebagai hal yang wajar, tak usah terlalu serius. Jika kita menganggap ucapan tersebut sebagai “deklarasi kesyirikan”, lantas bagaimana dengan ucapan, “Alhamdulillaah kenyang, habis makan”? Harusnya ucapan tersebut juga mengandung unsur kesyirikan, karena menyandarkan perihal kenyang pada makanan, bukan pada Tuhan. Jadi ya dibuat santai saja, kesemuanya itu hanya ungkapan untuk menyederhanakan komunikasi saja. Itu hanya ungkapan agar komunikasi antarmanusia berjalan seperti sewajarnya. Coba bayangkan, ketika kita sudah mengimani bahwa semua datang dari Allah, semuanya kehendak Dia, kemudian dalam komunikasi basa-basi kita menjunjung tinggi nilai itu, lalu ketika kita berkomunikasi dengan teman, “Sudah kenyang belum?”, “Iya, sudah. Soalnya Tuhan yang mengenyangkan saya”. Contoh lain, “Eh, sudah sembuh ya sekarang?”, “Iya, sudah disembuhkan Tuhan, nih”. Terlihat aneh dan kaku bukan?

Kalau toh misalkan ada orang yang mengatakan, “Selama seminggu kemarin aku terkena flu dan batuk gak sembuh-sembuh. Setelah berobat ke dokter A, aku langsung sembuh.” Ya kita tidak bisa langsung menghukuminya telah syirik. Karena kita tidak tahu apa yang ada dalam hatinya. Dan sekali lagi, syirik berkaitan erat dengan keyakinan dan maksud hati setiap individu. Dalam kasus ini, ketika dia mengatakan itu, dia tidak menyatakan dengan tegas bahwa kesembuhan tersebut datang dari dokter semata, masih ada peluang adanya faktor lain dalam kesembuhan tersebut. Faktor lain itu adalah kehendak Tuhan.

Terakhir, penulis menekankan kepada pembaca sekalian, untuk tidak mudah menghukumi orang lain telah melakukan syirik. Kita berbaik sangka saja. Karena berbaik sangka meskipun kenyataannya tidak seperti yang disangkakan, lebih baik daripada berburuk sangka meskipun kenyataannya seperti itu. Urusan seseorang telah melakukan syirik, biarkan Allah yang menilai, itu semua bukan wewenang kita. Sekali lagi, kita hanya bisa berbaik sangka.

Rubrik MIFDA 
Bagikan