Bahaya Ghibah - Bagian 2

Kamis, 16 Des 2021, 18:35 WIB
Bahaya Ghibah - Bagian 2
Masjid Baiturrahman, PP. Miftahul Huda Gading Malang. (Foto: Dok. PPMH)

Di akhirat kelak banyak sekali orang yang mendapatkan kebaikan yang mana orang tersebut tidak mengetahui dari mana kebaikan-kebaikan itu datangnya, hal ini dikarenakan oleh gunjingan yang dilimpahkan kepada dirinya. Sebagaimana yang telah dikatakan oleh Abu Umamah Al- Bahili: ”Bahwasanya seorang hamba kelak di hari kiamat, ketika diserahi buku catatan amalnya, maka ia melihat adanya kebaikan-kebaikan yang diterima, padahal mereka sendiri tidak merasa melakukannya, orang tersebut berkata kepada Tuhan: ”Ya Tuhan, dari manakah kebaikan-kebaikan yang telah dilimpahkan kepadaku ini? Allah SWT menjawab pertanyaan hambanya: ”Inilah amal orang-orang yang sudah pernah menggunjing kamu, di mana engkau sendiri tidak berbuat.”

Dari cuplikan perkataan Abu Umamah Al- Bahili diatas tidak ada salahnya kalau kita memperlakuakan oprang yang telah menggunjing kita dengan baik dan juga tidak perlu kita harus membalas gunjingan mereka dengan gunjingan pula. Ada cerita yang sangat menarik dari kalangan ulama’ salaf yang mana ulama’ tersebut juga salah seorang mujtahid besar di masanya. Dia adalah Syeh Hasan Al-Basri . Ketika itu seorang pria membawa kabar kepada Syeh Hasan Al-Basri bahwa dirinya telah digunjing oleh si Fulan. Dengan sangat bijaksana sekali Syeh Hasan Al-Basri mengantarkan sebuah wadah nampan berisi penuh dengan hadiah yang berharga kepada si Fulan. Syeh Hasan Al-Basri kemudian berkata kepada si fulan: ”Telah sampai kepadaku kabar gembira, bahwa engkau telah menghadiahkan kebaikan-kebaikanmu kepadaku, maka sebagai rasa terima kasihku kepadamu sudilah kiranya engkau menerima pemberian hadiah dariku ini.”

Dari cerita di atas tentang apa yang telah dilakukan oleh Syeh Hasan Al-Basri , maka dapat kita ambil hikmah di dalamnya, yaitu:

  1. Ghibah yang dilakukan oleh orang lain kepada kita tidak perlu dibalas dengan perbuatan ghibah pula kepada mereka, karena di akhirat kelak tidak ada tempat yang layak untuk orang-orang yang suka berbuat ghibah.

  2. Kita harus tetap membina hubungan antar sesama(Ukhuwah Islamiyah), jangan sampai bahaya ghibah sampai membuat orang Islam terpecah belah yang nantinya akan merugikan umat Islam sendiri.

  3. Menganjurkan kepada kita bahwasanya ghibah tidak perlu dilakukan, karena bahaya ghibah sangat besar.

Allah berfirman: ”Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu” (QS. Al Mujaadilah: 7)

Ghibah sangat berbahaya, dan hendaknya kita menjauhinya. Banyak cara yang bisa dilakukan dalam rangka menjauhi berbuat ghibah, dengan melakukan perbuatan yang bisa mendatangkan manfaat.

Sahabat Ali bin Abi Thalib karramallahuwajhah, menghimbau kepada kita agar kita tidak melakukan ghibah:”Hindarilah ghibah, sebab di dalamnya mengandung tiga bahaya, yaitu: yang pertama: Doanya tiidak dikabulkan oleh Allah SWT, kedua: tidak akan diterma amal kebaikanya oleh Allah SWT, ketiga: keburukanya akan bertambah- tambah”.

Dalam kitab Zubdatul Wa’idhin dijelaskan bahwasanya ghibah yang boleh dilakukan itu hanya dalam lima hal sebagai berikut, yaitu:

  1. orang yang diberlakukan dhalim, boleh mengadukan perbuatan pihak yang dhalim kepada atasan atau penguasa, supaya yang bersangkutan bisa segera mengambil tindakan pencegahaan,

  2. di hadapan orang/pihak yang menuntut fatwa, ketika memerlukan hal-hal yang buruk dituturkan, agar dia terbebas dari dakwaan, atau memperoleh haknya.

  3. mengingatkan atau menakut-nakuti orang Islam, dari kejahatan pihak lain ketika sudah diketahui pasti kejahatan tersebut

  4. supaya mengenal nama didalamnya, seperti orang yang penglihatannya kabur, air mata meleleh selalu dan kaki pincang, pada nama lain yang melebihi itu.

  5. jika berterus terang menuturkan aib itu tiada dibenci olehnya, misalnya seperti orang pria yang merias dirinya seperti seorang wanita (banci). Orang yang membuka malu dari dirinya sendiri, bukan berarti ghibah.

Ada tiga langkah yang harus dilakukan oleh orang yang mau bertaubat karena melakukan ghibah dan fitnah, yaitu:

  1. Meralat kata-kata yang telah diucapkan kepada khalayak yang telah diajak bicara dalam melakukan ghibah dan mengakui bahwa dia telah melakukan atau mengucapkan perkataan yang tidak benar terhadap si Fulan (nama orang).

  2. Memohon maaf dan berterus terang karena berbicara ghibah kepada pihak yang difitnah, dan meminta maaf kepadanya (orang yang digunjing).

  3. Memperbanyak membaca istighfar kepada Allah SWT, dengan niat bertaubat dan setelah diikuti dengan nadam(menyesali) perbuatan ghibah yang telah dilakukan. Allah SWT berfirman: Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui” (QS. Ali Imran: 135).

Allah dinamakan pula Ghafir (yang mengampuni). Ayat diatas mengingatkan bahwa Allah Maha Pengampun dan Maha Penerima Taubat. Hamba-hamba Allah tidak usah khawatir terhadap perbuatan-perbuatan dosa yang telah terlanjur mereka lakukan, semuanya itu akan diampuni Allah asal benar-benar memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya dan berjanji tidak akan mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa itu lagi.

Alangkah efisien sekali waktu kita hidup di dunia ini kalau kita gunakan untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat daripada sibuk membicarakan kejelekan dan aib orang lain. Dengan memulai melakukan hal-hal yang ringan menurut kadar kemampuan kita, seperti: membaca shalawat setiap saat, membaca Al-Qur’an dengan rutin setiap hari, mencari nafkah (dengan niat ibadah), bahkan menyingkirkan duri yang ada di jalan, dan masih banyak lagi amalan-amalan ringan yang lain. Dengan harapan hal-hal ringan yang dilakukan terus menerus dan periodik tersebut nantinya bisa menjadikan penyebab keridhahan Allah SWT kepada kita. Sehingga kemudian hal ini menjadi sebab ditolongnya kita kelak di akhirat. Amin.


Bagikan