Sabtu, 20 Mar 2021, 11:05 WIB

Pembukaan HI: Harapan dan Pesan Mulia Romo Kiai

Bagikan

Pembukaan HI: Harapan dan Pesan Mulia Romo Kiai
Ust. H. Qusyairi memberikan sambutan pada pembukaan HI santri NUUR

Gading (19/3). Tepat satu hari setelah diadakannya acara Haul Almagfurlah Alm. Romo KH. Abdurrahman Yahya pada malam Jum’at kemarin, Pondok Pesantren Miftahul Huda melaksanakan kegiatan peringatan Isro’ Mi’roj dan pembukaan acara tahunan Haflatul Imtihan. Acara ini diadakan pada kemarin malam atau bertepatan pada malam Sabtu tanggal 4 bulan Sya’ban 1442 H.

Agak berbeda pada tahun-tahun sebelumnya, kali ini pra-acara sholawatan diisi langsung oleh sahabat-sahabat santri kelas 3 Ulya. Rupanya angkatan BASMALAH, kelas 3 Ulya tahun sebelumnya yang menginisiasinya lalu kemudian diteruskan oleh penerusnya, yakni angkatan NUUR pada tahun ini. Menurut Ustadz H. Qusyairi, ini merupakan suatu hal yang baik. Salah satu bukti bentuk dedikasi persembahan spesial dari 3 Ulya di acara pembukaan HI.

Dalam sambutan beliau, Ustadz Qusyairi juga menyampaikan bahwa perlombaan dan pertandingan semacam HI ini ada dalilnya, bukan sekedar kegiatan biasa. Paling tidak, minimal kita melaksanakan perintah Allah SWT, Fastabiqul khoiroot.

Kedua, terdapat hadits Nabi SAW Haqqul walad ala al-waalid. Diantara bentuk pengamalan dari hadits ini adalah seorang orang tua harus mampu membekali anaknya dengan berbagai keterampilan. Sementara masyayikh dan asatidz di pondok merukapan orang tua bagi para santri. Dan santri perlu dibekali dengan berbagai keterampilan. Maka, perlombaan itu termasuk dari proses habituasi. Karena pembiaasaan untuk hal-hal yang baik perlu keterampilan tertentu. Beliau mengajak para santri untuk pandai dan bijak meyikapi pekan HI ini dengan menikmatinya sebagai fasilitas dalam berlatih semaksimal mungkin.

Ketiga, kegiatan HI juga tergolong dalam pengamalan Ashibahah wa ar-Arrimaayah. Dimana manifestasi dari As-Shibahah adalah dengan cara menyelami sisi-sisi kegidupan agar kita bisa ta’aruf. Sementara tugas orang tua dalam membekali anak dengan berbagai keterampilan termasuk kategori Ar-Rimayah. Beliau berpesan disamping berusaha untuk tampil yang baik dan maksimal, juga harus disertai dengan niat yang baik. Berlombalah dengan cara yang elegan, bijak, dan santun. Dapat juara berapa pun dan hadiah apa pun silahkan disyukuri. Karena bagi kita, yang paling patut disikapi adalah senantiasa bersykur kepada Allah SWT.

Sebelum bedug ditabuh sebagai simbol dibukanya pekan HI secara resmi, Almukarrom Romo KH. Ahmad Muhammad Arif Yahya menyampaikan pesan dan harapan yang begitu mendalam. Baik secara khusus kepada kelas 3 Ulya yang sebentar lagi akan diwisuda, maupun kepada para santri pada umumnya. Kepada sahabat santri kelas 3 Ulya angkatan NUUR, beliau berpesan agar para santri ini nanti setelah pulang ke daerahnya masing-masing agar bisa berkiprah di masyarakat, membimbing masyarakat dengan senantiasa beramar ma’ruf nahi munkar, "Dimanapun berada, di pegunungan, di pelosok di tempat yang ramai, jadilah obor. Jadilah pelita meskipun di tempat yang sepi, kumandangkan asma Allah. Ajaklah supaya bisa mengangkat tangan bertakbir kepada Allah."

Beliau juga menerangkan bahwasanya hati ini jika dibacakan asma Allah dengan hati yang sungguh-sungguh, niat tulus ikhlas, ini nanti bisa menjadi NUUR penerang bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Beliau juga berpesan kepada para santri semuanya agar senantiasa bersungguh-sungguh dalam belajar selama masih dalam masa tholabul ilmi ini. Maka, babagan niat harus ditata dengan sebaik-baiknya. Bagi yang belum tertata dengan baik, silahkan ditata lagi niatnya. Begitu mulianya seorang tholib jika niatnya sudah tertata dengan baik lillahita’ala, maka malaikat akan menjulukinya dengan sebutan ‘maalik’ atau raja.

Beliau menekankan agar santri jangan sampai mengecewakan guru dan orang tua. Jangan kecewakan harapan para masyayikh.

Acara kemudian dilanjutkan dengan mauidoh hasanah peringatan Isro’ wal Mi’roj oleh Almukarrom Romo KH. M. Baidhowi Muslich. Meskipun dilakukan secara virtual, namun hal ini tidak menghilangkan ketakziman dan ketawadhu’an santri Gading.

Setelah tausiyah disampaikan, di akhir acara para santri disuguhkan dengan penampilan defile dari masing-masing komplek. Seperti biasanya, penampilan defile selalu memiliki keseruan tersendiri di setiap tahunnya. Meskipun tidak termasuk cabang lomba, defile show menggugah semangat dan menghibur penat yang mencerminkan kekhasan dari masing-masing komplek.

Selamat berkompetisi.

Ustadz H. M. Qusyairi