Selasa, 18 Des 2018, 21:11 WIB

GUS DUR: Kiai Sekaligus Presiden

Bagikan

GUS DUR: Kiai Sekaligus Presiden
Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid)

Nama lengkap Gus Dur adalah Abdurrahman Addakhil, yang merupakan putra dari mantan Menteri Agama pertama Republik Indonesia KH. Wahid Hasyim, sekaligus cucu dari pendiri Nahdatul Ulama’ (NU), KH. Hasyim Asy’ari. Gus Dur dilahirkan pada tanggal 7 September 1940 di Pesantren Denanyar Jombang. Jika dirunut dari nasab keturunan, Gus Dur memiliki trah darah biru yaitu dari Raja Brawijaya VI yang berkuasa di tanah Jawa pada abad XVI yang terkenal sebagai salah satu raja terakhir Kerajaan Majapahit. Selain itu Gus Dur juga menjadi trah dari tokoh legendaries, Jaka Tingkir putera Raja Brawijaya VI. Sedangkan ibu beliau, Nyai Solichah merupakan puteri KH. Bisri Sansuri, salah satu tokoh pendiri NU.

Gus Dur yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum (Ketum) PBNU selama 3 periode ini diberi banyak kelebihan oleh Allah SWT. Ia dianugerahi ingatan yang tajam dan juga pikiran yang cerdas. Saat masih kecil Gus Dur telah terbiasa membaca, terutama membaca buku-buku perpustakaan pribadi milik sang ayah. Bahkan ketika masih dalam tingkat sekolah dasar (SD) beliau sudah mampu untuk membaca buku-buku berbahasa asing sang ayah baik dalam bentuk bahasa Inggris, Belanda, maupun Prancis.

Pendidikan formal yang dijalani Gus Dur dimulai dari KRIS dan SD Perwari di Matraman, Jakarta. Saat itu Gus Dur sudah dikenal dan terlihat sebagai siswa yang memiliki pikiran yang cemerlang dan juga sebagai pecandu bacaan, dimanapun beliau berada tak pernah lepas dari bacaan baik buku, majalah, hingga surat kabar yang berbahasa asing.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, Gus Dur melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi yaitu Pendidikan Menengah Pertama (SMP) yang bernama SMEP di Jakarta pada tahun 1953. Namun pada tahun pertama pendidikan Gus Dur, beliau mengalami kegagalan dalam ujian kenaikan kelas. Kegagalan tersebut bukan disebabkan beliau tidak menguasai mata pelajaran yang diberikan oleh guru, melainkan disebabkan banyak waktu beliau yang terbuang untuk menonton bola yang seharusnya untuk mengerjakan tugas sekolah. Akibat kegagalan Gus Dur dalam ujian, pada tahun 1954 Gus Dur meninggalkan rumah yang berada di Jakarta untuk melanjutkan studi-nya di SMEP Yogyakarta, yang menjadi hal unik adalah Gus Dur yang berlatarbelakang NU dititipkan di kediaman sahabat almarhum sang ayah, yaitu Kyai Junaidi yang merupakan salah satu tokoh Muhammadiyah. Keputusan ini memang disengaja dipersiapkan oleh almarhum ayahanda beliau KH. Wahid Hasyim agar supaya Gus Dur mampu memahami perbedaan dan memahami ideologi orang lain. Disamping harus menimbah ilmu di SMEP Yogyakarta, Gus Dur juga diharuskan untuk melakukan pengajian selama 3 kali dalam satu minggu di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak yang berada dibawah asuhan KH. Ali Ma’sum hingga beliau menyelesaikan pendidikan menengah pertamanya.

Tahun 1957 Gus Dur melanjutkan pendidikannya di salah satu pesantren yang berada di Magelang Tegal Rejo secara penuh (tanpa bersekolah di sekolah umum) dibawah asuhan KH. Khudori. Pendidikan non formal tersebut dilalui oleh Gus Dur selama kurang lebih 2 tahun, kurun waktu ini (2 tahun) adalah sangat cepat mengingat santri lain baru dapat menyelesaikan pendidikan mereka selama empat tahun atau bahkan lebih. Tahun berikutnya, yakni tahun 1959 Gus Dur melanjutkan studi beliau di pesantren Tambak Beras, Jombang, yang berada dibawah asuhan KH. Wahan Chasbullah selama empat tahun dan sekaligus menjadi kepala sekolah di madrasah formal ini. Selama di pesantren ini pula, Gus Dur mendapatkan pengajaran secara langsung dari sang kakek di pesanten Mambaul Ma’arif, Denanyar, Jombang.

Pada tahun 1963, Gus Dur mendapatkan beasiswa di Universitas Al-Azhar, Kairo. Selama menempuh study di Kairo, Gus Dur bekerja di Kantor KBRI Kairo karena penguasaan akan bahasa asing yang dimiliki Gus Dur dinilai baik dan cemerlang, selain itu Gus Dur juga bekerja sebagai kolumnis di beberapa majalah. Dalam menempuh pendidikan sarjananya, Gus Dur merasa kecewa. Kekecewaan ini dikarenakan materi kuliah yang diberikan sudah pernah dipelajari dan diperoleh Gus Dur selama mondok, dan untuk mengobati kekecewaannya, Gus Dur sering pergi ke perpustakaan kampus untuk membaca dan menimba ilmu, tak jarang pula Gus Dur pergi ke perpustakaan Universitas Prancis yang berada di Kairo.

Pendidikan yang ditempuh Gus Dur di Universitas Al-Azhar hanya bertahan selama kurang lebih 2 tahun, dan pada tahun 1965 beliau mengulangi kuliahnya dengan pindah ke Fakultas Adab di Universitas Baghdad, Irak, hingga akhirnya lulus dalam jangka waktu 4 tahun.

Sepulang dari pencarian ilmu di luar Negeri, Gus Dur yang merupakan presiden Republik Indonesia ke-4 ini pulang ke tanah air dan mengamalkan ilmunya, yakni dengan cara menjadi pendidik di kota kelahiran beliau, Jombang.

Pada tanggal 30 Desember 2009 tepatnya pukul 18.45 WIB, Gus Dur yang dikenal dengan sebutan “Bapak Pluralisme” akhirnya meninggal dunia setelah sebelumnya menjalani perawatan kesehatan. Semoga Allah SWT mengampuni dosa beliau, karena begitu besarnya perjuangan yang beliau berikan kepada ummat. Mendidik, mengajarkan, dan memberi teladan. Dan Semoga Allah SWT menerima seluruh amal beliau tanpa terkecuali. Aamiin Yaa Robbal’alamiin.

Kisah Ulama