Senin, 17 Ags 2020, 15:32 WIB

Beauty in Harmony : Hidup Beragama dalam Kebhinekaan

Bagikan

Beauty in Harmony : Hidup Beragama dalam Kebhinekaan
Bhineka Tunggal Ika Dan Agama

Indonesia adalah Negara dengan keaneragaman tingkat dewa. Kondisi tersebut menjadikan bangsa ini memiliki berbagai macam suku, tradisi, budaya, dan agama. Bicara soal agama, ada 6 agama yang diakui secara resmi di Indonesia. Kewajiban bergama sudah dikukuhkan Pancasila sejak dulu. Sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa” akan selalu menjadi pedoman utama bagi rakyat Indonesia untuk hidup beragama. Bukan hidup tanpa agama (atheisme). Uniknya, umat antar-agama di Indonesia bisa hidup rukun. Kalau pun ada masalah, hal itu tidak akan bertahan lama.. Kesadaran hidup rukun dalam kebhinekaan ini tentu tidak terlepas dari semangat nilai-nilai Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, dan persatuan bangsa. Kekuatan persatuan ini lah yang menyebabkan mereka bisa hidup berdampingan tanpa harus ada peperangan. Sikap nasionalisme yang tinggi sejatinya mampu mengalahkan kefanatikan dan ke-egoan masing-masing kelompok yang sering kita sebut dengan SARA.

            Namun, akhir-akhir ini mengangkat isu agama seolah menjadi bahan baru yang sensitif untuk memcah-belah bangsa. Jika kita mau melirik sejarah, beberapa tragedi tentang gesekan agama pernah terjadi di Indonesia. Contohnya kasus penistaan agama oleh orang china di Pekalongan, kasus pembunuhan para santri dan ulama pada zaman PKI, kasus kampanye Ahok, sampai kasus HTI yang sangat bersemangat mendirikan Negara khilafah. Secara garis besar, motif dari kasus-kasus ini adalah adanya oknum, memulai aksi, kemudian timbullah perpecahan. Sebagai masyarakat yang cerdas, seyogiyanya sikap-sikap yang berpotensi menyinggung kelompok lain harus dijaga. Sebaliknya, pihak yang tersinggung juga harus mampu menanggapinya dengan dewasa. Waspadalah…..! jika tidak ingin bangsa ini hancur.

           “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu akan sejarahnya” (Ir. Soekarno). Pesan ini memiliki nilai dan makna yang dalam. Ketika kita tahu sejarah, maka kita akan tahu betapa besar perjuangan para pahlawan. Ketika kita tahu sejarah, maka kita akan menghormati bangsa dan Negara. Ketika kita tahu sejarah, maka kita akan sadar bahwa Indonesia bukanlah Negara milik satu golongan, namun bangsa multikultural yang memiliki semangat persatuan. Kesadaran-kesadaran ini lah yang akan berpengaruh pada sikap kita sebagai bangsa untuk saling menghormati satu sama lain, rukun meskipun berbeda, bersatu meski pun bhineka. Termasuk dapat hidup beragama dalam berbagai agama yang ada. Saya percaya bahwa the power of united (kekuatan persatuan) mampu mewujudkan kehidupan yang damai dalam bingkai kebhinekaan. Buktinya, jika boleh diprosentasekan, antara kerukunan beragama dengan gesekan antar-agama di Indonesia jauh lebih banyak kerukunannya. Contohnya dalam kalender nasional selalu ada hari raya dari masing-masing agama di Indonesia. Setiap pelaksanaanya, antar umat saling menghormati. Di Bali, ketika umat Hindu merayakan Nyepi, umat lain selalu menghormati dengan cara tidak membuat kebisingan. Di Malang, saat hari raya bertepatan dengan hari Minggu, Gereja Protestan Immanuel bersedia mengundurkan jadwal kebaktian demi mendukung akomodasi jamaah yang akan menunaikan sholat Ied. Di Pekalongan, pemandangan kerukunan tampak jelas di komplek Bundaran Jatayu dimana di lokasi itu terdapat Masjid, Gereja Katholik, Gereja Kristen, dan Klenteng yang sudah sejak lama berdiri bersebelahan tanpa adanya perselisihan. Kondisi seperti ini lah yang merepresentasikan betapa indahnya hidup beragama dalam kebhinekaan yang melahirkan keselarasan dalam kesatuan bangsa dan Negara (beauty in harmony). Bahkan, di kancah internasioanal, Indonesia mampu menjadi contoh kerukunan beragama. Semoga kerukunan kebhinekaan dalam satu wadah besar Indonesia terus terpelihara, terjaga, dan sentosa ila yaumil jaza. Aaaamiin