
Antara Duduk dan Bungkuk
Tiada kujumpa
Kaum terdidik terduduk kikuk.
Sebab kebanyakan kusapa,
Kaum terdidik duduk
tanpa mau rukuk.
Padahal
Seberapa luas ilmunya
Hingga tak mampu membungkuk.
Sejatinya,
Kaum terdidik bungkuk sebelum duduk
Dan nantinya akan duduk
Sembari memandang orang bungkuk.
Olehnya,
Jangan duduk sebelum bungkuk
Dan jangan bungkuk menunggu lapuk.
Sajak Setengah Satu
Kala itu setengah satu,
Mata terpejam berangkat ke haribaan,
Sementara ular-ular mimpi mendesis
Melarang hamba tamak
Terlelap sia-sia.
Kala itu setengah satu,
Ratusan hati terhantar syukur
Menapaki jalan Tuhan yang masyhur
Dan bilik-biliknya terkatup
Bukti tiap kehidupan,
Berpindah jadi arang.
Kala itu setengah satu,
Aku harapkan sama setara.
Namun toilet menyapa penyuka nikmat.
Katanya:
“Tamak sekali engkau, teruskanlah, hingga perutmu bocor”
Penulis merupakan santri mukim di PP. Miftahul Huda Gading Malang. Selain berasal dari latar belakang pesantren, penulis juga merupakan mahasiswa Ilmu Sejarah di Universitas Negeri Malang. Tak hanya opini, penulis juga kerap menyusun diksi ilmiah maupun p