Rajab Datang, Saatnya Memulai Perjalanan Menuju Ramadhan

Selasa, 30 Des 2025, 08:54 WIB
Rajab Datang, Saatnya Memulai Perjalanan Menuju Ramadhan
https://pin.it/6kWB2xCJj

Saat ini kaum muslimin di seluruh penjuru dunia telah memasuki bulan Rajab, salah satu dari empat bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Empat bulan tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Bulan-bulan ini memiliki kedudukan istimewa dalam Islam dibandingkan bulan-bulan lainnya.

Diriwayatkan bahwa beberapa sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Mengapa bulan ketujuh dinamakan bulan Rajab?” Rasulullah SAW menjawab bahwa bulan tersebut dinamakan Rajab karena ia merupakan bulan yang agung, di dalamnya terkandung banyak kebaikan. Kebaikan-kebaikan tersebut menjadi bekal dan persiapan untuk menyambut bulan Sya’ban dan bulan Ramadhan. Keterangan ini diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik dan dinukil oleh Imam Hasan.

Melalui hadis tersebut, Rasulullah SAW menegaskan bahwa makna Rajab adalah keagungan. Keagungan itu terwujud dalam banyaknya kebaikan yang dapat dilakukan, yang sekaligus berfungsi sebagai tahapan awal dalam mempersiapkan diri menuju bulan Sya’ban dan Ramadhan. Dengan demikian, persiapan spiritual untuk Ramadhan sejatinya telah dimulai sejak bulan Rajab.

Sebagai salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT, bulan Rajab memiliki berbagai keistimewaan dibandingkan bulan-bulan lainnya. Oleh karena itu, umat Islam sangat dianjurkan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, baik ibadah wajib maupun sunnah, agar dapat meraih kemuliaan dan keutamaan yang telah Allah janjikan di bulan ini. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-An‘am ayat 160:

مَنْ جَاۤءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهٗ عَشْرُ اَمْثَالِهَا

Artinya: “Barangsiapa berbuat kebaikan, maka baginya balasan sepuluh kali lipat dari amalnya.”

Dalam kitab Khazinatul Ulama dijelaskan bahwa pahala amal kebaikan di bulan Rajab dilipatgandakan hingga 70 kali, di bulan Sya’ban menjadi 100 kali, dan di bulan Ramadhan mencapai 1000 kali lipat. Penggandaan pahala ini merupakan keistimewaan yang Allah berikan khusus kepada umat Nabi Muhammad SAW.

Selain itu, keagungan bulan Rajab juga ditegaskan dalam Al-Qur’an. Allah SWT menetapkan bahwa dalam satu tahun terdapat dua belas bulan, dan empat di antaranya merupakan bulan-bulan suci. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah At-Taubah ayat 36:

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةًۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

Artinya: “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah adalah dua belas bulan, sejak Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya terdapat empat bulan yang dimuliakan. Itulah ketetapan agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi diri sendiri pada bulan-bulan tersebut. perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”

Dalam kitab Majalisul Anwar dijelaskan bahwa kata Rajab tersusun dari tiga huruf, yaitu ra’, jim, dan ba’. Masing-masing huruf tersebut memiliki makna tersendiri: ra’ bermakna rahmatullah (rahmat Allah), jim bermakna jarmil ‘abdi (dosa hamba), dan ba’ bermakna birrullahi ta‘ala (kebaikan Allah Ta‘ala). Apabila ketiga makna tersebut dirangkai, seakan-akan Allah berfirman: “Wahai hamba-Ku, Aku limpahkan rahmat-Ku atas dosa dan amal kebaikanmu, sehingga dosa-dosamu tertutupi oleh kemuliaan bulan Rajab.”

Bulan ini dinamakan Rajab karena bangsa Arab sejak masa dahulu telah memuliakan dan mengagungkannya. Salah satu bentuk pemuliaan tersebut adalah dibukanya pintu Ka’bah untuk umum selama satu bulan penuh di bulan Rajab. Padahal, pada bulan-bulan lainnya pintu Ka’bah hanya dibuka pada hari Senin dan Kamis. Mereka beranggapan bahwa bulan Rajab adalah bulan Allah, Ka’bah adalah Baitullah, dan manusia adalah hamba-hamba Allah. Oleh sebab itu, tidak ada larangan bagi hamba Allah untuk memasuki Baitullah pada bulan yang dimuliakan ini.

Apabila pada bulan Rajab dianjurkan untuk meningkatkan amal kebaikan, maka hal tersebut juga menjadi peringatan agar menjauhi dan meninggalkan perbuatan buruk. Oleh karena itu, bulan Rajab sepatutnya dijadikan momentum untuk menghapus kebiasaan buruk yang selama ini dilakukan, bahkan lebih baik lagi jika kebiasaan tersebut tidak diulangi seterusnya. Dengan demikian, seseorang dapat meraih keutamaan dan kemuliaan yang Allah sediakan di bulan Rajab.

Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW yang menceritakan pengalamannya saat peristiwa Isra’ Mi’raj. Beliau bersabda bahwa pada malam tersebut, beliau melihat sebuah sungai yang airnya lebih manis daripada madu, lebih sejuk daripada es, dan lebih harum daripada kasturi. Rasulullah SAW kemudian bertanya kepada Malaikat Jibril tentang siapa yang akan memperoleh sungai tersebut. Jibril menjawab: “Bahwa sungai itu diperuntukkan bagi orang-orang yang memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW di bulan Rajab”.

Bulan Rajab dianjurkan diisi dengan memperbanyak doa, istighfar, puasa sunnah, dan shalawat sebagai bentuk pengagungan serta persiapan menuju Ramadhan. Di antara amalan yang dianjurkan ialah:

Membaca doa keberkahan:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَان

Memperbanyak istighfar, seperti:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَتُبْ عَلَيَّ

Serta membaca Sayyidul Istighfar pagi dan sore. Selain itu, disunnahkan melaksanakan puasa Rajab, minimal sehari pada tanggal 1 atau 10, dan memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Seluruh amalan ini bertujuan meraih keberkahan dan kemuliaan bulan Rajab serta membersihkan diri sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.

Wallahua'lam'

keutamaan bulan rajab  gading pesantren  bulan rajab 
Moh Rofiq Sholehudin

Penulis adalah santri Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Malang sekaligus mahasiswa Jurusan Sastra Arab di Universitas Negeri Malang.

Bagikan