Rabu Wekasan: Tradisi, Doa, dan Ikhtiar Menjaga Keimanan

Rabu, 12 Ags 2026, 06:08 WIB
Rabu Wekasan: Tradisi, Doa, dan Ikhtiar Menjaga Keimanan
https://pin.it/3pGL7PIL7

Rabu Wekasan atau Rabu Pungkasan merupakan istilah yang digunakan oleh sebagian masyarakat Nusantara untuk menyebut hari Rabu terakhir pada bulan Safar. Momentum ini dalam tradisi masyarakat kerap diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan, seperti doa bersama, membaca Al-Qur’an, memperbanyak zikir, bersedekah, pengajian, hingga melaksanakan salat sunah.

Bagi sebagian masyarakat, Rabu Wekasan menjadi momentum untuk memanjatkan doa keselamatan dan memohon perlindungan kepada Allah SWT. Dalam praktiknya, seseorang dapat mengisi hari tersebut dengan berbagai bentuk ibadah yang memang dianjurkan secara umum dalam Islam. Misalnya, melaksanakan salat sunah mutlak, memperbanyak istighfar, membaca salawat, berdzikir, membaca Al-Qur’an, berdoa, serta bersedekah kepada orang yang membutuhkan.

Salat sunah mutlak dapat dikerjakan sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT. tanpa mengaitkannya dengan keyakinan bahwa Rabu terakhir bulan Safar memiliki ketentuan salat khusus. Demikian pula dengan doa dan zikir; seorang Muslim dianjurkan untuk senantiasa mengingat Allah dan memohon kebaikan serta perlindungan-Nya kapan pun dan di mana pun.

Memahami Rabu Wekasan dan Bulan Safar

Safar merupakan salah satu dari dua belas bulan dalam kalender Hijriah. Dalam sejarahnya, masyarakat Arab pada masa jahiliah memiliki berbagai anggapan terhadap bulan Safar, termasuk keyakinan bahwa bulan tersebut membawa kesialan. Islam kemudian meluruskan keyakinan semacam itu agar manusia tidak menggantungkan nasibnya kepada waktu atau pertanda tertentu.

Rasulullah SAW. bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ

“Tidak ada penyakit menular dengan sendirinya, tidak ada kesialan, tidak ada hamah, dan tidak ada Safar (yang dianggap membawa kesialan).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut mengajarkan bahwa seorang Muslim tidak sepatutnya meyakini bulan Safar, termasuk Rabu terakhir di dalamnya, sebagai waktu yang secara pasti membawa kesialan atau musibah. Tidak ada hari yang memiliki kekuatan untuk mendatangkan mudarat dengan sendirinya. Semua yang terjadi berada dalam ilmu, kehendak, dan ketetapan Allah SWT. Pada akhirnya, hari boleh berganti, bulan boleh berlalu, tetapi doa, ikhtiar, dan tawakal hendaknya senantiasa menyertai langkah seorang mukmin.

Wallahu a’lam

Shalat Rabu Wekasan  gading pesantren  bulan safar 
Moh Rofiq Sholehudin

Penulis adalah santri Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Malang sekaligus mahasiswa Jurusan Sastra Arab di Universitas Negeri Malang.

Bagikan