Nuzulul Qur’an: Awal Turunnya Cahaya Petunjuk bagi Umat Manusia

Jumat, 06 Mar 2026, 22:19 WIB
Nuzulul Qur’an: Awal Turunnya Cahaya Petunjuk bagi Umat Manusia
https://pin.it/57GpPUQlg

Ramadan 1447 Hijriah kini telah memasuki pertengahan bulan, tepatnya hari ke-16. Dalam suasana yang semakin hangat dengan nuansa ibadah, umat Islam bersiap menyambut malam ke-17 Ramadan yang dikenal sebagai peringatan Nuzulul Quran, yakni peristiwa agung ketika wahyu pertama Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril.

Peristiwa ini memiliki makna yang sangat penting dalam sejarah Islam, karena menjadi awal dari turunnya petunjuk ilahi yang membimbing kehidupan umat manusia. Oleh karena itu, malam Nuzulul Quran dipandang sebagai malam yang penuh keberkahan dan kemuliaan.

Pada momen tersebut, kaum Muslimin di berbagai penjuru dunia biasanya memperbanyak amalan ibadah, seperti membaca dan mentadabburi Al-Qur’an, melaksanakan salat malam, serta memperbanyak doa dan dzikir. Dengan demikian, peringatan Nuzulul Quran tidak hanya menjadi pengingat akan sejarah turunnya Al-Qur’an, tetapi juga menjadi kesempatan bagi setiap Muslim untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT serta memperkuat hubungan dengan kitab suci Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

Jibril sebagai perantara wahyu digambarkan pada surat An-Nahl ayat 102:

قُلْ نَزَّلَهٗ رُوْحُ الْقُدُسِ مِنْ رَّبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهُدًى وَّبُشْرٰى لِلْمُسْلِمِيْنَ ۝١٠٢

Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Ruhulkudus (Jibril) menurunkannya (Al-Qur’an) dari Tuhanmu dengan hak untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang muslim (yang berserah diri kepada Allah)”.

Menurut keterangan Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab Al-Itqan fi Ulum al-Qur'an, proses turunnya Al-Qur'an terjadi melalui dua tahapan. Pada tahap pertama, Al-Qur’an diturunkan secara keseluruhan dari Lauhul Mahfuz menuju Baitul ‘Izzah yang berada di langit dunia. Peristiwa ini dikenal dengan istilah nuzul jumlatan wahidah, yaitu turunnya Al-Qur’an sekaligus dalam satu waktu. Tahap ini menunjukkan kemuliaan dan keagungan Al-Qur’an, sekaligus menjadi bentuk pemuliaan wahyu sebelum disampaikan kepada umat manusia.

Setelah itu, Al-Qur’an kemudian diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril selama kurang lebih 23 tahun. Proses ini disebut nuzul munajjaman, yaitu turunnya wahyu secara berangsur-angsur sesuai dengan situasi dan kebutuhan umat pada masa itu.

Turunnya wahyu secara bertahap ini mengandung berbagai hikmah. Di antaranya adalah untuk memudahkan para sahabat dalam menghafal dan memahami kandungan Al-Qur’an, sekaligus memberikan jawaban terhadap berbagai persoalan yang muncul di tengah masyarakat saat itu. Dengan cara tersebut, Al-Qur’an tidak hanya menjadi kitab suci yang dibaca, tetapi juga hadir sebagai petunjuk hidup yang relevan dengan realitas kehidupan umat manusia.

Pada akhirnya, peringatan Nuzulul Qur’an hendaknya menjadi momentum untuk memperdalam refleksi spiritual dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Dengan demikian, semangat Nuzulul Qur’an tidak berhenti pada kenangan sejarah, tetapi terus hidup dalam sikap, perilaku, dan peradaban umat Islam sepanjang zaman.

nuzulul qur'an  gading pesantren  Bulan Suci Ramadhan 
Moh Rofiq Sholehudin

Penulis adalah santri Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Malang sekaligus mahasiswa Jurusan Sastra Arab di Universitas Negeri Malang.

Bagikan