
Dalam kalender hijriah, bulan Dzulqa’dah termasuk salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Bulan ini sering kali datang tanpa banyak perhatian dari sebagian umat Islam, padahal di dalamnya terdapat keutamaan yang besar. Dzulqa’dah menjadi pengingat bahwa seorang muslim tidak hanya dianjurkan memperbanyak ibadah pada bulan Ramadhan saja, tetapi juga pada bulan-bulan mulia lainnya yang telah Allah SWT istimewakan.
Allah SWT berfirman:
وَوَاعَدْنَا مُوسَىٰ ثَلَاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَاتُ رَبِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
Artinya: “Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) setelah berlalu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlahnya dengan sepuluh malam lagi, maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam.” (QS. Al-A’raf: 142)
Para ulama menjelaskan bahwa tiga puluh malam yang disebutkan dalam ayat tersebut adalah bulan Dzulqa’dah, kemudian disempurnakan dengan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Hal ini menunjukkan bahwa Dzulqa’dah bukan bulan biasa, melainkan bagian dari rangkaian waktu yang penuh keberkahan dan persiapan menuju hari-hari terbaik untuk beribadah.
Selain itu, Allah SWT juga menegaskan kemuliaan bulan-bulan haram dalam firman-Nya:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
Artinya: “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah SWT ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allah SWT pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)
Ayat tersebut menjelaskan bahwa Dzulqa’dah termasuk satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT, bersama Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada bulan-bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk lebih menjaga diri dari maksiat dan memperbanyak amal saleh. Para ulama juga menerangkan bahwa amal baik yang dilakukan pada bulan mulia akan memiliki nilai yang lebih agung di sisi Allah SWT.
Dzulqa’dah juga dikenal sebagai bulan ketenangan dan persiapan. Pada masa dahulu, peperangan dihentikan demi menjaga kehormatan bulan ini. Dari sini terdapat pelajaran penting bahwa seorang muslim hendaknya menjadikan Dzulqa’dah sebagai momentum untuk menenangkan hati, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Amalan-amalan sederhana seperti menjaga shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, memperbanyak dzikir, bersedekah, membantu sesama, hingga menjaga lisan dari perkataan buruk merupakan bentuk ibadah yang sangat dianjurkan pada bulan ini. Walaupun terlihat ringan, amal yang dilakukan pada waktu mulia akan memiliki nilai besar apabila dilakukan dengan ikhlas dan istiqamah.
Selain itu, Dzulqa’dah juga menjadi jalan persiapan menuju bulan Dzulhijjah yang di dalamnya terdapat ibadah haji dan sepuluh hari terbaik untuk beramal. Oleh sebab itu, seorang muslim sebaiknya mulai melatih dirinya sejak Dzulqa’dah dengan memperbaiki ibadah, memperbanyak doa, dan meninggalkan kebiasaan yang kurang baik.
Keistimewaan bulan Dzulqa’dah mengajarkan bahwa Islam sangat menghargai waktu. Ada waktu-waktu tertentu yang Allah SWT muliakan agar manusia memiliki kesempatan lebih besar untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Maka sudah sepatutnya bulan ini tidak berlalu begitu saja tanpa diisi dengan amal kebaikan dan muhasabah diri.
Wallahu a’lam
Penulis adalah santri Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Malang sekaligus mahasiswa Jurusan Sastra Arab di Universitas Negeri Malang.