Kupat dan Laku Papat: Filosofi Lebaran dalam Budaya Jawa

Ahad, 29 Mar 2026, 13:29 WIB
Kupat dan Laku Papat: Filosofi Lebaran dalam Budaya Jawa
https://pin.it/3eLMpZwY3

Kata kupat dalam tradisi Jawa sering dipahami sebagai akronim dari “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan. Selain itu, kupat juga dimaknai berasal dari kata dasar khufadz yang berarti menjaga. Dari kedua makna ini, dapat ditarik pemahaman bahwa seseorang yang berani mengakui kesalahannya diharapkan mampu menjaga diri di masa mendatang agar tidak mengulangi kekeliruan yang sama. Oleh karena itu, dalam tradisi masyarakat Jawa, perayaan Hari Raya Idul Fitri kerap diiringi dengan prosesi sungkeman kepada orang tua sebagai bentuk permohonan maaf atas segala kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak.

Tradisi Kupatan mengandung nilai sosial yang sangat kuat. Di tengah arus kehidupan modern yang kian cenderung individualistis, Kupatan hadir sebagai ruang kebersamaan untuk kembali merajut tali silaturahmi. Momen ini sering dimanfaatkan oleh masyarakat untuk saling berkunjung, terutama bagi mereka yang belum sempat bersua saat Hari Raya Idul Fitri. Dengan demikian, Kupatan menjadi kesempatan berharga untuk mempererat hubungan, menyambung kembali komunikasi yang sempat terputus, serta menumbuhkan rasa kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Secara historis, tradisi Kupatan diyakini berakar dari ajaran Sunan Kalijaga, salah satu tokoh Wali Songo yang menyebarkan Islam di Pulau Jawa melalui pendekatan budaya yang bijak dan kontekstual. Beliau memperkenalkan konsep dua kali perayaan lebaran, yakni Idul Fitri pada 1 Syawal dan Kupat yang dilaksanakan pada 8 Syawal. Tradisi Kupatan kemudian dimaknai sebagai bentuk penghormatan bagi umat Islam yang menunaikan puasa Syawal selama enam hari berturut-turut setelah Idul Fitri.

Dari sisi filosofis, ketupat tidak sekadar hidangan khas, melainkan juga mengandung ajaran mendalam yang dikenal dengan konsep laku papat (empat tindakan). Pertama, lebaran, yaitu tanda selesainya ibadah puasa Ramadan. Kedua, luberan, yang mencerminkan anjuran untuk berbagi rezeki kepada sesama. Ketiga, leburan, yakni sikap saling memaafkan dan melebur kesalahan. Keempat, laburan, yang bermakna menjaga kesucian diri lahir dan batin setelah melalui proses penyucian selama bulan Ramadan.

Dengan demikian, tradisi Kupatan bukan sekadar perayaan budaya yang bersifat seremonial, melainkan penuh dengan nilai spiritual, sosial, dan filosofis yang mendalam. Ia mengajarkan pentingnya mengakui kesalahan, menjaga diri, mempererat silaturahmi, serta mempertahankan kesucian hati pasca Ramadan. Di tengah perubahan zaman yang terus bergerak cepat, Kupatan menjadi pengingat bahwa esensi kebersamaan, keikhlasan, dan saling memaafkan adalah fondasi utama dalam membangun kehidupan yang harmonis dan penuh keberkahan.

ngaku lepat  kupatan  gading pesantren 
Moh Rofiq Sholehudin

Penulis adalah santri Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Malang sekaligus mahasiswa Jurusan Sastra Arab di Universitas Negeri Malang.

Bagikan