
Ramadan tidak hanya menjadi bulan ibadah, tetapi juga menyimpan sebuah malam yang sangat istimewa, yaitu Lailatul Qadar. Malam ini diyakini sebagai puncak keberkahan, di mana setiap amal kebaikan memiliki nilai yang jauh lebih besar, bahkan melampaui amalan selama seribu bulan. Keagungan inilah yang mendorong umat Islam untuk lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah, khususnya pada sepuluh malam terakhir, demi menggapai rahmat dan kemuliaan yang terkandung di dalamnya.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik juga disebutkan bahwa orang yang melewatkan Lailatul Qadar, misalnya karena tertidur tanpa berusaha mencarinya, seakan-akan kehilangan harta karun yang sangat besar. Ini menunjukkan betapa ruginya jika kesempatan emas ini tidak dimanfaatkan.
Di Indonesia, semangat mencari Lailatul Qadar sering diwujudkan dalam berbagai tradisi, seperti selamatan atau pengajian di malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Namun, yang terpenting bukan hanya tradisinya, melainkan kesungguhan ibadah, seperti memperbanyak doa, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan hati yang tulus.
Keutamaan malam yang agung ini bahkan ditegaskan secara langsung dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam Surah Al-Qadr:
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ١ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ ٢ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ ٣ تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ ٤ سَلٰمٌۛ هِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِࣖ ٥
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan, Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?, Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan, Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan, Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”.
Agar bisa memaksimalkan Lailatul Qadar, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah seperti salat malam (tarawih, tahajud, dan sunnah lainnya) dengan khusyuk, membaca serta merenungi isi Al-Qur’an, memperbanyak doa, terutama doa “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni” (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku), serta berdzikir dan beristighfar agar hati tetap ingat kepada Allah SWT sepanjang malam.
Dengan memahami keutamaan Lailatul Qadar, diharapkan seluruh santri dan jamaah dapat semakin bersungguh-sungguh dalam menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan dengan ibadah terbaik. Momentum ini bukan hanya sekadar tradisi tahunan, tetapi kesempatan emas untuk meraih ampunan dan keberkahan yang luar biasa. Semoga Allah SWT memberikan kita taufik untuk dapat menjumpai Lailatul Qadar dan mengisinya dengan amal saleh, sehingga kita termasuk hamba-hamba yang beruntung.
Penulis adalah santri Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Malang sekaligus mahasiswa Jurusan Sastra Arab di Universitas Negeri Malang.