Kenapa Santri Harus Tahan Kantuk Saat Ngaji?

Rabu, 29 Apr 2026, 19:13 WIB
Kenapa Santri Harus Tahan Kantuk Saat Ngaji?
https://pin.it/2fiGkZfem

Di lingkungan pesantren, pemandangan santri menahan kantuk saat ngaji bukanlah hal yang asing. Kepala yang sesekali menunduk, mata yang berusaha tetap terbuka, hingga sesekali tersentak sadar, semua itu menjadi bagian dari perjuangan yang hampir setiap santri pernah rasakan.

Namun, di balik itu semua, ada makna yang lebih dalam daripada sekadar melawan rasa lelah.

Ngaji di pesantren bukan hanya soal memahami isi kitab, tetapi juga tentang membangun adab dan kesungguhan dalam menuntut ilmu. Rasa kantuk yang datang sering kali justru menjadi ujian apakah seorang santri tetap bertahan demi ilmu, atau menyerah pada kenyamanan sesaat?.

Para ulama sejak dahulu telah mencontohkan bagaimana perjuangan dalam mencari ilmu tidak selalu berjalan mudah. Waktu malam yang seharusnya digunakan untuk beristirahat, sering kali justru menjadi waktu yang penuh keberkahan untuk mengaji. Dalam kondisi seperti itulah, nilai keikhlasan dan kesungguhan benar-benar diuji.

Al-Qur’an memberikan penegasan tentang tingginya kedudukan orang yang berilmu. Allah SWT berfirman:

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Artinya: “Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah SWT Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan”. (Q.S Al-Mujadilah: 11)

Menahan kantuk saat ngaji juga melatih kedisiplinan hati. Santri belajar bahwa ilmu tidak cukup hanya dengan niat, tetapi juga membutuhkan pengorbanan. Bahkan hal sederhana seperti tetap duduk dan menyimak ketika tubuh ingin beristirahat, menjadi bagian dari proses panjang membentuk karakter.

Lebih dari itu, ada keyakinan yang tumbuh di hati para santri, bahwa setiap lelah dalam menuntut ilmu tidak akan sia-sia. Apa yang mungkin terasa berat hari ini, bisa jadi menjadi cahaya di kemudian hari.

Rasulullah SAW juga memberikan kabar gembira bagi para pencari ilmu. Dalam sebuah hadits disebutkan:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّة

Artinya: “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga”.  (HR. Muslim)

Karena itu, menahan kantuk bukan sekadar soal fisik, tetapi juga tentang bagaimana seorang santri memaknai perjuangannya. Di situlah letak keistimewaan dunia pesantren, tempat di mana hal-hal kecil, seperti melawan kantuk, bisa bernilai besar di sisi Allah.

Wallahu a’lam

gading pesantren  Humor Santri 
Moh Rofiq Sholehudin

Penulis adalah santri Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Malang sekaligus mahasiswa Jurusan Sastra Arab di Universitas Negeri Malang.

Bagikan