Haul Almarhumin ke-56, KH. Muhammad Luthfi Hakim Menegaskan Pentingnya Meneladani Perjuangan Ulama Terdahulu

Ahad, 12 Apr 2026, 18:33 WIB
Haul Almarhumin ke-56, KH. Muhammad Luthfi Hakim Menegaskan Pentingnya Meneladani Perjuangan Ulama Terdahulu
H. Sulthon Sucipto dan KH. Muhammad Luthfi Hakim dalam acara Haul Almarhumin ke-56 (Dok./LP3MH)

gadingpesantren.id– Rangkaian Peringatan Haul Almarhumin ke-56 di Pondok Pesantren Miftahul Huda (PPMH) Malang yang digelar pada Ahad (12/4/2026) berlangsung dengan penuh kekhidmatan. Acara yang dihadiri ribuan santri serta masyarakat ini tidak sekadar menjadi ajang doa tahunan, melainkan sebuah momentum penting untuk meresapi kembali nilai-nilai perjuangan masyayikh serta meneguhkan peran pesantren di tengah dinamika zaman.

Sejak pukul 05.00 WIB, suasana religius telah menyelimuti area pesantren. Santri mengawali hari dengan Khotmil Qur'an dan lantunan Sholawat Nabi yang dipimpin oleh KH. Ahmad Muhammad Arif Yahya, serta pembacaan burdah oleh tim banjari PPMH. Rangkaian ini kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Blanko Arwah oleh Ust. H. M. Khusairi, serta pelaksanaan Sholat Ghoib dan Tahlil Akbar yang dipimpin langsung oleh Gus Fuad bin KH. Abdurrahim Yahya. 

Sebelum gelaran peringatan Haul ini, bakti sosial juga digelar sebagai bentuk kepedulian sosial dari segenap panitia Haul. Sebagaimana dilaporkan oleh H. Sulthon Sucipto, melalui sambutannya mewakili panitia, berbagai rangkaian acara ini menjadi upaya agar para jemaah serta panitia penyelenggara senantiasa mendapatkan keberkahan dari haul almarhumin.

Sementara itu, KH. Muhammad Luthfi Hakim mewakili shohibul bait, juga menyampaikan beberapa refleksi terkait pentingnya peringatan Haul Masyayikh. "Peringatan haul ini adalah sebuah manaqib, wujud nyata untuk mengenang jasa dan menghidupkan kembali jejak perjuangan para kiai," ungkap pengasuh Pondok Mambaul Huda Karangploso tersebut.

Keteladanan utama ditekankan pada sosok KH. Muhammad Yahya. Menurut KH. Muhammad Luthfi, eksistensi Pondok Pesantren Miftahul Huda saat ini tidak lepas dari peran KH. Muhammad Yahya. 

"Guru thoriqoh itu banyak, tapi yang pejuang itu sedikit," tegasnya. 

Semangat juang dari para ulama pendahulu inilah yang membuat pesantren terus berdiri kokoh dan memegang peran vital di era modern. Apresiasi tinggi atas kiprah tersebut disampaikan juga oleh Walikota Malang yang turut hadir dalam acara ini. Menurutnya, warisan ketangguhan pesantren sangat relevan dengan kebutuhan zaman saat ini.

"Pesantren memiliki peran strategis dalam membangun sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, dan berlandaskan nilai-nilai religius," ujar Walikota. Ia secara khusus menaruh harapan agar Pondok Pesantren Miftahul Huda terus konsisten menjadi pilar penting dalam membentuk generasi yang siap menghadapi sekaligus menjawab tantangan zaman.

Berakhirnya rangkaian Haul ke-56 yang ditutup dengan Pengajian Umum ini menegaskan satu pesan yang kuat: bahwa dari pesantren, tradisi penghormatan kepada para ulama (manaqib) tidak sekadar mengenang masa lalu, melainkan diserap menjadi energi untuk mencetak generasi unggul di masa depan.

 Al-ilmu, fadlun wa 'unwanun likulli mahamidi


Bagikan