Sinema Transendental (1): Mengimani Puasa Sejenak

Senin, 02 Mar 2026, 14:39 WIB
Sinema Transendental (1): Mengimani Puasa Sejenak
Ramadan

Ramadan selalu datang dalam bentuk yang sama. Sistem kalender bergeser, maklumat dibacakan, ruang digital ramai penuh geliat umat bahkan vertilitas keimanan seseorang meningkat drastis (hopefully). Di saat yang sama, pengalaman setiap orang tidak pernah sama. Ada yang memasuki Ramadan dengan sumringah, ringan penuh persiapan, ada yang terseok karena mengingat kesilapan dengan gelisah, atau ada yang bahkan tak sempat sampai.

Saya tidak tertarik membicarakan euforia menjelang puasa. Yang lebih mengganggu justru cara kita memaknai kehadirannya atau pada konstruksi makna yang kita produksi terhadapnya. Kita mempersonifikasikan dan menyambutnya dengan “selamat datang”. Artinya, kita membuat narasi bahwa ia mengetuk pintu batin kita. Padahal secara faktual, yang bergerak adalah umur, iman, dan pikiran kita yang menua setahun lagi, yang mungkin lebih letih, lebih sinis, atau justru lebih kosong. Narasi tersebut membentuk ilusi temporalitas yang seolah-olah ekstern terhadap diri kita. Lebih parahnya lagi, dinamika sebetulnya adalah Ramadan tidak berubah. Yang berubah adalah kesadaran kita.

Mula-mulanya secara genealogis, sebut saja dalam pandangan sosiologi. Ada uraian bahwa sebuah bahasa tidak pernah netral. Ia membentuk realitas. Ketika Ramadan disebut “datang”, “berkunjung”, atau “mengetuk pintu batiniah”, bahasa semacam itu bukan sekadar metafora puitis. Ia memproduksi posisi relasi subjek-objek secara implisit, bahwa manusia sebagai pusat kesadaran atau pengendali horizon interpretasi, sedangkan Ramadan sebagai objek yang bergerak menuju manusia. Maka, perspektif semacam ini mengingatkan kita pada kritik terhadap antroposentrisme modern yang cenderung dibaca sebagai bentuk dominasi simbolik, yakni dunia dipahami sejauh ia berelasi dengan manusia.

Padahal, dalam kosmologi Islam, waktu tidak tunduk pada manusia. Waktu adalah bagian dari ketetapan ilahi. Di dalam kerangka ini, Ramadan sebetulnya adalah fase dalam orbit ketentuan. Manusialah yang bergerak menua, berubah, dan bisa saja terhenti sebelum sampai pada fase berikutnya. Maka, untuk memaknai titik ini, puasa pun mestinya dapat dibaca sebagai kritik praksis terhadap modernitas. Jika modernitas sebagaimana kritik Ahlu Frankfurt—cenderung melahirkan rasionalitas instrumental (reason is reduced to an instrument for the attainment of given ends), maka puasa justru mengganggu logika itu. Lapar dan haus tidak efisien. Ia tidak produktif secara ekonomi. Ia memperlambat dan sebagainya. Tetapi justru di situ letak maknanya, bahwa ia mengembalikan tubuh pada batasnya.

Sementara itu, jika kita meninjau Max Weber tentang rasionalisasinya, dunia modern bergerak menuju pengaturan yang makin sistematis dan terukur. Ramadan pun tak luput dari rasionalisasi, mulai dari jadwal imsak, paket buka bersama, war takjil, berbuka dengan yang marxis-marxis, bahkan program “target khatam” yang terstruktur. Tidak ada yang keliru dengan keteraturan. Yang perlu ditanya adalah apakah di balik keteraturan itu masih ada getar batin, atau hanya kepatuhan prosedural atau malah tidak demikian?

Mengimani puasa sejenak berarti keluar dari sekadar kepatuhan prosedural. Ia menuntut kesadaran bahwa tubuh ini rapuh dan bergantung. Lapar bukan sekadar sensasi biologis. Ia adalah pengalaman epistemologis dengan cara mengetahui diri sebagai makhluk terbatas. Di dalam tasawuf pun pengalaman keterbatasan justru menjadi pintu menuju pengenalan diri, dan pada akhirnya pengenalan Tuhan.

Jika hidup dianalogikan sebagai sinema, maka puasa adalah adegan panjang tanpa dialog. Tidak banyak aksi, tidak banyak sorotan. Adegan itu memaksa penonton—yakni diri kita sendiri untuk bertahan dalam sunyi. Maka, di tengah arus konten, agenda sosial, dan distraksi digital, masihkah kita sanggup tinggal dalam adegan sunyi itu? Pada akhirnya, menjelang akhir Ramadan, kita sering mengucap, “Semoga bertemu lagi tahun depan”. Kalimat itu memang terdengar lazim, tetapi menyimpan kesadaran eksistensial bahwa waktu tidak berada dalam kendali kita. Bisa saja justru kita yang tidak sampai. Wallahu a'lam


Ariby Zahron

Penulis adalah santri aktif di Pondok Pesantren Miftahul Huda sekaligus mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Malang

Bagikan