Oskestra Timur Sebagai Hal yang Nyentrik di Anak Muda

Jumat, 07 Ags 2026, 16:53 WIB
Oskestra Timur Sebagai Hal yang Nyentrik di Anak Muda
Umm Kultsum

Kairo—Februari 1975 kala itu seperti kehilangan laku hidup. Jalan-jalan yang biasanya dijejali klakson, trem tua, dan pedagang kaki lima berubah menjadi arus manusia yang bergerak perlahan menuju Masjid Umar Makram. Orang datang dari berbagai arah. Ada buruh yang meninggalkan pabrik lebih cepat, mahasiswa yang bergegas turun dari kampus, perempuan-perempuan yang memeluk anaknya sambil menangis, juga lelaki tua yang sesekali mengusap mata dengan sapu tangan kusam. Mereka mengantar seorang perempuan menuju pemakaman. Namanya Ummu Kultsum. Sulit membayangkan sebuah kota berhenti bernapas demi seorang penyanyi. Barangkali sebab perempuan itu sejak lama telah berhenti menjadi sekadar penyanyi. Suaranya menjelma semacam tanah air yang dapat dibawa ke mana pun orang Mesir pergi. Di ruang konser, di radio, di kedai kopi, bahkan di tengah pergolakan nasionalisme Arab pada masa Gamal Abdel Nasser, suaranya ikut mengikat perasaan orang-orang terhadap negerinya.

Saya selalu merasa perjalanan sebuah lagu jauh lebih misterius dibanding perjalanan manusia. Manusia memerlukan paspor, visa, kapal, atau pesawat. Sedang lagu hanya memerlukan telinga. Entah melalui siaran radio, piringan hitam, koper mahasiswa Al-Azhar yang pulang ke tanah air, atau kaset yang diputar berulang-ulang hingga pitanya mulai kusut. Barangkali itulah sebabnya suara Ummu Kultsum akhirnya singgah di tempat yang sunyi menjauh dari Kairo hingga ruang tamu rumah-rumah santri di Jawa.

Di Rembang, Gus Mus pernah bercerita tentang penyanyi Mesir itu dengan nada yang lebih menyerupai kenangan ketimbang berkelakar. Dalam perjalanan beliau pulang dari umrah, lagu Ana fi Intidzarik mengalun terus sepanjang Pantura. Beliau mengingat kembali ungkapan-ungkapan Arab pasaran yang pernah dipelajarinya ketika menjadi mahasiswa di Kairo pada penghujung dekade 1960-an. Lagu-lagu Ummu Kultsum rupanya telah lama menjadi penghuni rumah keluarga Leteh. Kiai Bisri Mustofa menikmati lengking suaranya. Rekaman-rekamannya selalu tersedia. Bahkan cara Mbah Bisri melagukan ayat Al-Qur'an sering mengingatkan orang pada gelombang vokal sang diva. Saya menyukai sejentik kisah semacam itu. Ia memperlihatkan bahwa kebudayaan sering berpindah tanpa gaduh. Orang-orang mengira yang berpindah hanyalah lagu, padahal yang ikut menyeberang ialah selera, rasa, dan cara menikmati bunyi.

Ada kisah lain yang muncul dari Makkah, jauh sebelum Indonesia mengenal istilah playlist. Pada Maret 1943, Nyai Khoiriyah Hasyim mendirikan Madrasatul Darul Ulum lil Banat, sebuah madrasah perempuan yang kelak dikenang sebagai pelopor pendidikan perempuan Nusantara di Tanah Suci. Pada masa itulah beliau berjumpa dengan Ummu Kultsum. Percakapan mereka berlangsung dalam bahasa Arab yang fasih, diselingi bait-bait syair yang membuat sang penyanyi memberikan pujian. Saya membaca kisah dan membayangkan pertemuan itu sebagai dua arus kebudayaan yang saling mengenali. Seorang ulama perempuan yang datang dari Jombang bertemu penyanyi paling masyhur di dunia Arab. Yang satu menempuh jalan pendidikan, yang lain menempuh jalan seni. Keduanya dipertemukan oleh bahasa yang sama.

Jejak kultur semacam itu belum berhenti. Di Martapura, Guru Sekumpul mengadaptasi salah satu aransemen Ummu Kultsum sebagai pengiring Marhaban pada prosesi Mahalul Qiyam. Bagi banyak jamaah, irama itu telah melebur begitu lama sehingga nyaris tak lagi dipertanyakan asal-usulnya. Bunyi memang memiliki tabiat yang aneh. Ia sanggup melintasi batas negara, mazhab, bahkan generasi, lalu menetap begitu lama sampai orang lupa dari mana ia datang. Ada kalanya sejarah bekerja melalui pidato dan kitab. Ada kalanya ia memilih bersembunyi di balik sebuah melodi.

Lantaran itulah saya sering kebingungan setiap kali mendengar anggapan bahwa lagu Arab identik dengan suasana religius atau bahkan transenden-imanen. Kesan semacam itu terasa wajar bagi telinga Indonesia. Bertahun-tahun bahasa Arab hadir melalui murottal, selawat, atau pengajian. Media sosial kemudian mengulang kebiasaan yang sama. Lagu-lagu Arab mengiringi video hijrah, potongan ceramah, atau renungan menjelang berbuka. Sedikit demi sedikit telinga kita membangun asosiasi yang nyaris otomatis. Begitu mendengar lengking vokal Arab, bayangan pertama yang muncul ialah masjid. Padahal di Kairo, Beirut, Damaskus, hingga Casablanca, bahasa yang sama setiap hari dipakai untuk menyanyikan cinta, kehilangan, kecemburuan, musim semi, laut, ibu, kampung halaman, juga kesepian. Bahasa selalu lebih luas daripada prasangka yang dilekatkan kepadanya.

Barangkali pesantren juga memahami keluasan itu melalui jalan yang lebih sunyi. Seorang santri mula-mula berjumpa dengan bahasa Arab sebagai bunyi. Nadham Alala, Imrithi, Alfiyah, Barzanji, Simthud Durar, ad-Diba'i—semuanya dilagukan jauh sebelum dipahami sepenuhnya. Lidah dibiasakan mengikuti irama. Telinga belajar menikmati susunan kata. Makna datang belakangan, perlahan-lahan, seiring waktu yang mengendap. Ada kebijaksanaan yang sering luput dibicarakan di sini. Bahasa rupanya memasuki diri manusia melalui rasa terlebih dahulu. Tata bahasa menyusul sesudahnya. Sebab itulah Imam Syafi'i pada masa mudanya tekun mempelajari syair Arab. Sastra membuka pintu yang sering gagal dibuka oleh kaidah semata.

Saya justru mulai bertanya ketika semua jejak itu mendadak terasa asing bagi generasi sekarang. Padahal rumah-rumah santri pernah akrab dengan Ummu Kultsum. Kasidah pernah memenuhi ruang tamu. Gambus pernah mengiringi hajatan. Mengapa hari ini lagu Arab terdengar seperti barang impor yang baru saja mendarat di pelabuhan? Mengapa seorang remaja yang memutar Fairuz atau Ummu Kultsum di kedai kopi segera dianggap memiliki selera yang eksentrik? Pertanyaan-pertanyaan itu membawa saya pada perjelanan menyusuri dekade 1970-an, sebuah masa ketika musik Arab dan kasidah yang justru menemukan salah satu babak emasnya di Indonesia.

Dekade 1970-an menyimpan ironi yang menarik. Ketika percakapan politik Islam bergerak di ruang yang serba sempoyongan, ihwal kebudayaan malahan mendendang layaknya masyarakat baru dengan penuh kehidupan. Orang-orang barangkali masih berkumpul di majelis taklim, tetapi mereka juga mulai berkumpul di depan radio, televisi, dan pemutar kaset. Rebana berjumpa gitar elektrik, gambus bertukar sapa dengan biola, sementara syair-syair Arab menemukan irama baru yang lebih akrab bagi telinga Indonesia. Dari Medan lahir Orkes Nur El-Surayya. Dari Semarang muncul Nasida Ria. Di tangan mereka, kasidah seolah keluar dari ruang yang selama ini dianggap terlalu sakral. Ia berjalan ke ruang tamu, memenuhi hajatan, mengalun di terminal, menumpang siaran radio, bahkan ikut berdesakan di kios-kios kaset yang menjual dangdut, pop, dan keroncong dalam rak yang sama. Kebudayaan rupanya selalu enggan hidup dalam sekat-sekat yang terlalu rapi.

Walhasil, di situlah letak keistimewaan musik. Ia tidak pernah sibuk menjaga pagar identitasnya sendiri. Sebuah melodi Arab dapat menyapa telinga Melayu tanpa merasa kehilangan dirinya. Gambus bertemu kendang, syair bertemu cengkok dangdut, lalu lahirlah bunyi yang terasa akrab bagi masyarakat Indonesia. Sebagian orang menyebutnya akulturasi. Saya lebih senang menyebutnya sebagai pergaulan. Sebab kebudayaan, sebagaimana manusia, hanya bertumbuh ketika bersedia bergaul dengan yang lain. Ia mengendap, saling meminjam, saling memengaruhi, lalu melahirkan bentuk-bentuk baru yang sering kali memberi nafas segar pada umurnya daripada perdebatan mengenai keautentikan.

 

Itulah sebabnya saya selalu merasa heran ketika lagu Arab diletakkan di sudut yang terlalu sempit. Seolah-olah seluruh dunia Arab hanya berisi selawat, padahal sejarah musiknya menyimpan kisah yang jauh lebih riuh. Ada revolusi yang menemukan nadanya dalam suara Ummu Kultsum. Ada kerinduan panjang yang dinyanyikan Fairuz kepada Beirut. Ada Abdel Halim Hafez yang menjadi suara generasi muda Mesir setelah Revolusi 1952. Ada pula lagu-lagu yang lahir dari patah hati, pengembaraan, keluarga, laut, hingga kegelisahan sosial. Dunia Arab berbicara melalui musik sebagaimana bangsa-bangsa lain berbicara melalui puisinya. Lagu-lagu itu membawa jejak zamannya, mengangkut aroma kota-kota tua, debu padang pasir, hiruk-pikuk pasar, juga perubahan politik yang silih berganti. Bunyi sering kali lebih jujur daripada pidato.

Lalu sejarah kembali membuat kejutan kecil. Puluhan tahun setelah kasidah perempuan memenuhi ruang dengar masyarakat Indonesia, suara-suara itu perlahan tenggelam bersama bergantinya medium. Kaset disimpan di lemari. Radio kehilangan pendengar. Generasi yang dahulu hafal lirik-lirik Nasida Ria mulai menua. Banyak orang mengira kisah itu telah selesai. Rupanya sejarah memiliki kesabaran yang panjang. Ia menunggu di tempat yang sama sekali tidak diduga: algoritma.

Ryan Ardiansyah, sohib saya pernah bercerita bagaimana satu lagu menyeretnya memasuki lorong-lorong yang selama ini terlupakan. Mula-mula hanya potongan video pendek. Sesudah itu muncul nama Datuk Ahmad Baqi. Dari sana terbuka kisah Orkes Nur El-Surayya, kasidah perempuan, hingga sejarah musik Islam yang selama bertahun-tahun nyaris lenyap dari percakapan publik. Saya menyukai kisah itu karena ia memperlihatkan satu kenyataan yang sering luput disadari. Algoritma ternyata tidak selalu bekerja sebagai mesin pelupa. Sesekali ia berubah menjadi pustakawan yang usil. Ia mengambil sebuah lagu tua dari rak paling belakang, meletakkannya di hadapan seorang anak muda, lalu membiarkan rasa ingin tahu melakukan sisanya.

Barangkali di situlah saya mulai memahami mengapa lagu Arab belakangan tampak begitu "nyentrik". Keanehan itu rupanya tidak lahir dari musiknya. Yang berubah ialah jarak kita dengan sejarah. Sesuatu yang pernah akrab perlahan kehilangan lingkungan tempat ia tumbuh. Rumah-rumah yang dahulu memutar kasidah berganti dengan daftar putar digital yang bergerak menurut selera pasar. Serambi pesantren yang dahulu akrab dengan syair-syair Arab kini berbagi perhatian dengan layar telepon yang terus menyala. Ketika mata rantai ingatan itu mengendur, setiap perjumpaan dengan lagu Arab terasa seperti menemukan benda asing, padahal ia pernah menjadi penghuni lama kebudayaan kita sendiri.

Barangkali pula setiap generasi memang mewarisi sejarah dengan cara yang berbeda. Ada yang menerimanya melalui cerita kakeknya. Ada yang menemukannya di rak buku. Ada pula yang dipertemukan oleh video berdurasi tiga puluh detik di media sosial. Jalan yang ditempuh boleh berubah, sementara tujuan akhirnya tetap sama, yakni menemukan kembali serpihan-serpihan ingatan yang sempat tercecer. Saya membayangkan seorang anak muda yang memutar lagu Ummu Kultsum atau Fairuz di sebuah kedai kopi. Mungkin ia mengira sedang memungut sesuatu yang asing, sesuatu yang eksotis, sesuatu yang membuatnya tampak berbeda. Padahal, tanpa ia sadari, yang sedang ia dengarkan ialah gema panjang dari sebuah kebudayaan yang pernah singgah di rumah-rumah santri, di ruang tamu orang tuanya, di radio-radio tua, dan di kaset yang pitanya pernah kusut karena terlalu sering diputar.

Ala kulli haal, itulah pekerjaan paling sunyi yang dilakukan musik. Ia menyimpan ingatan jauh lebih lama daripada manusia sanggup mengingatnya. Ketika sejarah terlupa, lagu tetap bersenandung. Ketika nama-nama mulai memudar, irama masih mencari telinga yang bersedia mendengarkan. Lalu, pada suatu sore, seorang anak muda menyebut lagu Arab sebagai sesuatu yang nyentrik. Saya tidak tergesa-gesa membantahnya. Barangkali setiap warisan memang akan tampak eksotis pada saat para pewarisnya mulai lupa bahwa ia pernah tumbuh di halaman rumah mereka sendiri.


Ariby Zahron

Penulis adalah santri aktif di Pondok Pesantren Miftahul Huda sekaligus mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Malang

Bagikan