
Delegasi Jam’iyyah Sunan Derajat (Komplek G) Pondok Pesantren Miftahul Huda (PPMH) Malang berhasil meraih juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah Kepesantrenan dalam rangkaian kegiatan Pekan Haflatul Imtihan 1447 H PPMH. Karya tersebut dinilai langsung oleh dewan juri, yakni Ustaz Ahsanuddin dan Ustaz Defri Kurniawan.
Delegasi pemenang terdiri atas nama Muhammad Ihsan dan Nihru Bahy Muhammad, mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Prestasi ini diraih setelah keduanya menempati peringkat pertama pada babak penyisihan paper dan melanjutkan ke babak presentasi final yang diselenggarakan pada 27 Januari 2026 di Perpustakaan PPMH Malang.
Dalam lomba tersebut, delegasi Komplek G mengangkat inovasi kepesantrenan bertajuk pengembangan metode pembelajaran kitab kuning “sorogan” berbasis digital melalui aplikasi SORO-GO. Inovasi ini dirancang sebagai solusi atas keterbatasan jarak dan waktu dalam praktik pembelajaran sorogan, tanpa menghilangkan esensi relasi intensif antara guru dan murid.
Muhammad Ihsan, selaku ketua tim menjelaskan bahwa aplikasi SORO-GO tidak dimaksudkan untuk menggantikan sorogan tatap muka. “SORO-GO hanya menjadi wasilah antara guru dan murid agar pembelajaran sorogan tetap bisa dilakukan sebagai penunjang kompetensi santri meskipun ada keterbatasan jarak dan waktu” ujarnya.
Secara teknis, implementasi produk ini menggunakan pendekatan personalisasi belajar yang diawali dengan fitur pre-test untuk memetakan kompetensi santri. Proses pembelajaran disusun melalui empat instrumen utama, yakni Sima’i untuk melatih pendengaran, Qiro’ah untuk praktik membaca, Tarkibi untuk penguatan struktur nahwu–sharaf, serta Muradi untuk pemahaman kontekstual melalui kuis interaktif. Seluruh proses tersebut didukung oleh dasbor pemantauan yang memungkinkan guru dan santri mengakses capaian belajar secara real-time.
Nihrul Bahy menambahkan bahwa inovasi ini berangkat dari kesadaran akan tuntutan pesantren sebagai lembaga pendidikan berbasis pembentukan karakter agar tetap relevan di era digital. “Melalui rancangan fitur yang diupayakan menyerupai sorogan klasikal, kami berharap pemahaman kitab kuning santri dapat meningkat, sekaligus menjaga tradisi keilmuan pesantren di tengah arus digitalisasi” jelasnya.
Capaian ini menjadi bukti bahwa integrasi tradisi pesantren dan inovasi teknologi dapat melahirkan gagasan akademis yang kontekstual, aplikatif, serta tetap berakat pada nilai-nilai keilmuan pesantren.
Penulis adalah santri aktif di Pondok Pesantren Miftahul Huda sekaligus mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Malang