Menyigi Soal “Das Kapital” Kepesantrenan

Selasa, 28 Jul 2026, 13:43 WIB
Menyigi Soal “Das Kapital” Kepesantrenan
Pesantren

Musim gugur 1867 adalah tahun lahirnya sebuah buku setebal hampir seribu halaman yang keluar dari percetakan Otto Meissner di Hamburg, Jerman. Sampulnya sederhana. Judulnya juga tidak menawarkan sensasi. Sulit memastikan apakah karya itu lebih layak diperlakukan sebagai sebuah buku atau semacam laporan besar tentang cara dunia bekerja. Yang jelas, orang mengenalnya dengan nama Das Kapital: Kritik der politischen Ökonomie. Nama di sampulnya adalah Karl Marx. Ia bukan profesor dengan kehidupan yang serba berkecukupan, melainkan seorang intelektual yang bertahun-tahun bergulat dengan kemiskinan sembari menuntaskan gagasannya di tengah kegumunan nasibnya, berpindah-pindah tempat tinggal, dan berkali-kali menunda penyelesaiannya karena merasa pekerjaannya belum cukup matang.

Tidak ada yang dapat memastikan bahwa buku itu kelak menjadi salah satu karya paling diperdebatkan dalam sejarah. Sebagian orang membacanya sebagai kritik terhadap kapitalisme, sebagian lain melihatnya sebagai fondasi sosialisme, sementara yang lain menganggapnya sekadar dokumen intelektual abad kesembilan belas. Akan tetapi, jauh sebelum perdebatan itu muncul, Das Kapital sebenarnya sedang mengulik persoalan yang klasik bahwa bagaimana sesuatu yang disebut "modal" bekerja sehingga terus melahirkan nilai?

Kita terlalu sering mengurung kata kapital di dalam gudang ekonomi. Begitu istilah itu disebut, yang terbayang segera adalah uang, pabrik, saham, kekayaan, atau neraca perusahaan. Padahal sejarah memperlihatkan bahwa setiap peradaban mengenal bentuk modalnya sendiri. Ada masyarakat yang menyimpan modal dalam tanah, ada yang menitipkannya pada kapal-kapal dagang, ada pula yang mengendapkannya dalam pengetahuan. Maka, di titik inilah saya teringat kepada pesantren. Saya mulai sangsi, mungkinkah kata kapital mempunyai riwayat lain ketika dibawa masuk ke lingkungan yang tidak mengenal pabrik, pasar, atau mesin, melainkan bilik-bilik santri dan serambi pengajian?

Selama ini pesantren lebih sering dipahami sebagai lembaga pendidikan agama. Definisi itu tidak keliru, meski terasa kurang cukup. Sebab yang berlangsung di dalamnya tidak berhenti pada proses memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid. Ada sesuatu yang lebih lambat daripada belajar, lebih sunyi daripada membaca kitab, dan lebih panjang daripada masa pendidikan itu sendiri.

Cobalah anda sekalian mengingat seorang santri yang baru datang. Umurnya mungkin tiga belas atau lima belas tahun. Ia membawa tas pakaian, beberapa kitab tipis, dan kegamangan yang disembunyikan dari orang tuanya. Hari-hari pertama di pesantren hampir selalu diisi oleh hal-hal yang tampak remeh belaka. Belajar bangun sebelum azan Subuh, menyesuaikan diri dengan makanan dapur ala kadarnya, menghafal nama teman sekamar, menyapu halaman, mencuci pakaian sendiri, lalu duduk bersila mendengarkan kiai menerangkan sebuah matan yang bahkan belum seluruhnya ia pahami.

Tidak ada yang tampak spektakuler. Bahkan jika kehidupan itu diamati selama seminggu, mungkin orang akan bertanya bahwa apa sebenarnya yang sedang diproduksi oleh pesantren? Pertanyaan itu terasa sederhana, tetapi jawabannya tidak.

Sebab pesantren tidak bekerja seperti sekolah yang keberhasilannya mudah diukur oleh nilai ujian. Ia juga tidak menyerupai perusahaan yang menghitung laba setiap akhir tahun. Hasil kerja pesantren baru terlihat setelah waktu berjalan cukup lama, sering kali justru ketika seorang santri sudah meninggalkan bilik asramanya. Di sinilah saya mulai merasa bahwa istilah kapital layak dipinjam, meski dengan makna yang berbeda dari yang dibayangkan Marx.

Seorang santri sesungguhnya sedang menanam modal setiap hari. Modal itu berupa waktu yang dihabiskan untuk belajar, kesabaran menghadapi disiplin yang kadang melelahkan, kebiasaan hidup bersama, latihan menahan diri, keberanian bertanya, kesediaan mendengar, serta hubungan batin dengan guru-gurunya. Semua itu tidak menghasilkan keuntungan yang dapat dihitung sore harinya. Nilainya mengendap, lalu bekerja perlahan di dalam diri.

Ketika kelak ia kembali ke masyarakat, modal tersebut menjelma menjadi sesuatu yang lebih utuh. Orang mempercayainya karena ucapannya terjaga. Ia mudah bekerja sama karena terbiasa hidup dalam komunitas. Ia mampu membaca persoalan agama sekaligus memahami denyut sosial karena bertahun-tahun hidup di tengah tradisi yang melatih keduanya secara bersamaan.

Mungkin inilah bentuk kapital yang jarang masuk ke dalam pembicaraan ekonomi. Ia tidak tercatat dalam laporan keuangan, tetapi nyata bekerja dalam kehidupan sosial. Pierre Bourdieu menyebutnya sebagai kapital budaya, kapital sosial, dan kapital simbolik. Pesantren, sadar ataupun tidak, telah lama mengakumulasi ketiga bentuk modal itu jauh sebelum istilah-istilah tersebut menjadi perbincangan akademik.

Karena itu, membaca Das Kapital dari dalam pagar pesantren bukan berarti mengawinkan Marx dengan tradisi Islam, apalagi memaksakan kerangka ekonomi ke ruang pendidikan. Yang dipinjam adalah satu gagasan sederhana, yakni modal selalu tumbuh melalui proses yang panjang, dan nilainya bergantung pada apa yang terus-menerus dipelihara.

Barangkali, di situlah letak kekhasan pesantren. Ia tidak mengajarkan santri mengejar modal untuk memiliki dunia. Ia mengajarkan bagaimana menjadikan diri sendiri sebagai modal bagi kemaslahatan orang lain.

 


Ariby Zahron

Penulis adalah santri aktif di Pondok Pesantren Miftahul Huda sekaligus mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Malang

Bagikan