Maslahat Pesantren dan Sepak Bola

Jumat, 24 Jul 2026, 18:30 WIB
Maslahat Pesantren dan Sepak Bola
Pesantren Nobar Pildun

Pada musim panas 1978, ketika sebagian besar orang Indonesia menikmati Piala Dunia Argentina sebagai tontonan empat tahunan, KH. Abdurrahman Wahid justru menjadikannya sebagai bahan renungan sosial. Melalui kolom "Si Awam dan Piala Dunia" di Kompas, Presiden ke-4 RI itu mengungkapkan cara pandang yang tidak lazim. Gus Dur nyaris tak pernah menaja ihwal sepak bola sebatas urusan menang dan kalah. Skor, klasemen, statistik bahkan trofi hanyalah perihal ecek-ecek; yang hendak dibacanya ialah manusia beserta seluruh dinamika yang bergerak di sekeliling pertandingan (cultural phenomena). Pertandingan sepak bola baginya merupakan jendela untuk membaca cara sebuah masyarakat berpikir. Empat tahun kemudian, saat Piala Dunia Spanyol berlangsung, ia kembali menulis "Piala Dunia '82 dan Landreform". Tema yang dipilih bahkan terasa ganjil bagi ukuran tulisan olahraga, yakni reforma agraria. Sepak bola telah berpindah fungsi yang semula adalah praktik olahraga menjadi bahasa untuk membicarakan masyarakat.

Cara membaca semacam itu agaknya semakin jarang hari ini. Sepak bola lebih sering diperlakukan sebagai hiburan yang selesai bersama peluit panjang. Yang tersisa sesudahnya hanya perdebatan mengenai wasit, formasi, atau pemain yang tampil mengecewakan. Padahal, seperti ditunjukkan Gus Dur hampir setengah abad silam, pertandingan sepak bola menyimpan kehidupan yang jauh lebih luas daripada sembilan puluh menit di atas rumput hijau. Ia mempertemukan manusia, menciptakan identitas bersama, bahkan mengubah cara sebuah komunitas memaknai dirinya.

Mungkin karena itulah saya tidak pernah menganggap pemandangan ratusan santri yang berkumpul mengelilingi layar proyektor sebagai sesuatu yang remeh. Beberapa pekan lalu, MUI TV menggelar nonton bersama Piala Dunia di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Yogyakarta. Yang menarik perhatian saya bukan pertandingan yang mereka saksikan. Justru sorak-sorai para santri, tawa yang pecah ketika peluang emas terbuang, dan para ustaz yang larut dalam percakapan selepas pertandingan, sehingga di sini menghadirkan pertanyaan yang lebih penting. Sejak kapan pesantren memiliki ruang bagi kegembiraan kolektif semacam ini?

Pertanyaan itu terdengar sederhana, padahal ia haruslah menyentuh salah satu persoalan paling tua dalam sejarah pesantren tentang bagaimana sebuah lembaga yang dibangun di atas disiplin ilmu, adab, dan pengendalian diri memaknai “rekreasi”. Selama ini pembicaraan mengenai nobar hampir selalu berakhir pada dua kutub yang saling berhadapan. Sebagian menganggapnya mengganggu ritme belajar, sebagian lain melihatnya sebagai bentuk keterbukaan pesantren terhadap budaya populer. Kedua kesimpulan itu terasa terlalu cepat. Yang sedang berlangsung sesungguhnya bukan perdebatan tentang sepak bola, melainkan perdebatan tentang bagaimana sebuah tradisi mendefinisikan maslahat.

Dalam khazanah usul fikih, maslahah tidak pernah dipahami sebagai daftar aktivitas yang boleh atau tidak boleh dilakukan. Al-Syathibi meletakkannya sebagai tujuan yang menjaga lima kepentingan pokok kehidupan manusia, sementara rincian bentuknya terus bergerak mengikuti perubahan masyarakat. Karena itu, manfaat sebuah aktivitas tidak ditentukan oleh namanya, melainkan oleh dampak sosial yang ditinggalkannya. Dari sudut pandang ini, nobar bukan sekadar menonton pertandingan. Ia dapat berubah menjadi ruang pendidikan apabila menghasilkan persaudaraan, memperkuat ukhuwah, dan mengajarkan sportivitas. Atau bahkan sebaliknya, ia kehilangan makna ketika justru melahirkan kelalaian terhadap kewajiban yang menjadi inti kehidupan pesantren.

Saya kira di sinilah pesantren memperlihatkan ukuran kecerdasannya. Ia tidak serta-merta mengislamkan sepak bola, juga tidak merasa perlu mengusirnya dari lingkungan pendidikan. Pesantren melakukan sesuatu yang sejak berabad-abad menjadi kekuatannya, dengan cara mengolah kebudayaan. Umpamanya, wayang dengan serangkaiannya pernah mengalami proses semacam itu. Tradisi selametan juga demikian. Kini, sepak bola sedang menjalani perjalanan yang serupa. Ia diterima sejauh mampu memperkuat tujuan pendidikan, bukan menggantikannya.

Melalui cara pandang itu pula, layar proyektor di aula pesantren sesungguhnya sedang memperlihatkan sesuatu yang lebih penting daripada pertandingan yang berlangsung di dalamnya. Ia sedang menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya lahir dari kitab yang dibaca di hadapan guru. Ada kalanya pendidikan tumbuh dari kemampuan sebuah komunitas mengelola kegembiraan secara beradab. Gus Dur tampaknya sudah melihat kemungkinan itu sejak lama. Ia tidak menulis sepak bola untuk memuliakan olahraga, melainkan untuk mengingatkan bahwa kebudayaan, betapapun populernya, selalu dapat menjadi jalan menuju hikmah apabila dibaca dengan nalar yang jernih.

 


Ariby Zahron

Penulis adalah santri aktif di Pondok Pesantren Miftahul Huda sekaligus mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Malang

Bagikan